MAISIH MENETAP: Gajah liar berasal dari pengunungan Panca, Aceh Besar, masih menduduki kawasan perkebunan Gampong Andeu, Kecamatan Mila, Kabupaten Pidie, Ahad (13/11) ZIAN MUSTAQIN/RAKYAT ACEH

Sigli (RA) – 25 gajah liar berasal dari pengunungan Panca, Kabupaten Aceh Besar, masih menduduki kawasan perkebunan Gampong Andeu, Kecamatan Mila, Kabupaten Pidie. Warga setempat memperkirakan, kawanan gajah telah berada di hutan kecamatan itu selama dua bulan.
Resah amuk gajah, warga setempat berjaga-jaga di kebun mereka. Conservation Respon Unit (CRU) Mane, Dinas Kehutanan (Dishut) Pidie, dibantu relawan Ranger dan masyarakat sadar konflik satwa, sudah berulang kali melakukan penggiringan terhadap mamalia besar tersebut.
Saini, warga Andeu, mengatakan dirinya beserta beberapa warga lainnya setiap hari menjelang sore dan malam berada di kawasan perkebunan guna menjaga kebun warga. Menurutnya, puluhan gajah sering terlihat berkeliaran di kawasan perkebunan. Walau sering dilakukan pengiringan kembali ke hutan, namun gajah tetap kembali.
“Sudah dua bulan bang mereka (gajah) di sini, kami selalu jaga kebun jika malam tiba dengan membakar api, tapi gajah itu tak kunjung pergi. Pihak Dishut, CRU dan Rangger juga sudah berulang kali melakukan penggiringan, tapi tetap saja kembal lagi,” sebutnya.
Ia berharap, pemerintah kabupaten segera memiliki solusi kongkrit untuk penyelesaian tersebut, sehingga warga bisa bekerja secara normal lagi. “Semoga Pemkab ada solusi cepat bagi kami, biar bisa berkebun tanpa ada kewaspadaan lagi,” harap Saini.
Diberitakan sebelumnya, 15 gajah yang terpecah dalam tiga kelompok, merusak padi dan tanaman warga Kecamatan Mane dan Geumpang, Kabupaten Pidie. Saat itu, Sekretaris Komunitas pengamanan hutan Pela Ranger Bengga, Teuku Boyhaqi menyebutkan gajah menguasai sejumlah Gampong di Mane, diantaranya persawahan Turue.
Koordinator Conservation Respon Unit (CRU) Mane, Hasballah S.HUt, menjelaskan selain beberapa kelompok gajah liar yang ada di Mane, kelompok gajah juga merusak kebun warga di Geumpang. Ia mengungkapkan, gajah sulit digiring ke hutan dikarenakan posisi gajah yang telah berpencar, sehingga harus dikumpulkan kembali menjadi satu kelompok, terangnya.
Sementara itu, kendala lainnya posisi kebun rakyat yang berdekatan dengan kawasan hutan menjadi alasan utama para gajah betah di lokasi tersebut.
“Kebun dan sawah dekat hutan, gajah kalau sudah dapat makanan enak, agak sulit untuk menyingkirkan kecuali maknannya sudah habis, maka dia akan pindah sendiri. Kami sudah mengerahkan pasukan Mahout dan Ranger dibantu warga setempat, karena posisinya gajah sudah berpencar membentuk kelompok baru, makanya sulit untuk digiring,” jelasnya Agustus lalu. (zia/mai).