Pasca Gempa 6,5 SR, Petani Pijay Mulai Tanam Padi Lagi

ILUSTRASI : Petani Meuredu Pidie Jaya masih mengandalkan alat tradisonal untuk meratakan tanah sawah sebelum ditanami padi. Sabtu (10/12) pagi. DOKUMEN RAKYAT ACEH

MEUREUDU (RA) – Hari ke-empat pasca gempa 6,5 SR mengguncang Pidie Jaya, aktivitas masyarakat mulai kembali berjalan. Selain kios, toko dan warung kopi mulai dibuka, begitu juga halnya dengan petani sudah turun ke sawah lagi menanam padi.

Seperti amatan Rakyat Aceh di Desa Beurawang dan desa sekitar dalam Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya, Sabtu (10/12) pagi.

Petani dan pemilik turun ke sawah untuk menanam padi dan meratakan tanah pakai alat tradisional -Creuh Unggok- atau garuan kayu dilengkapi belah sisir dari kayu dan besi.

Petani yang sudah turun ke sawah, ada yang meratakan tanah sawah sebelum menanam dan juga sudah siap ditanam padi. “Untuk menghemat biaya produksi petani, umumnya masih menggunakan alat tradisional Creuh Unggok,” ujar wakil ketua Kejruen Blang Udep Sare, Pudin Muhammad.

Pudin Muhammad juga sebagai anggota tuha peut Desa Beurawang mengharapkan, agar hasil panen padi musim ini hasilnya meningkat. Sebab musim lalu hasil panen menurun, dampak serangan hama tikus sehingga hasil panen merosot.

Lahan sawahnya seluas setengah hektar di empat lokasi saat panen lalu hanya dapat hasil cuma 2.2 ton dan turun drastis dari panen biasa mencapai sampai 4 ton.

Kondisi serangan tikus juga di Ulee Gle dan Meurah Dua. Untuk hama keong mas dan lain bisa diatasi petani dengan cara menyemprot racun.

Dikatakan juga, luas total sawah di wilayah Kejruen Udep Sare sekarang tinggal 38 hektare dari luas dulunya 40 hektar. “Seiring pengembangan kota, lahan sawah produktif banyak sudah beralih fungsi menjadi rumah, toko dan kantor,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Kejruen Blang Udep Sare Meureudu Pidie Jaya meraih juara III lomba Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Kejruen Blang se-Aceh, 17 November 2016 di Banda Aceh. (rah/rif)