Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

INTERNASIONAL · 27 Jan 2017 08:31 WIB ·

Penerbitan Visa untuk Tujuh Negara Islam diHentikan Trump


 Presiden Amerika Serikat, Donald Trump Perbesar

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump

Harianrakyataceh.com – Donald Trump mendeklarasikan moratorium program penampungan pengungsi kemarin. Rencananya, pembekuan program itu berlangsung selama empat bulan. Selain itu, dia menghentikan sementara penerbitan visa untuk warga dari tujuh negara Islam. Yakni, Syria, Iraq, Iran, Sudan, Libya, Somalia, dan Yaman. Itu menjadi langkah awal AS menuju penerapan aturan imigrasi yang lebih ketat.

’’AS melarang seluruh pengungsi dari Syria masuk wilayahnya,’’ bunyi draf keimigrasian baru versi Trump. Untuk enam negara yang lain, pembekuan itu berlangsung selama empat bulan. Dalam masa itu, AS bakal menyusun daftar negara-negara muslim, mulai yang berisiko tinggi menghasilkan teroris sampai yang paling tidak berisiko.

Terkait dengan kebijakan tersebut, Trump memberikan waktu 90 hari kepada Pentagon untuk merancang pembangunan zona aman alias zona suaka di dekat Syria. Nanti warga sipil yang ingin menghindari kecamuk perang bisa berlindung di zona aman tersebut tanpa harus hijrah ke Eropa atau Amerika. Zona aman itu bakal menjadi semacam tempat penampungan bagi para pengungsi.

Dalam wawancara dengan ABC News, Trump mengatakan bahwa larangan masuk bagi pengungsi asal Syria dan negara-negara Islam lainnya bersifat wajib. Sebab, dunia sudah tidak aman. Teror bisa muncul kapan pun dan di mana pun. Tapi, dia membantah tuduhan antimuslim meski semua negara yang masuk daftar larangannya adalah negara-negara Islam.

’’Bukan, ini bukan larangan (negara-negara) muslim, tapi lebih pada negara-negara yang berpotensi menciptakan teror,’’ lanjutnya. Dalam kesempatan itu, dia juga mengkritik kebijakan Jerman tentang pengungsi. Menurut dia, keputusan menampung jutaan pengungsi asal Syria atau Iraq dan Afghanistan itu bukan ide bagus. Sebab, dengan menampung banyak pengungsi, Jerman sedang menumpuk masalah.

Trump memang beberapa kali melontarkan komentar tidak menyenangkan tentang Jerman. Tapi, dia tetap menyebut Kanselir Angela Merkel perempuan hebat. Sementara itu, AS berhenti menjadi donatur organisasi non pemerintah di bidang medis terkait dengan legislasi baru soal aborsi, sebaliknya dengan Jerman. Negara yang dipimpin Merkel itu mengaku siap menggantikan posisi AS sebagai donatur.

Keretakan juga kian terasa saat Jerman mencabut legislasi tentang penghinaan kepala negara asing mulai kemarin. Dalam legislasi tersebut, Jerman melarang siapa pun menghina kepala negara yang sedang berkunjung. Tapi, kini semuanya berubah. Maka, tidak akan ada Jan Boehmermann kedua. Host Jerman itu harus berurusan dengan hukum karena dianggap menghina Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan lewat puisi.

Terpisah, Trump yang sukses menempatkan James Mattis dan Mike Pompeo sebagai menteri pertahanan dan direktur CIA kembali menegaskan dukungan terhadap waterboarding. ’’Kita harus melawan api dengan api,’’ ujarnya. Dia juga mengatakan bahwa teknik interogasi kontroversial yang banyak diterapkan di Penjara Teluk Guantanamo tersebut terbukti efektif dan bermanfaat.

Kendati demikian, Trump mengaku akan mengonsultasikan wacananya itu dengan Mattis dan Pompeo. ’’Saya pasti akan mendengarkan saran mereka untuk memerangi radikalisme secara legal,’’ lanjut tokoh 70 tahun tersebut. Tapi, Leon Panetta, mantan petinggi intelijen AS, mengkritik gagasan Trump tersebut. Menurut dia, menerapkan waterboarding lagi hanya akan membuat AS mundur ke belakang.

Dalam perkembangan lain, aktivis-aktivis antiaborsi mengaku lega setelah Trump meneken legislasi antiaborsi. Sebagai bentuk dukungan, mereka bakal berunjuk rasa di Washington hari ini (27/1). Seperti demonstrasi Women’s March pada akhir pekan lalu, unjuk rasa March for Life itu akan didominasi perempuan. Tapi, kali ini mereka adalah para pendukung Trump. Salah satunya Kellyanne Conway. (AFP/Reuters/BBC/CNN/hep/c19/any/tia)

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Pemimpin G7 Ramai-ramai Kecam Ekspor Rudal Balistik Korea Utara ke Rusia

25 February 2024 - 15:12 WIB

Tak Pernah Netral, AS Selalu jadi Biang Keladi Pendudukan Palestina

23 February 2024 - 15:06 WIB

Deretan Negara yang Sudah Menerapkan Makan Siang Gratis, Indonesia Bakal Menyusul?

23 February 2024 - 15:04 WIB

Israel Ancam Serang Rafah hingga Bulan Ramadhan

20 February 2024 - 14:52 WIB

Tak Henti-Hentinya, Pasukan Israel Kembali Melancarkan Serangan Ke Rumah Sakit Nasser

18 February 2024 - 15:02 WIB

Dua Ledakan Bom Tewaskan Sedikitnya 28 Orang Jelang Pemilu di Pakistan

9 February 2024 - 10:19 WIB

Trending di INTERNASIONAL