Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

UTAMA · 8 Jan 2017 08:11 WIB ·

Tenaga Kerja Tiongkok Serbu Aceh


 BURUH KASAR: Sejumlah tenaga kerja asing (TKA) saat menjalani jam istirahat siang di Desa Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, kemarin. Seharusnya TKA hanya untuk tenaga kerja ahli, tapi ada dari mereka yang bekerja sebagai buruh.  FOTO JAWA POS
Perbesar

BURUH KASAR: Sejumlah tenaga kerja asing (TKA) saat menjalani jam istirahat siang di Desa Morosi, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, kemarin. Seharusnya TKA hanya untuk tenaga kerja ahli, tapi ada dari mereka yang bekerja sebagai buruh. FOTO JAWA POS

RAKYAT ACEH (RA) – Kantor Imigrasi kelas II Meulaboh terus memantau keberadaan 17 Warga Negara Asing (WNA) yang berada dalam wilayah kerjanya. 15 diantaranya tercatat sebagai Tenaga Kerja Asing (TKA).

Kepala kantor Imigrasi Kelas II Meulaboh, Ian Fidihanto Markos, kemarin, mengatakan pihaknya terus intensif memantau. Menurutnya, sejak tahun 2016, telah terbentuk tim Pengawasan Orang Asing (PORA) yang merupakan gabungan dari TNI, POLRI, Jaksa, Aparatur Sipil Negara (ASN), dan unsur terpadu lainnya.

Ian mengaku, tim tersebut sangat optimal dalam menjalankan pengawasan sampai penindakan. Ia mencontohkan, dua kali penangkapan WNA asal Tiongkok yang kedapatan menyalahi izin tinggal di Indonesia. “WNA asal Tiongkok dengan status visa travel, tapi kedapatan mengikuti aktivitas di penambangan emas di pedalaman Sungai Mas, Aceh Barat,” katanya.

Ia merinci, dari 15 pekerja asing 14 diantaranya berasal dari Tiongkok yang bekerja di PLTU Suak Puntong, Nagan Raya dan seorang berasal dari Perancis berada di Kepulauan Simeulue.

“Selebihnya, ada yang pelajar WNA pasantren asal Malaysia di Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat dan ada WNA yang berstatus ‘kawin campur’ serta mengikuti istri atau suami ke Aceh,” jawabnya.

Selama ini, sambung Ian, jika ada WNA terlihat hadir di kepulauan Simeulue, Singkil, dan berapa wilayah objek wisata lainnya, mereka hanya sebatas turis yang berkunjung selama 2-3 hari. keberadaan mereka sebagai wisatawan, telah tercatat dalam Aplikasi APOA milik lembaga Imigrasi RI.

Masalah yang sering dihadapi, ada kedapatan WNA mengantongi paspor kunjungan ke Indonesia, tapi malah terlibat aktivitas berkerja.

Tangungjawab utama melaporkan keberadaan TKA di Indonesia, khususnya wilayah pantai barat Aceh, merupakan kewajiban perusahaan atau sponsor yang mengundang WNA sebagai pekerja. Pelaporan harus diterangkan secara rinci, sampai lokasi tempat menginap.

Kantor Imigrasi Kelas II Meulaboh, bertangungjawab memantau keberadaan WNA di tujuh kabupaten/kota yakni, Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya, ABDYA, Simeulue, Singkil, dan Subulussalam. Jika di daratan, Ian mengaku dapat dengan mudah berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan ASN. Namun khusus di Kepuluan Simeulue, pihak Imigrasi lebih optimalkan koordinasi dengan para camat dan geucik untuk terus memantau keberadaan orang asing. (den)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Kadisdik Tekankan Pesan Mulia Himne Aceh pada Pembukaan Rakor DAK Fisik SMA dan SLB

22 June 2024 - 14:13 WIB

7 Jemaah Haji Asal Provinsi Aceh Meninggal Dunia di Arab Saudi

21 June 2024 - 15:19 WIB

Lionel Messi Pecahkan Rekor Penampilan Terbanyak pada Ajang Copa America

21 June 2024 - 15:11 WIB

Jadi Perampok, Tiga Oknum Personel Polrestabes Medan Buron, 12 Langgar Kode Etik

20 June 2024 - 15:01 WIB

80 Ribu Anak-anak Di Bawah Usia 10 Tahun Tercatat Memainkan Judi Online

20 June 2024 - 14:58 WIB

Beneran Nih??? 15 Oknum Anggota Polrestabes Medan Jadi Buron Kasus Perampokan

19 June 2024 - 15:48 WIB

Trending di UTAMA