19 Ribu Masyarakat Aceh Sakit Jiwa

RAKYAT ACEH/JPNN
ILUSTRASI

 
TAKENGON (RA) – Jumlah masyarakat menderita gangguan jiwa di Aceh masih terbilang tinggi. Hingga jelang berakhir September, tercatat lebih 19.000 orang tersebar di 23 kabupaten/kota.

Kepala Seksi Konseling Dinas Kesehatan Aceh Sarifa Yessi Hediyati, menyebutkan jumlah itu terbagi dalam berbagai faktor penyebab serta jenis ganguan jiwa. Dalam kegiatan penguatan dan pembentukan Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) kabupaten kota, Sarifa juga menyatakan dari total jumah masyarakat yang alami ganguan jiwa, 8.000 telah mampu mandiri.

“Setelah mendapatkan perawatan dari dinas kesehatan atau rumah sakit setempat, kendati demikian masih ditemukan puluhan penderita gangguan jiwa berat sehingga terpaksa dipasung pihak keluarga,” jelasnya.

Menurut Sarifa, Kabupaten Aceh Utara menempati peringkat teratas pemasungan penderita ganguan jiwa. Dalam kegiatan di ruang Serdakab Aceh Tengah, beberapa hari lalu itu, ia juga menjelaskan ada pasien yang telah dilepaskan namun kembali dipasung.

“Hari ini pasung di Aceh ada 96 orang, yang terbesar itu ada 38 orang di Kabupaten Aceh Utara, kemudian ada 28 pasien kambuhan yang sudah lepas beberapa tahun kemudian dipasung lagi,” jelasnya. “Itu karena kondisi sosial keluarganya (yang jadi penyebab gangguan jiwa) tidak ikut dibenahi.”

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan dari Dinas Kesehatan Aceh Tengah Retno Sukalilah menyebutkan, khusus di daerahnya ada 674 penderita gangguan jiwa. Angka itu terdata pihaknya hingga Juni lalu.

“Di Aceh Tengah itu ada 200 penderita gangguan jiwa, rata-rata berusia produktif dengan gangguan jiwa Skizofrenia (gangguan jiwa kronis). Terbanyak berada di Kecamatan Bebesen, Silih Nara dan di Kecamatan Kebayakan,” jelasnya.

Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Setdakab Rijaluddin menyebutkan, penanganan kesehatan jiwa perlu dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan, karena memiliki dimensi yang cukup kompleks dan membutuhkan banyak peran dari berbagai pihak.

“Penanganan kesehatan jiwa tidak mungkin hanya ditangani dinas kesehatan saja, namun perlu dukungan masyarakat, seperti tokoh agama dan tokoh adat, yang lebih penting partisipasi keluarga penderita,” jelasnya.

Disebutkan, kesehatan jiwa tidak hanya terkait masalah medis atau psikologis semata, namun mempunyai dimensi sosial budaya sampai dimensi spritual dan religius.

“Kami yakin keterpaduan TP-KJM Kabupaten/Kota akan dapat bekerja maksimal sehingga pasien ganguan kesehatan jiwa di Aceh Tengah dapat ditangani dengan baik,” kata Rijal. (jur/mai)