Harga Lapak Naik 300 Persen Sukses Turnamen Pacuan Kuda Dicederai Pungli

PACUAN KUDA: Penonton memadati area pacuan Kuda saat putaran final dilapangan Sengeda kalang Rejo Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah beberapa waktu lalu. MASHURI/RAKYAT ACEH

REDELONG (RA) – Suksesnya turnamen pacuan kuda di Kabupaten Bener Meriah diciderai pungutan liar (pungli). Beberapa pedagang mengaku kecewa dengan semakin mahalnya sewa lapak yang dipatok oknum panitia.  Pungli lewat penyewaan lapak tempat pedagang berjualan tidak sesuai kesepakatan awal yang ditentukan, Rp 300- 350 ribu. Faktanya di lapangan pedagang menyewa dengan harga Rp1,5 juta hingga Rp2 juta atau naik hingga 300 persen.

Sejumlah pedagang mengaku rugi dan kecewa atas tingginya tarif harga dilakukan oleh petugas yang merupakan panitia lapak yang ditunjuk. “Ini merupakan pesta rakyat dan sudah dianggarkan melalui APBD, kenapa harus dipungut lapak dengan harga yang tinggi,” ungkap Aman Ena pedagang asal Bener Meriah kepada Rakyat Aceh, kemarin.

Menurutnya untuk mendapatkan lapak harus bersikeras terlebih dahulu. “kebanyakan pedagang berjualan berasal dari luar hal. Saya yakini ini agar harga lapak bisa tinggi dan tidak ada protes.”Pedagang lainnya, Lelek (50) mengatakan, dengan ukuran 4×8 harus menyewa dengan harga Rp1,6 juta. Dia memiliki kuitansi diberikan panitia dan mengaku tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dari hasil berjualan selama seminggu.

“Jika tahun depan harganya segitu kami lebih memilih tidak berjualan, karna kami telah membuka lapak seminggu sebelum pacuan kuda di mulai dan pengunjung baru ramai setelah semi pinal dan pertandingan pinal” ujarnyaWaladan Yoga Koordinator GAPURA – BM kepada Rakyat Aceh menyampaikan, panitia penyelenggara harus bersikap jujur dan terbuka agar kesan negatif pada setiap penyelenggaraan kegiatan daerah bisa diperkecil.

Waladan Yoga mengaku telah mengantongi sejumlah barang bukti pembayaran yang beredar satu lapak dipungut biaya Rp. 1.600.000 sampai Rp. 2.000.000 “Jika tidak mau disebut melegalkan pungli, maka panitia harus konsisten membuka semua anggaran dan rincian pengeluaran pelaksanaan pacuan kuda di Bener Meriah,” ucapnya.

Lebih lanjut, pihaknya mempertanyakan dasar hukum memungut kutipan di arena Pacuan Kuda. Harus ada dasar hukum sebagai penanggungjawab panitia. Di sisi lain, mahalnya biaya parkir membuat sebahagian pengunjung merasa keberatan, apalagi mahalnya biaya parkir tidak sebanding dengan fasilitas diberikan.

“Dari observasi di lapangan ada beberapa pintu masuk dijaga petugas parkir, petugas parkirnya pun bukan petugas parkir biasa sepertinya mereka aparat,” ungkapnya.Masing masing dipintu masuk, petugas langsung “menodong” dengan lembaran warna kuning disertai dengan permintaan sejumlah uang, “Kendaraan Roda dua diwajibkan membayar Rp. 5000,- dan jenis mobil dibebankan Rp. 10.000,” katanya.

Bahkan menurutnya, ada sebagian teman teman yang berkomentar, dibagian tertentu kadang tarif parkir kendaraan roda dua bisa mencapai Rp. 10.000,- dan tanpa dicatat nomor polisinya. Jika kita berhitung secara kasar saja, maka perhitungan kita ada dana yang terkumpul sebesar Rp. 260.000.000. “ Belum lagi dari harga lapak” ujarnya

Terkait ini Ketua Panita Pacuaan Kuda Haili Yoga kepada Rakyat Aceh Selasa ( 17/1) mengaku tidak mengetahuinya sama sekali. “Kami tidak tau kalau lapak disewa mencapai 1 juta sampai 2 juta, karena dalam kesepakatan itu kami hanya menyewa 300 untuk lapak biasa dan 350 ribu untuk lapak jualan nasi. Terkait adanya informasi menyewakan lebih dari harga yang disepakati itu harus dicek kebenarannya dan siapa pelakunya harus mempertanggung jawabkannya ” ujar Haili Yoga yang juga merupakan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Bener Meriah diruang kerjanya.

Haili Yoga juga mengaku, telah menurunkan harga lapak dari tahun sebelumnya yang di nilai terlalu mahal, mencapai Rp 400 ribu per lapak. Dia juga menyanggah pihaknya melakukan pungli sehingga dan berharap dapat mengungkap pelakunya.Disebutkanya, pihaknya telah mendengar laporan tersebut namun setelah di kroscek kelapangan pihaknya mengaku tidak menemukan keluhan sehingga tidak menindak lajuti. “mungkin ada yang menyewa 2 sampai 3 lapak terus mereka menyewakannya lagi itu kita tidak mengerti kenapa seperti itu”. Sebut Haili Yoga.

Haili Yoga menyebutkan, anggaran even turnamen pacuan kuda sebesar Rp 980 juta, dan untuk pelaksanaanya tidak semudah yang dibayangkan. “ Banyak pengeluaran yang tak terduga yang harus dikeluarkan” tuturnya. Untuk pengutipan parkir dan dan lapak Haili Yoga mengakui tidak memiliki landasan hukum, hanya saja untuk harga dan tariff parkir telah disepakati bersama dalam rapat panitia sebelum pelaksanaan pacuan kuda. (mag-70/min)