Banda Aceh, Nyaman Bagi Etnis Tionghoa

PERSIAPAN: Menjelang perayaan Imlek pekerja membersihkan dan merapikan Vihara Dharma Bhakti Penayong, Banda Aceh, Selasa (24/1). HENDRI/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Meski mayoritas, warga keturunan Tionghoa yang bermukim di Banda Aceh mengaku nyaman dan aman bermukim di Ibukota Provinsi Aeh ini. Mendiami kawasan Pecinan, Peunayong sejak abab ke-13, warga keturunan dan warga Aceh hidup rukun dan damai.

“Hidup damai-damai saja, semuanya saling menghargai, baik itu warga Aceh asli maupun kami sebagai warga Tionghoa,” kata Yuswar, tokoh Tionghoa Peunayong kepada Harian Rakyat Aceh, yang menemuinya di kediamannya, di kawasan Kampung Laksana, Banda Aceh, Selasa (24/1).

Menurut pria berusia 66 tahun ini, keluarganya telah hidup lima generasi di Aceh. Sejak lahir hingga saat ini, akunya, dia merasakan kehidupan yang rukun dan damai, tanpa ada diskriminasi dan intimidasi oleh siapapun, walaupun dirinya sebagai kaum mayoritas di Aceh.

Bahkan, tambah Ketua Yayasan Hakka Aceh ini, meskipun Aceh menerapkan syariat Islam, tapi dari segi keyakinan, warga Aceh sangat toleransi dan harmonis walaupun hidup dalam perbedaan.

“Tidak pernah ada konflik, semuanya saling menghargai, baik pada pelaksanaan ibadah ataupun dalam menjalankan kehidupan sehari-hari. Jika ada pesta orang Aceh, jika diundang, saya datang,” sebutnya.

Sebagai orang yang dituakan etnis Tionghoa di Banda Aceh, Yuswar mengharapkan ke depan tetap hidup rukun dan damai seperti yang telah berjalan selama ini. “Semoga tetap terjaga apa yang telah kita rasakan selama ini. Karena warga Aceh kita tahu sama-sama, meskipun keras, tapi sangat baik,” kata dia.

Warga keturunan lainnya, Nie Teen, penjual makanan siap saji di Pasar Penayong mengatakan, sejak 24 tahun lalu menjalankan usahanya di Aceh, dia merasa tidak ada batasan. Bahkan banyak warga lokal yang juga datang makan di warungnya, taknya etnis Tionghoa, tapi juga warga muslim. “Malahan yang makan di sini banyak yang muslim,” sebutnya.

Dia mengatakan, Aceh merupakan daerah yang hidup rukun, berbeda dengan daerah lainnya. “Pascatsunami saya sempat pulang ke Medan, tapi beda jauh, di sini sangat nyaman, saling menghormati dan menghargai, bahkan saling percaya satu sama lain,” sebutnya.

Apalagi, kata dia, warga Aceh sangat terbuka dan menerima pendatang. Padahal, etnis Tionghoa yang ada di Banda Aceh terdiri dari berbagai suku, diantaranya suku Khe, Tio Chiu, Hokkian, dan Subetnis.

Hal sama disampaikan Mila Wen. Menurut dia, kehidupan antar umat beragama dan etnis di Banda Aceh berjalan rukun. Warga keturunan tak harus hidup eklusive dan terbuka. (ibi/ara)