86 Korban Gempa Masih Dirawat

Pasien korban gempa asal Pidie dan Pidie Jaya yang telah dioperasi dirawat di RSUD Tgk Chik Di Tiro Sigli, Selasa (13/12). ZIAN MUSTAQIM/RAKYAT ACEH

Sigli (RA) – Tujuh hari paska gempa berkekuatan 6,5 SR yang mengguncang Aceh, Sebanyak 86 korban tercatat masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tgk Chik Ditiro Sigli, Kabupaten Pidie, Selasa (13/12). Amatan Rakyat Aceh, rata-rata korban yang dirawat berusia dewasa.

Para korban yang menjalani perawatan ditempatkan di ruangan berbeda-beda. Di ruangan bedah wanita 21 pasien, bedah pria 32 pasien, ruang saraf sebanyak 19 pasien, ruang anak tiga pasien.
Selain itu juga ada korban yang dirawat di ruang THT/mata sebanyak lima pasien, di ICU dua pasien, sementara di ruangan kelas satu dan ruangan perintalogi masing-masing satu pasien. Hingga kemarin, kondisi korban beransur-ansur membaik, menunggu penyembuhan dan akan segera dipulangkan kembali ke kampung halamannya.

Wakil Direktur Bidang pelayanan, RSUD Sigli, dr. Ihsan S.POT, pada Rakyat Aceh, mengatakan sebanyak 86 pasien korban gempa bumi Pidie Jaya masih dirawat inap. “Mereka (korban) yang tinggal merupakan pasien yang masih dalam perawatan luka dan ortopedi, selain itu mereka juga akan menjalani perawatan fisioteraphy,” jelasnya.

Sementara 20 pasien lainnya meskipun sudah bisa dipulangkan, tetap diinapkan di rumah sakit akibat rumahnya hancur. Para dokter cemas, jika korban yang tidak memiliki rumah lagi dipulangkan, tidak kembali lagi ke rumah sakit untuk perawatan lanjutan.
Sehingga pihak rumah sakit menyediakan ruangan transit untuk korban yang tidak punya rumah lagi. “Ada 68 orang total yang kami operasi pemasangan pen, 20 diantaranya sudah dipulangkan, statusnya rawat jalan,” terang Ihsan.

Ihsan menjelaskan pihak rumah sakit tidak mengalami kekurangan obat-obatan dan fasilitas. Hal itu juga disebabkan rumah sakit terus mendapat bantuan obat dari para donatur.
“Mereka (korban) akan dirawat selama dua minggu, selama masa tanggap darurat dan kemungkinan ditambah lagi jika dibutuhkan. Masih membutuhkan ahli psikologi dan terapi trauma healing,” jelas dr. Ihsan. (zia/mai)