Penyair Refleksikan Gempa Aceh dengan Puisi

GEMPA ACEH: Penyair, Rida K Liamsi membaca puisi dalam acara Refleksi Gempa Aceh di Boulevard Coffee & Resto, Apartemen The Boulevard, Jalan H. Fachruddin No. 5 Tanah Abang (Samping Hotel Millenium), Jakarta Pusat, Jumat malam lalu. FOR RAKYAT ACEH

JAKARTA (RA) – Sejumlah penyair nasional meramaikan acara Refleksi Gempa Aceh, dalam bentuk pembacaan puisi di Boulevard Coffee & Resto, Apartemen The Boulevard, Jalan H. Fachruddin No. 5, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat pekan lalu. Acara diawali dengan peluncuran buku puisi gempa Aceh karya sekitar 150 penyair, seniman dan masyarakat nusantara berjudul ‘6,5 SR Luka Pidie Jaya’, dilanjutkan pembacaan puisi para penyair secara bergantian.

Tak hanya dari Jakarta dan sekitarnya, para peyair ada yang datang dari Kepulauan Riau, yakni Rida K Liamsi, dari Banjarmasin, Zulfaisal Putera. Sementara dari Jabotabek hadir Ahmadun Yosi Herfanda, Eka Budianta, Kurnia Effendi, Fikar W Eda, J Kamal Farza, Ace Sumanta, Siwi Widjajanti, Edrida Pulungan, Edi Prambuane, Tora Kundera, dan lain-lain.

“Kehadiran saya ini semacam membayar utang. Beberapa bulan lalu saya berjanji untuk hadir saat acara sastra di Aceh, tapi tiba-tiba berhalangan,” ujar Zulfaisal. Peluncuran ditandai dengan penyerahan buku puisi oleh penyusun, Willy Ana dan editor, Mustafa Ismail, kepada sejumlah tokoh. Diantaranya Kepala Perwakilan Aceh, Badri Ismail, mantan Wakil Gubernur Aceh,

Muhammad Nazar, Kepala Bappeda Pidie Jaya, Munawar Ibrahim, Staf Ahli Deputi V Kantor Staf Presiden dan Mantan Ketua Komnas HAM, Ifdal Kasim, pengusaha Aceh di Jakarta, Teuku Nausa, dan tiga penyair, yakni Ahmadun Yosi Herfanda, Rida K Liamsi, dan Zulfaisal Putera.

Willy Ana yang mengkoordinir kegiatan ini menjelaskan, buku setebal 246 halaman ini berisi karya 152 penyair dan masyarakat umum, termasuk dari Malaysia. Selain nama-nama di atas, ada D Kemalawati, Din Saja, Fakhrunnas MA Jabbar, Handry TM, Jumari HS, Gol A Gong, Nelson Dino (Malaysia), Sihar Ramses Simatupang, Endang Supriadi, Syarifuddin Arifin, Alizar Tanjung, Sulaiman Juned, Sulaiman Tripa, Teja Alhabd, Teuku Dadek, Mezra E Pellondou, dan lain-lain.

“Respon para penyair sangat luar biasa terhadap kegiatan ini,” ujar Willy. Prediksi awal buku itu paling tebal 180 halaman. Tapi dalam perjalanan, tebal buku itu sudah mencapai 246 halaman. “Ini apresiasi dan tanda simpati yang luar biasa dari masyarakat Indonesia terhadap Aceh,” tambah penulis buku puisi “Tabot: Aku Bengkulu” itu.

Bahkan, menurut penyair asal Bengkulu ini, para penyair, seniman dan masyarakat nusantara tak hanya menulis puisi, melainkan juga ikut serta gotong royong untuk membiayai penerbitan buku dengan cara membeli buku tersebut sesuai kemampuan mereka. Selain peluncuran buku, acara itu akan diisi dengan baca puisi, testimoni gempa, lelang buku untuk korban gempa. Testimoni dan refleksi gempa disampaikan oleh Kepala Bappeda Pidie Jaya, Munawar Ibrahim, Muhammad Nazar dan Ifdal Kasim.

Willy Ana mengatakan, selain donasi yang terkumpul dalam acara itu, keuntungan dari penjualan buku akan disampaikan kepada korban gempa dan kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan gempa tersebut. “Kami berencana untuk datang ke sekolah-sekolah di lokasi gempa untuk menghibur anak-anak yang trauma dengan berpuisi, baik dengan mengajak mereka membaca puisi maupun menulis puisi,” tutur Willy.

Sementara Editor buku, Mustafa Ismail mengatakan, puisi-puisi dalam buku itu merefleksikan kata hati, pesan, keinginan dan harapan masyarakat Indonesia, terutama penyair, terhadap korban gempa Aceh dan Aceh itu sendiri. “Kepedulian itu tidak hanya dengan bantuan berbentuk benda dan uang. Puisi-puisi yang ada dalam buku ini menunjukkan kepedulian yang tak ternilai harganya,” ujar penyair asal Trienggadeng yang sehari-hari bekerja di Jakarta itu.

Teuku Nausa, pemilik Boulevard Coffee yang memfasilitasi peluncuran itu sangat senang tempatnya dijadikan tempat acara tersebut. Bahkan ia berkomitmen sebagian keuntungan dari penjualan minuman dan makanan di cafenya pada saat acara berlangsung akan disumbangkan untuk korban gempa. “Nanti kita hitung sama-sama berapa jumlahnya,” kata pengusaha asal Aceh itu. “Kami akan membantu acara itu agar berjalan dengan lancar dan sukses.”

J Kamal Farza, Ketua Komunitas Kuah Beulangong yang ikut menjadi pendukung acara itu mengajak masyarakat Aceh di Jakarta dan sekitarnya untuk bisa sama-sama berdoa sekaligus terus melakukukan sesuatu untuk korban bencana di Aceh. “Kita harus terus memberi perhatian untuk mereka. Karena luka mereka belum sembuh,” ujar penyair yang juga menulis puisi di buku ‘6,5 SR Luka Pidie Jaya’ tersebut.

Selain Imaji Indonesia, Ruang Sastra, Boulevard Coffee dan Komunitas Kuah Beulangong, acara ini didukung oleh banyak komunitas seni lainnya, seperti portal sastra infosastra.com, litera.co.id, Komunitas Musikalisasi Indonesia, Sanggar Matahari, Poros Selatan, Aceh Culture Centre, dan lain-lain. (ril/ara)