SEMENIT jelang azan berkumandang

MASJID ROBOH: Warga melihat Mesjid Gampong Meuko Kuthang, Meurdue, Pidie Jaya, hancur pasca gempa 6,5 SR, Rabu (7/12). IDRIS BENDUNG/RAKYAT ACEH

La Ilaha Illallah

BANDA ACEH-RASEMENIT jelang azan berkumandang, bumi berguncang. Bilal Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh masih terdengar suaranya dari pengeras suara sejumlah masjid. “La Ilaha Illallah!” lafalnya berulang, saat bandul jam persis pukul 05.30 WIB, Rabu (7/12).

Warga berhamburan keluar rumahnya. Panik. Histeris. Tangis anak-anak dan perempuan. Bercampur dengan lafal yang sama, “La Ilaha Illallah!”

Seluruh bangunan meliuk dan tanah terguncang 15 detik lamanya. Warga Banda Aceh di pesisir maupun perkotaan, memilih meninggalkan rumah mencari selamat. Begitu pula di pesisir Aceh Besar. Warga Kajhu, bahkan bersiap mengungsi. Jalan Banda Aceh-Krueng Raya sempat sesak kenderaan.

“Kami takut tsunami. Sebelum terjadi kami harus selamatkan diri,” kata Rahima, warga Kajhu.

“Masyarakat lari ke tempat yang aman seperti perbukitan dan ketinggian lainnya,” kata Pusdalops BPBD ACEH BESAR, Iqbal.

Walau di sejumlah titik listrik padam, untuknya, jaringan telekomunikasi masih menyala. Hingga informasi awal BMKG tersebar luas, bunyinya; magnitude 6.4 skala richter (sebelum update menjadi 6.5), 07 Desember 2016, pukul 05.03 WIB. Lokasi 5.19 Lintang Utara 96.36 Bujur Timur atau 18 kilometer dari timur laut, Kabupaten Pidie Jaya, kedalaman 10 kilometer.

“Tidak berpotensi tsunami,” kata itulah yang sedikit menurunkan kepanikan warga. Apalagi, para relawan radio amatir berdiri di persimpangan jalan, bahkan sosialisasikan info tersebut ke masyarakat pesisir; tsunami tak kembali.
Pusat gempa memang di Pidie Jaya, namun guncangannya dirasakan hampir seluruh Aceh. Tapi terkuat di Banda Aceh, Aceh Besar, Bireun, Lhokseumawe, Meulaboh bahkan hingga Simeulue.

Menurut Iqbal, secara keseluruhan Aceh Besar aman. Hanya satu rumah yang terdata mengalami kerusukan di Kecamatan Montasik, Desa Seubam Lhok. “Rumah milik Ainun 70 tahun. Roboh bagian terasnya saja, ini tergolong rusak ringan.”

Tak ada kerusakan berarti, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Besar mengirim 15 personilnya ke Pidie Jaya untuk membantu evakuasi korban.

“Tim kita juga akan terjun ke sana, tergabung dalam tim evakuasi di sana,” ujarnya.
Kepala BPBD Aceh Besar, Ridwan Jamil hingga kemarin sore, memastikan pihaknya belum menerima laporan korban jiwa.

Gempa tektonik Pidie Jaya turut dirasakan di Simeulue, kepanikan juga sempat terjadi. Khawatir bangunan rubuh, warga sempat keluar rumahnya. “Tadi pagi subuh, saya rasakan gempa bumi itu, saya kira hanya di Simeulue, ternyata berasal dari Pidie Jaya,” kata Suryani, ibu rumah tangga.

Sementara pihak BPBD Simeulue, sempat meminta pada seluruh warga pulau Simeulue untuk tetap waspada. “Meskipun sempat dirasakan, dan tidak ada dampaknya terhadap Simeulue, namun kita minta seluruh warga tetap waspada,” katanya.
Pihak RSUD setempat juga meningkatkan status menjadi siaga. “Untuk RSUD kita telah tingkatkan status menjadi siaga, dan seluruh dokter, dan stok obat-obatan tidak boleh lengah, kita takutnya nanti ada gempa susulan,” kata Dirut RSUD Simeulue, dr Irwansyah.

Rusak Parah
Meureudu, Ibukota Kabupaten Pidie Jaya rusak, sekira 170 KM dari Banda Aceh, porak poranda pada Rabu (7/12) dinihari, setelah gempa vulkanik berkekuatan 6,4 SR mengguncang wilayah tersebut. Puluhan rumah hancur, ratusan orang luka-luka, dan hampir seratus orang lainnya dikabarkan meninggal dunia.

Apriadi, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie mengungkapkan, kerusakan bangunan terparah berada di Kabupaten Pidie Jaya.

yang berat ini dikarenakan pusat gempa berada di kabupaten tersebut
Selain Pidie Jaya, beberapa daerah lainnya juga terdampak gempa. Dua daerah terparah selain Pidie Jaya Yakni Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Pidie. Sementara beberapa kabupaten lainnya, seperti Aceh Besar dan Bener Meriah juga terdampak.
Selain korban jiwa dan bangunan, guncangan gempa juga mengakibatkan ibu kota Kabupaten Pidie Jaya dan wilayah sekitarnya, seperti Ulee Gle, dan Samalanga mengalami kerusakan yang cukup parah. Korban jiwa terbanyak juga terdata berada di daerah-daerah tersebut.

Saat ini, BPBD didukung TNI/Polri masih mengevakuasi korban yang berada di reruntuhan bangunan. Tidak tertutup kemungkinan korban akan terus bertambah, mengingat banyaknya bangunan yang roboh.
Sementara itu.

RSUD Sigli juga dilaporkan kewalahan menerima korban luka-luka, setelah RSUD Pidie Jaya tak mampu menampung korban yang terus berdatangan.
Tak hanya bangunan, beberapa ruas jalan di Pidie Jaya terlihat mengalami kerusakan. Kerusakan jalan terpantau di kawasan antara Trienggadeng dengan Meureudu sepanjang hampjr 100 meter dengan lebar antara 5-10 centimeter, namun tidak mengganggu pengguna jalan, meski sempat terjadi kemacetan.

Sementara dari kawasan Samalanga, Kabupaten Bireuen, dilaporkan lantai dasar gedung Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al Aziziyah rusak, dan kubah masjid di Dayah Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah (MUDI) Masjid Raya, Desa Mideun Jok, ambruk.
Sejumlah santri dan guru, menurut Camat Samalanga, Jamaluddin, mengalami luka-luka. “Yang paling parah kerusakan gedung STAI Al Aziziyah dan kubah masjid MUDI. Sejumlah toko di kota Samalanga juga mengalami kerusakan berat,” jelasnya.

Bantuan Obat-0batan

Banyaknya korban luka-luka dan minimnya fasilitas di RSUD Pidie Jaya, membuat Kantor Kesehatan Pelabuhan II Lhokseumawe segera mengirim bantuan obat-obatan untuk penanganan korban gempa.

“Pidie Jaya salah satu dari 12 kabupaten/kota yang masuk wilayah kerja KKP II Lhokseumawe dalam pembinaan kesehatan haji,” ungkap Nurdin,Kasi Pengendalian Karantina Surveilance Epidemiologi KKP II.

Diharapkan obat-obatan yang diberikan ini dapat membantu memenuhi persediaan obat untuk menangani korban gempa.(ibi/mag-63/ahi/rah/mai)