TINJAU PROYEK: Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basuki Hadimuljono (kanan) menjelaskan maket sistem Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) pada Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani (kiri) dan Walikota Banda Aceh non aktif, Illiza Sa'aduddin Djamal (tengah) saat meninjau proyek di Gampong Jawa, Banda Aceh, Kamis (24/11). ENO SUNARNO/RAKYAT ACEH

Banda Aceh (RA) – Proyek dua tahunan, Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) di Gampong Jawa, Kecamatan Kuta Raja, Banda Aceh direncanakan selesai Oktober tahun depan. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, menyatakan komitmennya akan terus membantu Banda Aceh dalam menyelesaikan pembangunannya.

“Pembangunannya sudah dimulai, Oktober 2017 direncanakan selesai. Pak Menteri PUPR menyatakan komitmennya untuk terus membantu proyek ini,” sebut Illiza Sa’aduddin Djamal, Kamis (23/11).

 

Walikota Banda Aceh non aktif itu, mendampingi Basuki Hadimuljoni dan Menteri Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani melakukan peninjauan IPAL. Dalam kesempatan itu, Illiza menjelaskan proses pembangunan IPAL pada kedua menteri tersebut. Basuki Hadimuljono dan Puan Maharani, hadir ke Banda Aceh juga dalam rangka konferensi City Sanitation Summit (CSS) XVI.

 

Terkait pembangunan IPAL, Illiza menyatakan selama ini tidak ada kendala dalam berkomunikasi dan koordinasi dengan Menteri Basuki. “Alhamdulillah, pak menteri selama ini terus mendukung pembangunan Banda Aceh, beliau juga berkomitmen mambantu Banda Aceh di masa yang akan datang,” katanya.

 

Sementara itu, Menteri Puan Maharani menyatakan apresiasinya terhadap pembangunan Banda Aceh selama ini. “Beliau juga memberikan semangat agar pembangunan Banda Aceh lebih baik lagi,” sebutnya.
Menurut Illiza, proyek IPAL memiliki empat zona, mulanya diselesaikan dua zona. Anggaran yang diperlukan Rp100,9 miliar. Tahap pertama pemasangan instalasi pipa dari Peuniti hingga ke Gampong Jawa.

 

Lewat sistem IPAL ini, limbah rumah tangga di Banda Aceh dimanfaatkan menjadi pupuk dan gas metan.
“Limbah rumah tangga seperti air buangan dan tinjakan tidak perlu lagi diangkut dengan mobil. Sistem ini pipa sambungan rumah (SR) langsung tersambung ke pipa induk, jadikan lebih nyaman,” ujar Illiza.

 

Tahap pertama, Kementerian PU menargetkan 2.000 sambungan. Illiza berharap masyarakat dapat bersabar dan memahami pengerjaan proyek ini. Sebab akan ada pengalian tanah untuk pemasangan pipa.
“Pembangunan ini dananya dari APBN, semoga kota ini (Banda Aceh) akan semakin teratur sehingga lingkungan kita benar-benar terjaga dengan baik,” sebutnya.(mai)