DAHLAN-JANTHO

Milad GAM tentu hari penting bagi Mualem, saban tahun ia hadir memperingati. Kemarin, mantan Panglima GAM ini hadir di Gampong Meure, Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar. Bersama puluhan mantan kombatan, ia ziarah makam sang deklarator.
Suaranya terbata-bata. Bahkan ia sempat berhenti menyampaikan amanatnya. “Aneuk yatim kombatan dan aneuk yatim korban konflik akan menjadi prioritas,” sebutnya, sambil kendalikan emosi, Ahad (4/12).

Selanjutnya, Wakil Gubernur Aceh non aktif itu kembali melancarkan pidato. Janji prioritaskan anak-anak korban konflik itu, akan ditepati bila ia terpilih pada Pilkada mendatang.

Pada warga dan mantan GAM yang berhadir, ia juga mengutarakan dirinya pernah diberikan perintah khusus oleh Wali Nanggroe Aceh Tgk H Muhammad Hasan di Tiro.
“Menjelang akhir saya di Libya. Paduka yang mulia (Hasan Tiro) panggil saya dan sampaikan perintah. Muzakir kemari sebentar, lidah telah saya potong tolong kamu sambung. Pulang dan bermusyawarahlah dengan ulama,” kisah Mualem dalam bahasa Aceh, sambil mengutip peryataan Hasan Tiro jelang kembali ke Aceh 12 tahun silam.

Ironisnya, harapan tersebut hingga saat ini belum dapat diwujudkan. Menurutnya, munculnya pengkhianat-pengkhianat perjuangan di tubuh GAM. Ia bahkan sempat menyebutkan dua tokoh GAM yang sebelumnya juga tergabung dalam PA dan KPA Pusat.

Mualem bertekad diperiode mendatang, jika dirinya dipercaya rakyat maka akan dilaksanakan sejumlah tuntutan pada pemerintah pusat sesuai MoU Helsinki.
*Turunkan Bulan Bintang
Sebelum menyampaikan pidatonya, Mualem sempat meminta bawahannya untuk menurunkan selembar bendera bulan bintang yang hendak dikibarkan di kompleks makam.

“Coba hentikan itu dulu (pengibaran bendera),” perintahnya. Ia bahkan sempat mengulang perintah, hingga tiga kali dengan suara tinggi.

Hasilnya, pengibaran bendera berukuran 1×1,5 meter itu batal dikibarkan. Hingga berakhir peringatan Milad tak lagi terlihat selembar bendera.

Bulan bintang memang sempat berkibar di jalur masuk dan tiang utama komplek makam. Disisipkan diantara bendera Partai Aceh (PA).

Kapolres Aceh Besar AKBP Heru Suprihasto, menegaskan pengibaran bendera berlambang bintang bulan itu tidak dibenarkan, dan jika terjadi pengibaran maka diminta dapat segera diturunkan. Jika tidak diindahkan terpaksa akan diturunkan aparat.
“Kita sudah sepakat untuk tidak mengibarkan bendera bulan bintang, kita berharap semua komit dengan kesepakatan tersebut,” kata Heru. (mai)