BERTAHAN: Pedagang melayani pembeli kebutuhan pokok di Pasar Peunayong, Banda Aceh, Rabu (23/11). Melonjaknya harga cabai merah dipasaran diakibatkan cuaca dan kurangnya pasokan dari daerah membuat harga cabai bertahan di atas RP.80.000. ISHAK MUTIARA/RAKYAT ACEH/DOK

BANDA ACEH (RA) – Harga cabai merah di di Banda Aceh masih menunjukan ‘pedasnya’. Beberapa pasar harga salah satu bumbu masakan ini bertahan di atas Rp 80 ribu, sebelumnya sempat tembus hingga Rp 110 ribu.

Masih mahalnya harga cabai merah berimbas bagi para pedagang dan dikeluhkan ibu rumah tangga. Pedagang mulai mengurangi pasokan mengingat daya beli masyarakat melemah dan pembeli harus keluarkan biaya belanja lebih.

“Harganya terus naik turun. Empat hari lalu harga cabai merah naik menjadi Rp90.000/ kg dari sebelumnya Rp80.000/ kg. Cabai hijau naik dari Rp38.000 / kg menjadi Rp42.000 per kg ribu dan sekarang Rp65.000 /kg,” kata Sabri (43) pedagang pasar Penayong, Rabu (23/11).

Ia menyebutkan, naiknya harga cabai merah karena pasokan cabai dari Sumatera Utara berkurang. “Harga mahal karena cabai yang masuk kesini kurang,”sebutnya.

Selain itu, harga bawang merah juga ikut naik. Jika biasanya Rp28.000/kg, kini menjadi Rp34.000/ kg. Harga bawang putih juga naik dari Rp29 .000 / kg menjadi Rp 32.000/kg.

“Sedangkan harga telur stabil Rp32.000/kg papan (30 butir), harga minyak go­reng bertahan Rp12.000/kg dan gula pasir Rp13.500/kg,” sebutnya lagi.

Sementara itu, petani cabai di Kecamatak Kuta Cot Glie Aceh Besar mengaku gembira dengan naiknya harga cabai sehingga bisa menam­bah pendapatan keluarga. Sekali panen cabai merah om­setnya mencapai Rp6 juta.
“Ia harga cabai mahal, harga Rp75.000/kg hingga Rp80.000/kg. Saya telah memperoleh keuntungan dari hasil produksi cabai Rp 6 juta lebih. Modal sebelumnya Rp12 juta. Saya memprediksi dapat memperoleh keuntungan hingga Rp50 juta. Karena harganya terus melonjak,” sebut Ridwan petani cabai. (ibi/min)