Operasi Sesar Meningkat Style atau Kebutuhan?

Dalam dua tahun terakhir ini, trend (kecenderungan) kelahiran dengan operasi sesar di Indonesia mengalami peningkatan tajam. Tak terkecuali di Aceh. Adakah ini suatu kebutuhan, atau hanya style/trendi?

Oleh Dr. dr. Mohd. Andalas Sp.OG FMAS

Sejak dua tahun terakhir ini, kecenderungan kelahiran melalui proses operasi (sesar) mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Bila ditilik dari filisofi suatu tindakan atau produk, maka jelas berbeda proses alami dengan proses artifisial. Menurut saya masyarakat perlu untuk memahami dengan baik untung ruginya bila seseorang memilih operasi sesar tanpa alasan.

Trend di dunia pada umumnya, di sebuah rumah sakit pemerintah angka operasi sesar masih di bawah 20 persen. Di Indonesia, harusnya tidak jauh berbeda dari angka itu. Tapi data mengatakan perbedaan. Angka tersebut meningkat tajam dari batasan, seperti di RSUZA Bandaaceh, di atas 30 persen. Gambaran yang sama juga diberikan BPJS Kesehatan yang dikonfirmasi soal ini.

Di Indonesia, data dari Kemenkes RI, angka kejadian operasi cesar mengalami peningkatan pada tahun 2000 jumlah ibu bersalin dengan operasi cesar 47,22%. Namun hasil survei Nasional pada tahun 2009, sebanyak 921.000 persalinan dari 4.039.000 persalinan (22,8%), dilakukan dengan operasi cesar. Sementara WHO telah menetapkan indikator persalinan caesaria 5–15% untuk setiap negara.

Dari data peningkatan angka operasi sesar tersebut, terlihat adanya pergeseran proses persalinan alami kepada proses artifisial sesar. Apa faktor yang mendasar penyebab meningkatnya persalinan buatan ini? Karena seharusnya sebahagian besar persalinan dapat secara normal /alami. Di masa lalu, umumnya persalinan dibantu oleh dukun beranak (mablien-Aceh, paraji-Sunda), dan pada masa kini dilakukan oleh bidan dan hasil luarannya juga dapat dipertanggung jawabkan. Dapatkah dibenarkan angka tersebut? Menjadi sebuah pertanyaan karena terjadi perubahan mencolok dari sebelumnya.

Edukasi Promotif Kesehatan

Yang menjadi pertanyaan bagi penulis, adakah yang salah dalam pemeriksaan kehamilan seorang ibu, sehingga temu muka dengan bidan/dokter sebagai ajang proses edukasi dan promotif kesehatan tidak berjalan baik? Seharusnya edukasi terkait perawatan kehamilan, persalinan, nifas dan juga kemungkinan jalannya sebuah persalian dipahami baik oleh ibu hamil tersebut.

Harapan dari proses edukasi rutin selama sembilan bulan, sebanyak 4 sampai 10 kali, minimal 4 kali sesuai dianjurkan badan kesehatan dunia (WHO), akan membuat ibu hamil dan keluarga sudah mantap terkait cara persalinan, pilihan tempat persalinan dan segala hal yang dipersiapkan disaat persalinan.

Bila edukasi kesehatan reproduksi yang baik didapat para ibu hamil selama proses perawatan sembilan bulan, penulis yakin mereka tidak begitu terpengaruh dengan berbagai isu-isu negatif dari kisah persalinan yang menakutkan, terutama para calon ibu pemula, sehingga mereka takut untuk persalinan normal. Atau apakah tingginya angka operasi sesar karena kesabaran penolong persalinan yang semakin menurun, sehingga tidak mau menunggu proses persalinan alami yang membutuhkan waktu sampai 24 jam, tapi langsung mengambil jalan pintas dari jendela/operasi sesar?

Umumnya trend para ibu muda sekarang tidak lagi mau direpotkan dengan rasa sakit saat proses bersalin, sehingga meminta jalan pintas melahirkan bayi dari jalur jendela/perut, yang lazimnya tidak demikian, mengingat berbagai risiko komplikasi akibat tindakan operasi yang mungkin terjadi.

Bila disimak, baik dari proses menuju kelahiran bayi dari seorang ibu, penuh perjuangan. Dan ini bisa terlihat saat bayi terlahir, maka rasa gembira pascasukses perjuangan melahirkan secara normal, mampu seketika menghilangkan rasa sakit yang begitu hebat ketika bayi dilahirkan. Rasa haru dan bahagia yang tiba seiring kelahiran tersebut membuat secara spontan sang ibu dan suami meneteskan airmatanya tanpa mereka sadari.

Mungkin ini sebagai wujud sukses dari sebuah proses panjang dengan penuh perjuangan, mulai mual muntah di saat hamil muda, sampai masuk di proses kehamilan. Bila dikaji lebih dalam lagi, proses reproduksi adalah sebuah mukjijat dari Allah.

Kehamilan, Bersalin dan Keajaiban

Dapatkah kita sebagai insan yang berilmu menyadari napak tilas proses awal reproduksi? Dimulai dari proses pembuahan, nidasi atau tertanam di rahim, dan tumbuh menjadi embrio selama delapan minggu awal. Mulai merasakan bergerak saat 18 minggu dan tumbuh berkembang di dalam rahim usia 280 sampai 294 hari atau 42 minggu paling lama.

Terjadinya proses adaptasi perubahan hormonal dari seorang ibu hamil, sehingga tubuhnya dapat merawat proses konsepsi sampai jatuh tempo selama 280 hari, lalu dengan seketika saat waktu tiba usia cukup bulan (kehamilan 9 bulan), struktur kadar hormonal berubah, membuat rahim sensitif untuk respon hormonal berkontraksi untuk mulai sebuah proses persalinan, untuk proses lahirnya khalifah di muka bumi menjadi petunjuk tentang kebesaran Allah.

Keluhan rasa sakit dan haru ini tidak akan pernah dialami kelompok ibu dengan proses operasi sesar terkait kisah proses perjuangan yang dialami setiap wanita calon ibu, sehingga memberi nilai positif khusus tersendiri dari peran ibu dan dapat berbagi kisah kejuangan perannya dalam merawat kehamilan sampai melahirkan.

Pemerintah sendiri memberi apresiasi tinggi bagi kaum ibu melalui sebuah gerakan Rumah Sakit Sayang Ibu demi optimalisasi persalinan sehat dan bersih. Meminta suami ikut mendampingi istri dalam persalinan untuk memberi semangat ibu dalam proses persalinan tersebut. Kegiatan ini juga menjadi ajang penilaian khusus yang bergengsi bagi sebuah rumah sakit dalam upaya menurunkan angka kematian ibu di Indonesia yang masih tinggi, dibandingkan negara lain di Asean.

Dampak pendampingan memberikan pengaruh positif begitu tinggi yang sekaligus meningkatkan rasa sayang suami pada istri, sesuai komitmen bersama yang dibuat saat di penghulu.

Sebenarnya, bila dilihat dari periodesasi waktu, tidak ada yang berubah sedikitpun dalam proses persalinan di masa dulu dengan sekarang. Menurut penulis, yang terjadi hanyalah daya kejuangan para ibu muda, terutama di kota-kota besar yang semakin berkurang, dengan alasan tak tahan rasa sakit dan berbagai alasan lainnya.

Faktor lain yang mendukung angka operasi sesar tinggi karena keyakinan masyarakat dengan operasi sesar yang relatif aman dibandingkan teknik operasi masa lalu. Misal untuk sebuah operasi harus menyiapkan transfusi darah yang saat ini sangat jarang, kecuali saat ada komplikasi, juga dapat dihubungkan dengan dampak berkembangnya obat anti sakit yang membuat seorang ibu pascaoperasi tidak merasakan rasa sakit.

Faktor kesabaran penolong persalinan juga sangat menentukan dalam meningkatnya angka operasi sesar saat ini. Akankah dengan alasan di atas tadi dapat dikatakan operasi lebih baik dari persalinan normal? Belum tentu! Karena tetap saja persalinan normal yang terbaik. Operasi sesar hanya pilihan persalinan bila terkendala pada proses kelahiran secara normal dan timbul berbagai risiko bagi ibu dan bayi, bila dilahirkan secara normal.

Persalinan normal itu aman sejauh ditolong oleh tenaga pelayanan yang profesional, karena dengan proses persalinan normal, seorang ibu dapat dengan mudah mobilisasinya pascabersalin, sehingga dapat merawat bayinya dengan memberi ASI ekslusif dengan sempurna.

Komplikasi Operasi

Perlu dipahami, pada sebuah operasi sesar dimulai sayatan pada dinding perut mulai dari kulit, sebagai lapisan terluar, sampai peritoneum atau batas dalam untuk menembus rongga perut. Dilanjutkan sayatan pada rahim seorang ibu, yang umumnya disayat segmen rahim bagian bawah yang lebih tipis, sehingga sedikit darah yang hilang. Proses operasi tadi tentu berisiko terjadi komplikasi seperti; pendarahan, infeksi pada luka operasi, dan berbagai risiko lainnya, misal dampak pembiusan, belum lagi rasa sakit pascaoperasi, selain faktor risiko berulangnya operasi pada persalinan berikut dan berbagai risiko lainnya yang tidak diharapkan.

Menurut penulis, pilihan lahir normal tetap yang terbaik, walau ada pendapat dengan pilihan normal, risiko penurunan organ panggul. Seharusnya tidak perlu takut bila persalinan ditolong oleh para tenaga terlatih yang paham kapan sebuah persalinan normal itu bisa ditolerir. Walau terjadi kemudahan dalam biaya persalinan dengan operasi, menurut penulis, situasi tersebut juga tidak menjadi alasan pilihan persalinan menjadi berubah.

Pengalaman menunjukkan, risiko pada tindakan operasi lebih banyak dari pada proses persalinan normal. Jadi alasan adanya kemudahan pembiayaan dan teknik operasi yang makin baik, masih kurang tepat untuk membuat perubahan dalam memilih persalinan dengan memilih sebuah cara alternatif trendi yang berisiko. *

Penulis adalah Dosen Senior FK Unsyiah/Wakil Ketua Tanfidhiah NU Aceh