Subsidi Habis, Persiraja Tuntut Gaji

TAMPIL BEDA: Skuat Persiraja Banda Aceh melakukan pose di luar kebiasaan sebelum bertanding dengan Perssu Sumenep di stadion H. Dimurthala, Banda Aceh, Sabtu (12/11). Dalam laga penutup 16 besar ISC B itu, Persiraja menang 3-0. ARIFUL USMAN/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Kiprah Persiraja Banda Aceh di babak 16 besar kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC) B memang sudah berakhir awal November lalu. Namun polemik masalah gaji pemain yang masih tertunggak menjadi perdebatan pemain dan pengurus.

Infromasi yang diperoleh Rakyat Aceh dari pelatih Akhyar Ilyas, para pemain dan pelatih belum menerima dua bulan gaji dan tiga bulan uang makan dari manajemen. Persiraja mengalami krisis karena hanya mengandalkan subsidi dana dari PT GTS -penyelenggara kompetisi Rp300 juta di babak 16 besar, sementara manajemen terus berusaha melobi berbagai pihak untuk meminta bantuan operasional Persiraja sejak awal kompetisi, namun hasilnya nihil.

Usai babak 16 besar berakhir, manajemen tim Laskar Rencong menunggu cairnya subsidi tahap akhir dari GTS, sebesar Rp50 juta untuk membayar hak pemain yang sudah bekerja keras membela Persiraja.

Namun informasi yang didapatkan, dana tersebut habis total menutupi denda dari komisi disiplin ISC yang ditandatangani langsung ketua Komdis Asep Edwin Firdaus. Keputudan sanksi Persiraja merujuk kepada pasal 64 ayat (1) huruf a dan b dan lampiran I kode disiplin ISC.

Sanksi dijatuhi akibat ulah buruk penonton, Persiraja dikenai denda sebesar Rp55 juta, denda kartu pemain Rp2 juta, pajak sebesar Rp1 juta, sehingga total menjadi Rp58 juta.

Rincinya, denda Rp10 juta berasal dari penonton Persiraja menyalakan kembang api di menit 83, saat pertandingan versus PSBL Langsa di penyisihan grup 22 September 2016.

Kemudian denda Rp15 juta, saat pertandingan versus PSIM Yogyakarta 7 Oktober lalu, dimana suporter Persiraja terbukti menyalakan petasan di menit 20, dan yang terakhir denda Rp30 juta saat menjamu PSCS Cilacap 4 November, karena terbukti terjadi pelemparan botol dan pecahan keramik dari arah tribun utara hingga melukai wasit.

Akibat krisis dana dan manajemen yang tak sanggup membayar denda tersebut, GTS akhirnya memotong dana subsidi tahap akhir untuk denda yang diterima Persiraja.

Tetap Tuntut Gaji Dilunasi

Kabar dana subsidi tahap akhir dari pihak GTS telah habis sudah tersebar ke pemain dan pelatih Persiraja Banda Aceh. Situasi ini membuat pemain terkejut, karena hak mereka belum dilunasi setelah membela Persiraja hingga tuntas.

Pelatih Akhyar Ilyas mengaku sangat kecewa atas kondisi ini, padahal para pemain yang sudah pulang ke kampung halaman masing-masing masih sabar menunggu kabar cairnya dana tersebut.

Namun Akhyar meminta agar manajemen tetap membayar gaji tersebut, meskipun tidak semua tuntas, karena pemain sangat membutuhkan hasil kerja untuk biaya keluarga.

“Kami harap komitmen pengurus sebelum main 16 besar yang menyebut akan melunasi hak pemain sampai tuntas, meskipun tidak semua tetapi ada yang dibayar untuk tahap akhir ini,” ujarnya, Selasa (22/11).

Lanjut Akhyar, ia dapat memahami krisis yang sedang melanda Persiraja saat ini, namun persoalannya musim ini klub mendapat subsidi yang dijanjikan untuk gaji pemain, tetapi realisasinya tidak seperti hasil kesepakatan pengurus dan pemain sebelum turun 16 besar lalu.

“Kami tidak akan tinggal diam, persoalan krisis musim lalu kita ngerti. Tetapi musim ini ada dana subsidi, tetapi dana itu juga dipakai untuk operasional tim,” tambahnya.

 

Manajemen Minta Maaf

Manajemen Persiraja Banda Aceh pasrah atas situasi sulit yang masih menyelimuti klub berjuluk Laskar Rencong itu. Denda Rp55 juta yang dijatuhi Komdis ISC akibat ulah buruk penonton tak mampu dibayar pengurus, sehingga pihak GTS selaku operator kompetisi memangkas habis subsidi terakhir untuk Persiraja.

Persiraja yang hidup dibawah subsidi kini tidak mampu berbuat apa-apa, apalagi pihak manajemen masih menyisakan hutang saat persiraja melakukan laga tandang melawan PSIM Yogyakarta lalu.

“Hingga sekarang kami masih menunggak hutang tiket pesawat sebesar Rp37 juta saat berangkat ke Jogja lalu,” kata wakil ketua Persiraja Banda Aceh, Musri Idris saat ditemui, Selasa (22/11) di Banda Aceh.

Atas kondisi ini, pihak manajemen meminta maaf sebesar-besarnya kepada pemain karena hak mereka belum terlunasi, bahkan pihak pengurus mengeluarkan uang pribadi untuk menutup kekurangan Persiraja saat berkompetisi.

“Kami bukan tidak bekerja, hampir ke semua pihak kami kirim surat untuk minta bantuan Persiraja namun tidak ada yang merespon. Kami berjuang agar Persiraja tetap berkompetisi, tetapi inilah hasil kerja kami masih banyak kekurangan,” ujarnya.

Masih Musri, ia menambahkan, sejak penyisihan grup ISC B, Persiraja hanya mendapat bantuan dari Bank Aceh Rp50 juta, KONI Aceh Rp20 juta dan Rp5 juta dari pecinta Persiraja. Padahal, kata Musri, pengurus sudah mengemis kemana-mana agar ada yang membantu, karena Persiraja sedang tampil di kompetisi level nasional.

“Ini hasil kerja semampu kami, kami saja tidak bergaji. Harus ada saling pengertian lah kondisi yang tidak optimal karena dana terbatas,” tegasnya. (mag-69/rif)