Roboh Saat Dicambuk, Terpidana Ikhtilat Dua Kali Dievakuasi

DICAMBUK: Pelaku Khalwat menjalani hukuman cambuk di hamalam Masjid Gampong Jawa Banda Aceh, Kamis (2/2). HENDRI/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) – Lindawati (20), terpidana ikhtilat (bercumbu dengan non muhrim), tak mampu menjalani hukuman 26 cambukan atas perbuatannya. Ia jatuh saat algojo mengeksekusi empat kali cambukan, Kamis (2/2). Padahal sebelumnya, tim medis telah menyatakan dirinya sehat dan mampu menjalani hukuman atas pelanggaran Qanun Nomor 6 Tahun 2014 tentang Hukum Acara Jinayat tersebut.

Melihat Linda roboh, tim medis dan kejaksaan menghentikan proses eksekusi dan mengevakuasinya ke dalam Masjid Al Muchsinin, Gampong Jawa, Banda Aceh. Namun tiga menit kemudian, petugas kembali menghadirkannya ke muka umum, melanjutkan eksekusi yang tersisa. Perempuan asal Lhokseumawe itu, beberapa kali terlihat mengerang kesakitan bahkan mengangkat tangan hingga algojo hentikan cambukan.

Linda kembali roboh, saat algojo mendaratkan cambuk ke 15 di punggungnya. Seketika petugas kembali mengevakuasinya dari panggung eksekusi. Kejaksaan Negeri Banda Aceh lantas memutuskan untuk tidak melanjutkan hukuman.
Perempuan lain yang jalani eksekusi cambuk, Epi Susanti Basri. Ia juga tersangkut perkara mesum. Namun Kejaksaan mengantikan hukuman 26 kali cambuk dengan kurungan 1 tahun 6 bulan di LP Lhoknga, Aceh Besar. Epi tidak dicambuk, sebab sedang hamil satu bulan.

Selain dua perempuan itu, Kejaksaan juga menjatuhkan hukuman 26 kali cambuk terhadap Humaidi Syawaludin dan Safrudin Hamzah. Keduanya juga terpidana ikhtilat. Kepala Satpol PP dan WH Banda Aceh, Yusnardi mengatakan keputusan lanjut atau tidak cambuk diserahkan ke tim dokter. Menurutnya, bila dinyatakan tidak dapat dilanjutkan maka yang bersangkutan akan bebas.

Kasatpol PP-Polisi Syariat Kota Banda Aceh, Yusnardi mengatakan, satu wanita yang belum selesai dicambuk itu akan diserahkan kepada tim dokter, bisa dilanjutkan atau tidak. Bila tim dokter memutuskan tidak dilanjutkan, yang bersangkutan akan bebas.
“Nanti kita koordinasi dengan Jaksa dulu, karena meskipun dia (Linda) tidak bisa dilanjutkan, kita tidak bisa menahan lagi. Jadi kalau tidak bisa dilanjutkan, dia akan bebas,” kata Yusnardi.

dr Mila Fusanti dokter yang memeriksa Linda, menyebutkan pasien awalnya dalam kondisi baik, denyut nadi dan jantung normal. “Terakhir kita periksa tekanan darah turun dari 90 menjadi 60 setelah dicambuk tadi,” jelasnya.(ibi/mai)