Foto: Pengurus Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Aceh

BANDA ACEH (RA) – Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Aceh akan mengirimkan 25 orang utusan untuk mengikuti Musyawarah Nasional atau Munas VIII di Balai Kartini Jakarta, 8 November 2016.

Ketua DPW LDII Aceh H. Heru Dwi S, SE menyampaikan, LDII Aceh ikut serta dalam Munas dengan mengirimkan 25 utusan. Mereka yang akan hadir, sesuai dengan undangan DPP, yaitu Dewan Penasehat DPW sebanyak 2 orang, Ketua dan Sekretaris DPW (2 orang), Ketua DPD Kab/kota seluruh Aceh sebanyak (20 orang), 1 orang dari unsur Ketua Pembinaan Generasi Penerus LDII 1 (satu) orang.

“Jadi utusan dari Aceh yang hadir pada acara munas tersebut yaitu sebanyak 25 orang,” ujar H. Heru didampingi Sekjen LDII Aceh, Marzuki, Rabu (2/10).

H. Heru menjelaskan, Munas kali ini akan dilaksanakan pada tanggal 8 s/d 10 November 2016 di Balai Kartini Jakarta. Salah satu tema yang diusung pada Munas kali ini diantaranya adalah Pengembangan Ekonomi Syariah untuk Pembangunan Indonesia Berkelanjutan.

Adapun latar belakang diambilnya tema tersebut, adalah Global Islamic Economy (2015) melaporkan bahwa pasar muslim dunia tahun 2013 sebesar USD 2 triliun atau 12 persen dari total pasar global.

Diperkirakan pada tahun 2019, potensi pasar muslim akan meningkat menjadi USD 3,735 triliun. Indonesia sebagai negara yang memiliki populasi muslim terbesar di dunia menempati ranking 10 besar berdasarkan berbagai indikator perekonomian Islam global. Ranking pertama ditempati oleh Malaysia. Ada enam sektor yang dijadikan sebagai indikator perekonomian Islam global, yaitu makanan halal, industri keuangan, travel, fashion, media dan rekreasi, serta farmasi dan komestik.

Di sektor makanan, belanja konsumen muslim Indonesia menempati ranking pertama di dunia dengan nilai belanja sebesar USD 190. Ranking kedua adalah Turki dengan belanja sebesar USD 168 juta dan ranking ketiga ditempati Pakistan dengan belanja sebesar USD 108, 2 juta. Belanja konsumen muslim Indonesia menempati ranking tiga dunia dengan nilai belanja sebesar USD 18,8 juta di sektor fashion.

Demikian pula di sektor media dan rekreasi, belanja muslim Indonesia menempati ranking dua dunia dengan nilai belanja sebesar USD 9,4 juta (Thomson Reuters, 2015). Indonesia ranking 10 negara dengan perekonomian Islam Global terbesar. Indonesia menempati ranking 9 negara dengan ekonomi dan keuangan Islam terbesar di dunia.

Potensi sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia ternyata belum mampu menempatkan Indonesia sebagai negara dengan kekuatan ekonomi dan keuangan Islam terbesar di dunia. Negara-negara Islam dan bahkan non-Islam terus menunjukkan peningkatan kegiatan ekonomi dan keuangan Islam di negaranya, disertai dengan regulasi, pengembangan institusi, dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Indonesia baru bisa menjadi negara dengan konsumsi atau belanja muslim terbesar di dunia di sektor makanan, ranking dua di sektor media dan rekreasi, dan ranking tiga di sektor fashion.

Potensi belanja muslim di Indonesia semestinya diikuti oleh perkembangan industry ekonomi dan keuangan syariah agar potensi tersebut tidak justru dimanfaatkan oleh industry ekonomi dan keuangan syariah global.

Akhirnya, Indonesia hanya sebagai surganya belanja industri ekonomi syariah dunia dan belum menjadi kekuatan sektor ekonomi dan keuangan syariah di dunia. Indonesia memiliki potensi untuk pengembangan ekonomi syariah di sektor makanan, fashion, media dan rekreasi, serta travel.

Indonesia menjadi negara dengan ranking ketujuh tujuan wisatawan muslim dunia. Potensi tersebut dapat diwujudkan dengan kerjasama semua pelaku industri ekonomi dan keuangan syariah dan dukungan dari pemerintah.

Lebih lanjut disampaikan, LDII memandang bahwa diperlukan sinergi antar pelaku ekonomi, pemerintah, ormas Islam, dan perguruan tinggi untuk mendorong perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia lebih maju dan memiliki daya saing di pasar global.

Melalui focus discussion group yang akan diselenggarakan oleh LDII, diharapkan muncul pemikiran-pemikiran dan langkah-langkah-langkah nyata untuk mengembangkan sektor riil, UKM dan industri sebagai motor penggerak tumbuhnya ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia agar bisa bersaing di pasar global. (mag-69)