YBKA BRR Hasilkan 116 Dokter Ahli

TEKS FOTO: Pengurus Yayasan Beasiswa Kesehatan Aceh, Ketua Dr. dr Syahrul, Sekretaris dr Warqah Helmi. Pendiri, dr Anjar Asmara, Dr. dr M Yani dan drg. Saifuddin. Sedangkan dewan pengawas, saya, dr. Alfred, dr TM Thayib, dr. Taqwallah, dan dr Fahrul Jamal. FOTO _IST

BANDA ACEH (RA) – Meski belum genap berusia delapan tahun, namun Yayasan Beasiswa Kesehatan Aceh yang berdiri sejak 2009 lalu, telah menghasilkan 116 dokter ahli dan 90 tenaga kesehatan.

“Hingga saat ini 116 dokter ahli yang telah selesai pendidikannya ini, 95 persen telah bertugas di wilayah Aceh. Hanya sembilan orang yang mangkir dengan berbagai alasan,” ujar Dr. dr. Mohd. Andalas, Dewan Pengawas yayasan ini, Ahad (29/1).

Menurut Andalas, Yayasan ini dibentuk sebagai refleksi kelanjutan kepedulian Badan Rehabilitasi dan Rekontruksi (BRR) Aceh terhadap pengembangan sumber daya kesehatan Aceh yang banyak menjadi korban tsunami Aceh 2004.

“Kebijakan ini sudah mulai dibahas BRR pada tahun 2007, yang dibidani oleh dr Taqwallah cs. Seiring berakhirnya tugas BRR di Aceh, kelanjutan program ini dialihkan pada Yayasan Beasiswa Aceh,” kata Andalas.

Kepengurusan yayasan, katanya, kemudian dipercayakan pada Fakultas Kedokteran Unsyiah, dan melibatkan penggunanya, yakni Dinas Kesehatan dan Pemprov Aceh, dalam hal ini RSUZA.

“Pengurus yayasan antara lain Ketua Dr. dr Syahrul, Sekretaris dr Warqah Helmi. Pendiri, dr Anjar Asmara, Dr. dr M Yani dan drg. Saifuddin. Sedangkan dewan pengawas, saya, dr. Alfred, dr TM Thayib, dr. Taqwallah, dan dr Fahrul Jamal,” kata Andalas.

Menyinggung sembilan orang yang mangkir dengan berbagai alasan, mengingat mereka telah berkomitmen untuk kembali Aceh karena menggunakan dana dari rakyat Aceh, yang dibuat dengan perjanjian notaris, maka mereka akan diminta pertanggungjawabkan.

“Terkait hal ini, dibahas dalam rapat rutin tim beasiswa di awal tahun 2017 lalu. Selain itu, rapat juga mengevaluasi anak didik yang masih dalam masa pendidikan sebanyak delapan orang,” kata Andalas.

Dari 116 dokter ahli yang mendapat besiswa ini, meliputi empat bagian besar plus anestesi, serta beberapa bagian khusus yang masih sangat dibutuhkan di daerah, seperti dokter Obgyn, 15 orang, ahli penyakit dalam 25 orang, dokter spesialis anak 19 orang, dokter bedah 22 orang, dokter anestesi 18 orang.

Spesialis khusus meliputi spesialis mata tiga orang, spesialis patologi klinik tiga orang, spesialis bedah tulang satu orang, spesialis bedah plastik dua orang, spesialis jantung satu orang, spesialis paru dua orang, dan spesialis jiwatiga orang.

Di sisi lain, Andalas menyampaikan, yayasan ini juga sukses mengelola progrma pendidikan 57 orang putra Aceh dalam menempuh program pascasarjana kesehatan, meliputi ahli manajemen rumah sakit 19 orang, magister kesehatan masyarakat (MKES) 38 orang dan untuk strata satu paramedis yakni sarjana kesehatan masyarakat 33 orang.

“Semua alumni, baik itu dokter spesialis maupun tenaga paramedis telah kembali bertugas sesuai asal daerah tingkat dua yang mengirim,” ujar Dr. Syahrul selaku Ketua Yayasan pada media pascapertemuan rutin pengurus di gedung kesehatan Kota Banda Aceh, Selasa 24 Januari lalu.
Dari delapan orang yang masih dalam proses pendidikan, katanya, dua orang sudah selesai dan tengah menunggu proses ujian nasional, dan enam orang lainnya akan segera selesai.

“Harapan kita ke depan para dokter ahli dan paramedis yang telah mendapat bantuan beasiswa pendidikan ini mau memikirkan untuk menjadi donatur bagi terciptanya bentuk beasiswa lanjutan untuk adik-adik mereka yang masih membutuhkan.
Upaya rancangan model dana bergulir dari alumni ini akan ditempuh melalui pertemuan ajang silaturahmi akbar para alumni beasiswa BRR NAD, yang kita rencanakan akhir Februari nanti, yang juga diharapkan hadir Ketua BRR, Kuntoro,” kata Syahrul.

Dalammkesempatan itu Syahrul mengingatkan, Pemkab untuk tidak terlalu mudah memberi surat lolos, terutama kalau kalau tenaga pengganti belum ada. Sebab banyak terjadi saat ini mereka diberi ijin pindah sedangkan tenaga ahli tidak ada di tempat tersebut.
“Kami juga berharap Pemkab/kot untuk ikut menyiapkan sarana kamar operasi dan alat kesehatan penunjang pelayanan bagi bidang keahlian yang dibutuhkan, sehingga hal ini bukan menjadi suatu alasan mereka hengkang dari daerah sesuai pemetaan awal yayasan beasiswa,” kata dr Andalas. (ara)