12 Tahun Tsunami Berlalu : Banyak Infrasruktur Dibiarkan Hancur

ILUSTRASI

KAJHU (RA) – Gempa dan tsunami yang meluluh lantakkan bumi Aceh sudah 12 tahun berlalu, dan kini sudah banyak perubahan setelah dilakukan perbaikan oleh pemerintah maupun NGO lokal dan NGO asing maupun oleh negara donar serta masyarakat.

Namun banyak infsrastuktur hingga kini masih dibiarkan hancur. Seperti 12 ruas jalan desa Baet, Krueng Cut, Aceh Besar sama sekali belum dibangun walaupun jalan tersebut hanya berjarak satu kilometer dari pusat kota Banda Aceh, yang notabene tempat Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) berada.

BRR merupakan sebuah badan yang diberi tugas untuk rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh (Rahab-Rekon) pasca gempa dan tsunami 12 tahun lalu.

Menurut tokoh masyarakat Desa Baet, Dusun Tgk Dicantek, pihaknya sudah beberapa kali mengusulkan proposal perbaikan jalan kepada dinas terkait, namun tidak mendapat tanggapan dihingga saat ini.

Padahal masyarakt desa ini juga korban gempa dan tsunami 26 Desember 2004 lalu.

“Pemeintah bersikap diskriminatif, buktinya sudah kita usulkan beberapa kali supaya jalan desa kami dibangun, apalagi desa kami hanya 1 kilo meter dari batas kota Banda Aceh, tapi sepertinya pemerintah tutup mata, sehingga apa yang kami usul belum direspon hingga saat ini” kata Burhanuddin, tokoh masyarakat setempat kepada wartawan, Senin (2/1/2017).

Selain jalan di Desa Baet, Krueng Cut yang berada di jalan lintas utama Banda Aceh – Pelabuhan Internasional Malahayati, Krueng Raya Aceh Besar itu, juga masih banyak bangunan yang rusak dan hancur dibiarkan terbengkalai tidak diperbaiki hingga kini.

“Tidak diketahui pasti kenapa jalan desa Baet terutama Dusun Tgk Dicantek kurang perhatian dari pemerintah. Kenapa kami disini semacam dianak tirikan, sehingga masih ada infrastruktur jalan sisa tsunami itu dibiarkan seperti kubang kerbau, terbengkalai dan hancur,” kata Tgk Bahagia, tokoh masyarakat Baet, Krueng Cut, Aceh Besar.

Beberapa pengamat lingkungan yang ditanya menyebutkan, hingga 12 tahun pasca tsunami masih ada jalan desa yang hancur akibat tsunami dan sama sekali belum tersentuh pembangunan.

Padahal menurut yang dia dengar, masyarakat desa tersebut sudah lama mengeluh dan meminta pemerintah agar sedikit peduli kepada desa mareka.

“Namun kenyataannya sampai saat ini tidak ada tanggapan dari pemerintah. Kita tidak tau apa penyebabnya sehingga pemerintah mengabaikan desa tersebut,” ujarnya.

Sedangkan menurut Amran, warga setempat, pemerintah lebih mementingkan acara seremonial peringatan tahunan tsunami ketimbang memikirkan rakyat yang justeru menderita karena tsunami itu sendiri.

Dikatakan Amran, dirinya yakin pemerintah tidak bolot (tuli-red), instansi terkait pasti melihat dan mendengar keluhan masyarakat. Apalagi desa kami dipinggir jalan nasional dan didepan mata pemerintah provinsi. “Janganlah mendengar keluhan masyarakat di saat Pilkada saja,” ketus Amran. (ril)