PERBURUAN GAJAH: Warga melihat tulang gajah jantan tanpa gading di Glee Barat, Gampong Jijiem, Kecamatan Keumala, Kabupaten Pidie, Aceh, Rabu (30/11). Diduga gajah ditembak sebelum dimutilasi dan gading diambil pelaku.ZIAN MUSTAQIN/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Temuan bangkai gajah di Glee Barat, Gampong Jijiem, Keumala, Kabupaten Pidie, mengundang keprihatinan praktisi lingkungan Fendra Tryshanie. Menurutnya, jamak konflik yang terjadi antar gajah dan manusia diakibatkan pengalihan lahan.

Ia menjelaskan, gajah tidak tinggal di hutan lebat, melainkan kawasan yang memiliki palem sebagai makanan kesukaannya. Jadi wajar, bila gajah mendatangi perkebunan warga.

“Terjadi konversi lahan untuk perkebunan yang sebelumnya menjadi lahan gajah mencari makan. Karena gajah tidak tinggal di hutan yang lebat,” jelasnya.
Ia menambahkan, kawanan gajah punya kebiasaan untuk menjelajah hutan untuk mencari makan dan mendiaminya. Durasinya untuk menempati suatu lahan, tidak menentu.

“Gajah memiliki kebiasaan untuk menjelajah mencari makan dan tempat tinggal. Kadang sebulan, dua bulan dan bahkan tiga bulan,” sebutnya.

Ia menyarankan, bangkai gajah yang ditemukan tersebut harus segera dikuburkan. Fendra memperkirakan, bila bangkai gajah tidak dikubur, akan ada kawanan gajah yang akan datang.

“Sebelum bangkai tersebut dikuburkan, kawan gajah akan tetap menunggu. Hal ini sama seperti sifat manusia,” imbuhnya. (mag-68/mai)