Kisah Hendri Ingin Sekolah Lagi

KORBAN GEMPA: Hendri bocah (14) korban gempa Pidie jaya duduk diatas kursi bersama ibu juga temanya di halaman Meunasah Tualada, Bandar Baru, Pidie Jaya bebrapa waktu lalu. RAKYAT ACEH/ISHAK MUTIARA

PIDIE JAYA (RA)-Suasana Gampong Tualada tak biasa. Sepi suara anak-anak mengaji. Sinar bulan tertutup awan, bekas area kekuasaan markas komando utama pasukan GAM di bawah pimpinan Almarhum Tgk. Abdullah Syafi’i itu semakin seram.

Ishak Mutiara – Meureudu

Tualada merupakan desa terpencil di pedalaman Lueng Putu, Ibukota Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Sepekan usai gempa 6,5 Skala Richter desa itu masih sepi dan jalanan gelap. Gempa susulan yang sering terjadi menyebabkan warga tak berani tinggal di dalam rumah. Plastik untuk menjemur padi dijadikan atap tenda darurat.
Di sudut desa, hanya meunasah (mushala) yang memancarkan cahaya.

Di situlah biasanya anak-anak mengaji, namun sejak bumi berguncang aktivitas itu belum terlihat lagi. Senin malam, empat hari setelah gempa, menggunakan sembilan unit mobil, dua diantaranya ambulan, para relawan Bantuan Serbaguna (Baguna) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Pusat memasuki Desa Tualada, sekira pukul 21.30 WIB. Langsung merapat ke meunasah.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,” ujar seorang tokoh Tualada, menggunakan pengeras suara meunasah. “Untuk semua warga, mohon ke meunasah malam ini ada pengobatan gratis,” sebutnya dalam bahasa Aceh, usai berkomunikasi dengan rombongan pengantar bantuan.

Sesaat kemudian, meunasah mendadak riuh serupa pasar Lueng Putu siang hari. Ratusan warga berbondong-bondong menuju lokasi pengobatan gratis. Dalam dinginnya malam, terlihat seorang ibu kesulitan menggendong seorang remaja lelaki memasuki halaman meunasah. Lalu mendudukkan putranya di kursi plastik.

Kedua kaki si anak terbalut perban putih yang telah lusuh dan berubah warna menjadi coklat.

“Pak, peu ubat lon (pak obati saya),” ujar bocah berusia 14 tahun, yang kemudian diketahui bernama Hendri itu, pada relawan Baguna. Ia sempat mengulang permintaannya, “pak peu ubat lon. Lon meujak sikula lom (pak obati saya, saya mau sekolah lagi),” katanya.

Hendri merupakan siswa kelas I di SMP Negeri Bandar Baru, terlahir dari keluarga kurang mampu. Ayahnya, Abdullah (45) hanya buruh tani. Sedangkan ibunya, Maulida (35) hanya mampu membantu suaminya sesekali. Sementara mereka memiliki enam anak yang masih kecil-kecil. Hendri sendiri anak ketiga.

Tanpa banyak tanya, relawan Baguna ini langsung menggendong Hendri dan membawanya ke dalam meunasah. Para dokter dan tim medis tengah memeriksa warga. Satu-persatu warga yang tengah menunggu giliran, tanpa dikomando mengalah, memberikan kesempatan agar bocah ini ditangani lebih dulu.
Hendri awalanya merupakan anak periang, rajin sekolah bahkan mendapat rangking satu. Kini ia harus menerima cobaan, kedua kakinya tak dapat lagi digerakkan untuk berjalan. Ia harus merangkak bila membutuhkan sesuatu.

Awal tragedi itu terjadi, tepat pada hari ketiga lebaran Haji, sekitar tiga bulan silam. Hendri bersama teman-teman seusianya bermain perang-perangan dengan menggunakan meriam bambu. Namun naas tidak dapat dihindari seiring denduman meriam bambu itu, ikut memuntahkan minyak dan tersembur api keselurah kaki dan pahanya Hendri. Tak banyak yang dapat dilakukan hanya raungan dan tangisan memecahkan suasana siang itu.

Beberapa saat kemudian, pihak warga dan keluarga membawa Hendri ke Puskesmas terdekat. Lalu dirujuk ke rumah sakit umum Sigli. Penanganan medis apa adanya menyebabkan kondisi Hendri belum berubah, maklum kemampuan keluarga untuk mendapat perawatan secara khusus sulit diperoleh. Keluarga sudah pupus harapan, saat ini hanya tinggal menunggu uluran tangan pihak-pihak yang bersedia peduli deritanya.

Ketua Tim Baguna Sidik Prabowo, pihaknya akan menindak lanjuti dan akan mengobati derita bocah malang tersebut, ia akan menyediakan tongkat atau korsi roda agar Hendri dapat berjalan, sembari mendapat perawatan yang layak di rumah sakit. “Kita akan tindak lanjuti keluhan bocah malang itu, kita fasilitasi agar perawatan Hendri berjalan baik dan hingga nantinya ia sembuh dan dapat bersekolah lagi,” kata Sidik di sela-sela pengobatan gratis di Gampong Tualada. (mai)