Alya, Menggali Puing Menggapai Kehidupan

alya-nabilla-11-tahun

Bencana, apapun namanya, tentulah akan membawa kisah duka. Bencana alam, tak dapat diprediksi kapan akan datang, dan di mana. Menjadi rahasia dan kekuasaan Allah SWT. Termasuk siapa yang ‘terpilih’ untuk menjadi ‘syuhada’, dan siapa yang masih diberi kesempatan untuk menikmati hidup.

Ishak Mutiara – Meureudu

Rabu 7 Desember 2016, dinihari, bumi Aceh berguncang. Gempa berkekuatan 6,5 SR yang berpusat di Kabupaten Pidie Jaya, sekitar 170 KM sebeah Tenggara Banda Aceh, atau 100 KM ke sebelah Barat Kota Lhokseumawe, meluluhlantakkan Kota Meureudu, Ibukota Kabupaten Pidie Jaya, dan Ule Gle, serta Samalanga, Kabupaten Bireuen.
Puluhan bangunan runtuh. Puluhan orang syahid tertimpa reruntuhan. Sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka. Dari yang hanya memar, hingga yang harus menjalani operasi, karena patah tulang dan semacamnya.

Alya Nabilla, masih berusia 11 tahun. Warga Ule Gle ini masih belum faham betul arti bencana, musibah, perjuangan, hingga kehilangan. Namun Gempa Pidie Jaya telah menjadikan Alya, demikian dia biasa disapa, terpaksa harus memahami itu semua. Bahkan dia tak hanya harus memahami artinya, tapi juga harus menjalaninya.
Putri bungsi dari empat bersaudara ini, harus berjuang untuk dapat tetap hidup.

Merangkak dala kegelapan malam untuk dapat keluar dari reruntuhan bangunan rumah tinggalnya. Mencari celah untuk dapat keluar dari tumpukan material. Kedua orang tuanya, H. Ibrahim, 55 tahun dan Hj. Mariani, 43 tahun, tidak terselamatkan.

Kamis siang, sehari setelah gempa, Rakyat Aceh datang di prosesi pemakaman Hj. Mariani, di pemakaman Desa Kumba, sekitar 6 Km dari pusat pasar Ulee Glee, Bandar Dua. Ketika itu, Hj. Mariani ibunda dari Alya baru sehari sebelumnya, H. Ibrahim juga dimakamkan ditempat yang sama. Saat itu, Alya masih tertidur pulas. Mungkin karena kelelahan. Sukia Rahma, anak kedua dari pasangan ini yang menemani kami berbincang, hingga Alya muncul dari dalam kamar, dengan mata sayu dan beberapa luka dan memar di tubuhnya.

Tak ada tegus sapa, apalagi canda. Tatapannya kosong. Kamipun terdiam sejenak, memberinya waktu untuk duduk di pangkuan Sukia, yang kemudian mengelus kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

“Saya tengah tertidur saat gempa terjadi,” kata Alya tiba-tiba. “Tak ada tanda-tanda apapun. Sebelum akhirnya saya dikejutkan dengan guncangan keras dan suara gemuruh di rumah. Tembok rumah berjatuhan dn tiba-tiba gelap,” katanya. Dia serta ayah dan ibunya terbangun, bahkan sempat menggeser beberapa batu yang jatuh.

Tak lama, semua menjadi gelap dan hening. Alya berteriak memanggil kedua orang tuanya. Tak ada sahutan sama sekali. Sambil merangkak mengikuti celah yang terbuka dan memancarkan cahaya remang, Alya merangkak, mencoba keluar untuk menyelamatkan diri.

“Saya tak berhenti teriak memanggil ayah dan bunda. Tapi tak ada yang menjawab. Alya takut, sampai akhirnya ada suara sayub-sayub yang meminta Alya untuk terus merangkak. Entah suara siapa, Alya tak tahu. Tapi suara itu telah membuat Alya dapat keluar dengan mengikuti cahaya yang masuk diantara celah bangunan. Sementara ayah dan bunda enath di mana, Alya tak tahu,” katanya.

Saat bercerita, tak sedikitpun terlihat ada bayangan air di mata Alya. Entah karena dia memang kuat, entah karena memang air matanya sudah kering.
Usahanya tak kenal lelah Alya untuk dapat selamat ini pun berhasil. Perjuangannya beberapa jam di reruntuhan dengan harapan untuk tetap hidup memberi hasil, meski akhirnya dia harus kehilangan kedua orang tuanya.

Kini, berakhir sudah kisah indah Alya Nabilla bersama ayah bundanya. Alya harus rela atas kepergian orang tuannya dan harus hidup dengan ketiga kakak dan abangnya yang selamat.

“Sebenarnya tidak ada tanda apapun tentang gempa dan perpisahan kami dengan ayah dan bunda. Tak ada firasat kalau kami akan kehilangan orang tua kami. Yang ada cuma nasehat orang tua kepada anak,” kata Sukia.

“Saya masih ingat saat ayah minta saya membelikan tiga buah shower mandi, Biar kita mandinya enak nanti! Kata Ayah beberapa hari lalu,” kata Sukia

Kini, Alya harus tinggal bersama tiga orang kakaknya, Rahmawati (26), Sukia Rahma (23) dan Akmal Nulhadi (18). Mereka harus merawat Nayla dan menjelaskan kepada si bungsu, apa itu bencana, musibah, perjuangan, hingga kehilangan.

Alya bukan sendiri. Masih banyak Alya-Alya lain yang tersisa dari kisah Rabu dinihari di sepenggal wilayah Aceh! (ara)