Penanganan Konflik Satwa Liar

PATROLI: Empat ekor gajah jinak di CRU Desa Bunin Kecamatan Serba Jadi dimandikan oleh Mahout usai melakukan patroli di hutan desa setempat, Aceh timur, Sabtu (4/2). ZABIR MAULANA/RAKYAT ACEH

Patroli Gajah Diintensifkan

Aceh Timur (RA) – Minimalisir konflik warga dan gajah di Aceh Timur, Conservation Response Unit (CRU) Bunien intensifkan patroli. Kemarin, sejak pagi petugas menurunkan empat gajah jinak menyisir hutan di pedalaman Bunien, Kecamatan Serba Jadi.

Gajah yang dilibatkan dalam patroli Lilik, Bunta, Lya dan Nonik. Dua pasang gajah jinak itu, merupakan kiriman dari Saree, Aceh Besar yang bertugas menghalau gajah liar kembali ke hutan. Patroli gajah melibat empat mahout berkompeten.

Pembangunan CRU merupakan salah satu upaya pemerintah setempat, menghindari konflik antara gajah dan warga. Sejak tahun 2015, Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh mengerahkan gajah-gajah jinaknya asal Saree ke CRU Bunien.

“Seperti biasanya kami ditugaskan untuk merawat gajah. Akitivitas patroli sebuah tanggung jawab kami di CRU dalam memberikan pelayanan tentunya dalam harapan rakyat bisa sejahtera, Mahout sejahtera, gajah juga sejahtera,” ujar Kepala CRU Bunien, Mahdi Al Masri, Ahad (5/2).

Ia menjelaskan, rutinitas patroli dilaksanakan setiap harinya. Namun pengawasan kawasan hutan bisa sewaktu-waktu, tergantung informasi yang berkembang atau keperluan lain yang mendesak, seperti mendapat informasi perburuan, perusak hutan dan lain-lain.

Namun dikala santai, gajah-gajah ini sering berada di aliran sungai yang tak jauh dari keberadaan CRU untuk membersihkan diri. Di sanalah keempat gajah itu dimanjakan para mahout sambil melatih berbagai gerakan.

Begitu juga persoalan kesehatan gajah, merupakan tanggung jawab para petugas CRU untuk merawat. Mulai dari pertumbuhan, kesehatan, dan berat badan hingga makanan hal utama yang perlu diperhatikan agar gajah tidak sakit.

Kesehatan gajah sangat kita perhatikan, gajah juga mendapat perawatan jika tim dari dokter hewan turun ke CRU. Mulai dari fisik hingga pola makan menjadi perhatian khusus agar gajah tetap tegar,” jelas pria yang akrab disapa Dedek Makam itu.

Ia meminta semua pihak berwenang untuk terus mendukung keberadaan CRU Desa Bunin. Sebab keberadaan merupakan tumpuan harapan saat gajah liar berulah di sana.
Dedek memberi contoh, Desa Seumanah Jaya yang sering terjadi konflik gajah dengan manusia. Namun berkat keberadaan CRU dan rutinitas patroli, ganguan gajah berhasil diminimalisir.

Pengalihan Kewenangan Dinas, 7 CRU Terancam

Disisi lain pengalihan kewenangan Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) kabupaten/kota mengakibatkan tujuh Conservation Respon Unit (CRU) di Aceh, kini terancam. Sementara kebutuhan CRU di sejumlah titik sangat dibutuhkan.
Petugas CRU yang kini sedang bertugaspun mengaku bingung terutama dalam persoalan operasional ke depan.

“Kami bingung ke depan CRU akan tunduk kemana, karena saat ini Bidang Kehutanan yang ada di Dishutbun Kabupaten Aceh Timur, sudah dialihkan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Aceh,” kata Dedek.

Dedek menjelaskan, sejak CRU Serbajadi diresmikan 27 Januari hingga 31 Desember 2016 seluruh biaya operasional CRU Serbajadi dialokasikan dalam APBK Aceh Timur 2016 melalui Dishutbun. Namun LSM Forum Konservasi Lingkungan (FKL), turut andil dalam memberikan kontribusi secara moril dan materil sejak awal demi kelancaran operasional CRU.

Terhitung sejak Januari hingga saat ini seluruh biaya operasional CRU Serbajadi, ditanggunlangi penuh FKL, karena Pemerintah Aceh melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aceh, belum memberikan kejelasan terkait biaya operasional sejumlah CRU di Aceh, termasuk CRU Serbajadi di Aceh Timur,” pungkasnya.

Ia mengapresiasikan peran FKL, selama ini telah ikut serta dalam kelancaraan operasional. Dedek juga berharap NGO asing ikut turun tangan agar seluruh CRU Di Aceh tidak terancam karena masa transisi ini.

“Kita sangat berharap NGO luar negeri memperhatikan CRU yang ada Aceh. Karena kita yakin keberadaan CRU ini semata demi meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat pedalaman,” pungkas Dedek.(mag-75/mai)