Wabah DBD Meluas Ratusan Warga Dirawat

Nyamuk penyebar virus Zika. Foto: dok JPG

 

LHOKSEUMAWE (RA) – Sedikitnya 300 warga terpaksa dirawat dalam dua bulan terakhir ini di Lhokseumawe, akibat terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD). dr Helizar, Kabid Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingungan (P2PL) Dinkes Lhokseumawe, yang dikonfirmasi Rakyat Aceh membenarkan korban serangan nyamuk ini meningkat dalam dua bulan terakhir di Lhokseumawe. “Ya, pak. Meningkat jumlah korban,” katanya, Senin (5/9).

Menurutnya jumlah warga yang terjangkit telah mencapai 300 orang yang tersebar dibeberapa rumah sakit di Lhokseumawe. Ia berharap penangganan DBD bukan saja tanggungjawab petugas dinas kesehatan.

Ia mengajak masyarakat untuk menguras, menimbun dan membersihkan sarang – sarang atau jentik nyamuk. “Ini perlu gotong royong masyarakat membersihkan parit,selain adanya fogging. Pantauan di Rumah Sakit Melati, jalan Samudera Baru, terlihat anak anak terbaring lesu akibat serangan DBD. “Itu malah kakak beradik yang diserang DBD,” ujar seorang petugas medis.

Walikota Lhokseumawe, diminta serukan darurat DBD. Warga Lhokseumawe, harus berani gotongroyong membersihkan lingkungan masing-masing. “Walikota harus berani mengeluarkan intruksi gotongroyong karena meluasnya serangan DBD. Ya, darurat DBD lah, ” Rahmad, salah seorang warga.

Sementara itu, di Kabupaten Aceh Selatan kasus serupa juga terus meningkat. Data Dinkes, hingga September 2016, sudah tujuh penderita terserang DBD di Kecamatan Sawang.

Anggota DPRK Aceh Selatan meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat tidak tinggal diam dan melakukan upaya penanganan serius. Anggota Komisi C DPRK Aceh Selatan, Tgk. Adi Zulmawar mendesak Dinkes segera turun tangan untuk mengatasi virus yang ditularkan dari gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus ini.

“Pemerintah sudah menyediakan anggaran untuk mengatasi perkembangan wabah DBD dan DD, agar masyarakat terhindar dari penularan,” katanya.

Seharusnya, kata dia, upaya fogging dan penaburan serbuk abate rutin dilaksanakan Dinkes untuk memusnahkan vector infeksi pada kawasan rawan DBD dan DD. Dinas Kesehatan lambat dan nyaris tidak melaksanakan.

“Buktinya, sudah beberapa korban jatuh, namun hingga saat ini belum ada penanganan,” ujarnya.

Kalaulah seperti ini, lanjut Adi Zulmawar, pertumbuhan dan perkembangan jaringan nyamuk Aedes aegypti akan cepat menyerang masyarakat. Dikhawatirkan kasus DBD dan DD meningkat dan akan menelan korban jiwa.

“Karenanya, kami mohon pemerintah daerah segera turun tangan untuk menghindari jatuhnya korban.”

17 Penderita

Direktur Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Umum Daerah dr. H. Yuliddin Away (BLUD-RSUD-YA) Tapaktuan, dr. Faisal, Ap.An melalui Kepala Tata Usaha (KTU), T. Muzhar, SE, MM membenarkan kasus DBD dan DD mengalami lonjakan dibandingkan tahun lalu.

Hasil pemeriksaan laboratorium, katanya, penderita positif terjangkit DBD pada Agustus 2016 mencapai 12 orang, dan DD lima orang. Sementara September 2016 sudah terdata tiga kasus.

“Agustus, Kecamatan Sawang empat penderita DBD satu DD. Tapaktuan empat DBD dua DD. Selebihnya Samadua, Pasie Raja, Trumon dan Kluet Selatan. Dari 17 kasus DBD dan DD, diantaranya tiga orang anak-anak.

September ini, kata Faisal, baru tiga kasus, dua penderita DBD asal Gampong Ujung Kareung, Sawang dan satu lagi dari Pasie Raja. Dalam penanganan medis di RSUD Tapaktuan, seluruh pasien dinyatakan sembuh.

Kepala Dinas Kesehatan Aceh Selatan, Mardhaleta SE M.kes yang dihubungi Rakyat Aceh berjanji akan segera menindaklanjuti laporan warga untuk melakukan pengendalian. Sebelum dlaksanakan fogging (pengasapan), petugas harus melakukan penelitian, sehingga titik pengasapan lebih fokus.

“Segera kita turunkan tim untuk melakukan investigasi di daerah endemis dan yang tertular DBD. Kita juga akan melakukan fogging,” katanya.

Dia meminta masyarakat mengupayakan pembunuhan sarang nyamuk (PSN) dengan cara menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air, dan menimbun tempat penampungan/genangan air atau lazim disebut 3 M. (ung/dir/ara/mai)