Persiraja dalam Pusara Pilkada

Ichsan Maulana

Oleh: Ichsan Maulana

SEPANJANG sejarah dunia persepakbolaan dunia, politik senantiasa hadir mewarnai wajah sepakbola itu sendiri. Pergumulan politik dan sepakbola seolah semacam sebuah takdir yang tidak bisa dipisahkan. Sekalipun oleh FIFA sendiri mencoba memisahkan keduanya. Lahirnya jarg­­on serta kampanye “kick politic out football” adalah sebuah upaya untuk memisahkan politik dan sepakbola. Sayangnya, itupun terasa begitu naïf. Skandal korupsi yang menggoyang FIFA akhir-akhir ini yang memaksa Sepp Bletter harus mangkat dari kursi empuknya sebagai presiden FIFA, tidak terlepas daripada politik kotor dalam proses bidding Piala Dunia. Di lain sisi, industri liga-liga besar top dunia juga senantiasa mempolitisasi sepakbola, dimana hak siar menjadi dagangan yang mengiurkan.

Di Indonesia sendiri, persoalan politik dan sepakbola juga bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Atmosfer sepakbola Indonesia yang menggairahkan dengan penonton ramai dan fanatik dianggap sebagai peluang untuk menancapkan hegemoni politik tertentu dalam memperoleh suara untuk mengatrol kemenangan. Kiat-kiat dan polanya pun disusun, mulai dari menempatkan kader-kader partai di dalam struktur organisasi sepakbola, mulai dari level nasional hingga daerah. Juga, mengusahakan kepemilikan klub sepakbola. Yang terpenting adalah perhatian terhadap sebuah klub. Pola seperti ini boleh dikatakan terjadi di seluruh daerah.

Lantas bagaimana korelasinya dengan Persiraja dan Pilkada Banda Aceh yang akan berlangsung sebentar lagi? Persiraja masih merupakan sebuah klub besar dengan rentetan sejarah panjang yang mewarnai perjalanannya. Sebuah klub yang harum namanya, terutama, di era 80-an. Kala itu, era perserikatan namanya, Persiraja keluar sebagai juara setelah mengalahkan Persipura dengan skor 3-1. Nama besar persiraja masih melekat sekalipun gaungnya tak segarang dulu.

Pilkada Banda Aceh yang akan berlangsung dalam waktu dekat diikuti oleh dua pasang kandidat. Persiraja yang sedang berlaga di putaran 16 besar ISC B menjadi salah satu arena untuk memikat perhatian publik, dengan menyasar segmen pencinta Persiraja. Menariknya adalah, dalam proses memikat pencinta Persiraja, agaknya, masing-masing calon mencoba menonjolkan salah satu dari pasangan mereka. Bila yang satunya melalui calon walikotanya, maka, yang satunya lagi via wakilnya.

Kerapkali, keduanya hadir saat pertandingan Persiraja berlangsung. Dan juga, konon kabarnya ada yang telah membantu Persiraja melalui bonus kepada para pemain. Satu sisi, ini positif, mengingat, para pemain yang masih didera penunggakan gaji, minimal, bisa hidup dari uang bonus sekalipun jumlahnya amat terbatas.

Segmen supporter sepakbola dengan mengaitkan instrumen ‘siapa yang paling peduli’ dengan ‘fanatisme terhadap klub’; Persiraja coba dimainkan. Sekalipun kita tidak pernah tahu tingkat ketulusan hati seseorang. Anggaplah, husnudzan dengan positif thinking bahwa ianya benar peduli dan tulus. Persoalan kemudian adalah, belum adanya kesinambungan kepedulian dengan berbagai macam hambatan. Salah satunya adalah, di Indonesia tidak lagi dibenarkan menghidupkan sebuah klub menggunakan anggaran daerah. Paradoksnya, jika anggaran daerah tidak lagi dibenarkan secara peraturan untuk membiayai sebuah klub agar tetap eksis, langkah apa lagi yang bisa digunakan untuk membenahi Persiraja (selain bonus)? Berharap uluran tanggan dari perusahaan yang ada di Banda Aceh, pertanyaannya bukankah sedikit sekali perusahaan besar yang ada di Provinsi Aceh? Juga Banda Aceh. Andai pun ada, siapa yang berani menjamin Persiraja akan dibantu secara kontinyu. Kemudian, apakah hanya bermodalkan rekom dengan nota ‘tolong dibantu’ Persiraja oleh (siapapun yang akan menjadi pemenang pada pilkada Banda Aceh) Persiraja akan sehat dan menjadi klub menakutkan? Rasa-rasanya, berat untuk menjawab pasti apalagi mengklaim bahwa ‘kalau saya terpilih Persiraja akan sehat’.

Persoalan klub kebanggaan kita tentulah sebuah persoalan yang kompleks. Memerlukan perhatian ekstra oleh segenap elemen masyarakat dan stakeholder. Namun, satu hal yang pasti, Persiraja membutuhkan perhatian yang tulus! Dan kontinyu! Kita tidak ingin Persiraja hanya dijadikan komoditas politik siapapun dan demi kepentingan sesaat. Namun, setelah terpilih Persiraja tetap saja hidup segan mati tak mau. Jangan mengeksploitasi fanatisme para penikmat dan pencinta sepakbola hanya sebagai anak tangga menuju singga(h)sana. Sekali lagi, ini adalah harapan bersama, baik penulis sendiri maupun masyarakat umumnya. Tidak sedang ingin men-judge, anggaplah ini layaknya alarm peringatan agar sepakbola Aceh, sekalipun naïf memisahkannya dari politik, adanya sebuah simbiosis mutualisme yang seimbang dan saling menguntungkan. Kita tidak ingin, hanya menguntungkan klub di saat menjelang hari H pesta demokrasi, lalu, diabaikan dengan bermacam dalih. Namun, sekali lagi, diperhatikan secara berkesinambungan.

Bukankah sudah ada bukti bahwa supporter tanpa menggunakan atribut dan nama kelompoknya ketika datang ke bilik suara, akan dengan senang hati memilih calon yang peduli dan sevisi dengan hobi dan passion-nya. Di Banda Aceh, bukankah sudah pernah satu atau dua orang atau juga lebih yang memenangkan pesta demokrasi pada pemilihan legislatif beberapa waktu yang lalu? Apa yang diperoleh tidak terlepas dari pada kepeduliannya terhadap sepakbola dan benar mencintai sepakbola. Bukan lips service semata menjelang pilkada.

Mudah-mudahan, apa yang terjadi di Italia sana, antara Silvio Burlosconi dan AC. Milan tidak terulang dan terjadi di antara kandidat dan Persiraja dalam narasi politik pilkada Banda Aceh. Burlosconi yang menjadi Perdana Menteri (PM) melalui partainya Forza, tidak terlepas dari pada kecerdikannya memoles Milan kala itu menjadi sebuah tim yang ditakuti dan memenangkan berbagai gelar. Simpati dari pendukung Milan yang notabene berjumlah sangat banyak mengalir padanya. Di bawah asuhan Fabio Capello, Milan menjuarai Liga Champion 1993-1994, di saat yang sama pula Berlusconi menjadi PM Italia. Di tahun 2001 Berlusconi kembali terpilih menjadi PM. Menariknya, tahun 2002-2003 Milan kembali menjadi juara Liga Champion plus scudetto di tahun 2003-2004. Namun, ketika Berlusconi jatuh, Milan pun ikut menurun bahkan terseok-seok di papan tengah. Ada kausalitas antara Berlusconi yang digdaya karena kekuasaanya dengan prestasi Milan nan menjanjikan kala itu.

Lagi-lagi, kita tidak berharap pola seperti Berlusconi dan Milan di Italia terjadi di Banda Aceh dengan Persiraja. Persiraja diperhatikan dengan intens di masa pilkada terutama saat-saat kampanye melalui pendekatan yang terstruktur, namun, berkilah dengan ragam dalih setelah terpilih. Dan, Persiraja diperhatikan meunan-meunan ala kadar. Karena, sejauh ini, belum ada satu pun kandidat yang berani hitam di atas putih dengan materai yang berjanji; “Seandainya saya terpilih dan Persiraja tidak saya perhatikan, maka saya siap dan menjamin pasti akan mundur.” Entahlah.

***

Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembagunan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh.