Aduh, Atlet Aceh Terindikasi Doping

BANDA ACEH (RA) – Kabar tak sedap datang dari Dispora Jawa Barat selaku tuan rumah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 yang selesai digelar September lalu. Isu penggunaan doping menggemparkan dunia olahraga lima tahunan itu.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Jawa Barat, dikutip Kendari Pos (jawa pos grup), Yudha Saputra mengatakan, ada 12 atlet terindikasi doping yang berasal dari tujuh provinsi, yakni Jawa barat, Jawa tengah, Aceh, Kepulauan Riau, Bengkulu, dan Bangka Belitung.

“Kalau dari hasil laporan laboratorium India itu, Jawa Barat ada empat atlet, Jawa Tengah tiga atlet, sementara provinsi lainnya masing-masing hanya satu atlet. Sementara untuk cabornya dari menembak, binaraga, angkat besi, dan berkuda,” ujarnya.

Namun soal nama atlet, Yudha belum bersedia menyebutkan. “Kami belum bisa menjelaskan nama-nama atlet tersebut. Masih menunggu pertemuan dulu antara LADI dan Kemenpora terkait hal ini. Setelah itu mereka yang akan mengumumkan siapa saja atlet terkait,” tutup Yudha.

Saat ini, Panitia Besar Pekan Olahraga Nasional (PB PON) bersama KONI Pusat masih tengah menunggu hasil autentik tes doping resmi dari India.

Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kementerian Pemuda dan Olahraga Gatot S Dewa Broto menyebut, bila dibandingkan dengan temuan pada PON sebelumnya, jumlah temuan kali ini merupakan temuan terbanyak, yaitu 12 sampel urine yang terindikasi positif.

Sebelumnya, pada PON Kalimantan Timur 2008 terdapat lima sampel yang positif mengandung zat doping. Sementara pada PON Riau 2012 terdapat delapan sampel urine yang positif mengandung zat doping.

Menurut jadwal, hasil autentik tes doping atlet peraih medali PON 2016 baru selesai di pekan pertama Desember 2016. Setelah dikirimkan ke India sejak PON 2016 selesai, September 2016.

Sementara itu, Ketua Umum KONI Jabar Ahmad Saefudin mengaku cukup kaget dengan hasil tes urine yang dilakukan terlebih beberapa diantaranya merupakan atlet asal Jabar. Padahal KONI Jabar sejak jauh-jauh hari atau sebelum PON XIX/2016 sudah mensosialisasikan terkait zat obat atau vitamin yang tidak diperbolehkan digunakan atlet.

“Kalau masih ada hal-hal seperti itu berarti ada yang tidak sinkron dengan apa yang kita sampaikan. Tapi saya yakin atlet kita ini tidak sengaja menggunakan zat doping tersebut. Bisa saja saat atlet terserang flu, mereka tidak sengaja meminum obat flu yang ternyata ada kandungan doping,” katanya dikutip Pikiran Rakyat. (jpg/mag-69/rif)