Dipicu Aktifitas Sesar Samalanga

PANTAU GEMPA: Petugas BMKG Mata Ie, terus melakukan pematauan gempa di Aceh, DOC. RA

BANDA ACEH-RAHasil analisa Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa gempa tektonik di Pidie Jaya dipicu akibat aktivitas sesar aktif. Koordinator Analisa Data BMKG Mata Ie, Aceh Besar, Rilza Nur Akbar menyebutkan gempa susulan terus terjadi. Hanya sekitar tiga jam usai gempa, setidaknya telah terjadi 20 gempa susulan.

“Gempa susulan yang kita hitung hanya berkuatan 5 SR, kalau yang terkecil banyak. Ini yang jadi kendala karena yang terkecil terus terjadi, garisnya rapat jadi analisa kita fokuskan pada yang besar dulu,”sebutnya, Rabu (7/12).

Sementara hasil analisis peta tingkat guncangan menunjukkan bahwa dampak gempabumi berupa guncangan kuat terjadi di daerah Busugan, Meukobrawang, Pangwabaroh, Meukopuue, Tanjong, Meukorumpuet, Panteraja, Angkieng, dan Pohroh pada skala intensitas III SIG-BMKG (VI MMI).

“Seluruh wilayah ini diperkirakan berpotensi mengalami dampak gempabumi berupa kerusakan. Ini sesuai laporan sementara dari zona gempabumi bahwa gempabumi ini memang menimbulkan kerusakan di berbagai tempat,”sebutnya.
Jika ditinjau dari ke dalaman hiposenternya, gempabumi yang terjadi merupakan jenis gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal.

“Berdasarkan peta tataan tektonik Aceh tampak bahwa di zona gempa memang terdapat struktur sesar mendatar. Ini sesuai dengan hasil analisis BMKG yang menunjukkan bahwa gempa Pidie Jaya dibangkitkan oleh aktivitas sesar mendatar (strike-slip fault). Dugaan kuat sesar aktif yang menjadi pembangkit gempa ini adalah Sesar Samalanga-Sipopok Fault yang jalur sesarnya berarah barat daya-timur laut,”ujarnya lagi.

Hasil monitoring BMKG menunjukkan tampak bahwa tren kekuatan gempabumi susulan semakin kecil, sehingga masyarakat dihimbau agar tetap tenang, selanjutnya mengikuti arahan BPBD setempat dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Gempa itu juga tergolong medium. Mengakibatkan banyak bagunan rusak akibat dipicu struktur tanah tidak padat.

“Menurut analisa data kita tanah di sana gembur dan baru, karena kontruksi bagunan kurang mendukung dengan tanah setempat, kekuatan gempa tergolong medium dan di sana pusatnya maka banyak bangunan runtuh,”sebutnya. (ibi/mai)