PENA RENCONG: Tidak Mudah Menjadi Kribo

Oleh: Ichsan Maulana

Dalam khazanah sepakbola, style memempati posisi tersendiri yang kerap dibahas. Di antara banyak hal mengenai style sepakbola juga para pesepakbola, rambut adalah salah satu bagian dari pada style yang kerap dibahas. Akhir- akhir ini, di tengah trend demam rambut klimis dengan potongan under-cut, menjadi kribo merupakan anugrah tersendiri bagi pemiliknya, selain unik, rambut dengan bawaan kribo kerap menarik perhatian banyak orang.

Ada banyak sekali pemain kribo di jagat sepakbola, di Liga Inggris (Premier League) ada Maroune Fellaini, Liga Spanyol (La Liga) ada Marcello, Liga Jerman (Bundesliga) ada Dante, liga Italy (Serie A) ada Mohamed Salah, Liga Cina (Chinese Super Leagu) ada Axel Witsel, hingga Liga Indonesia (Liga 1) memiliki Ahmad Maulana Putra.

Di antara semua yang ada, agaknya, Maroune Fellaini adalah pemain yang paling menyita perhatian. Pemain yang lahir di Etterbeek, Belgia, 22 November 1987 ini merupakan lelaki berpostur jangkung yang berposisi sebagai gelandang. Namanya mencuat di Everton saat diasuh oleh pelatih; Moyes. Kini ia bermain untuk klub raksasa Inggris Mancester United (MU).

Menjadi Fellaini seolah siap dengan takdir sebagai sosok yang kontroversi, terlebih ketika ia bermain untuk MU. Keberadaannya di lapangan sering membuat jantung para fans MU mendadak berolahraga dengan spot jantung. Pelanggaran dengan siku maupun tekelnya kerap merugikan kesebelasan yang ia bela. Bahkan, pernah suatu ketika Mourinho (MoU) komat-kamit di area bench dengan  pesan keras kepada Fellaini: “Masuk dan bermainlah dengan baik. Ingat! Jangan sentuh apapun dan jangan membuat kekonyolan di area penalti”. Fellaini pun mangut-mangut seakan siaga satu dan siap melaksanakan intruksi komandan MoU. Lantas apa selanjutnya yang terjadi? Ya, anda benar: Fellaini membuat pelanggaran dan membuahkan penalti untuk tim lawan. Sontak MoU menepuk jidat sembari menyumpah serapahi keadaan.

Kita tidak pernah tau apa yang menghinggapi kepala Fellaini sehingga tindak-tanduknya kerap membuat fans MU jengkel bukan kepalang. Pernah suatu ketika, seorang teman saya yang fans garis keras MU, mendadak pulang dari ritual nonton bareng (nobar) kala menyaksikan MU hanya lantaran MoU memasukkan Fellaini di sisa-sisa pertandingan. Ia pun berujar: “Ka Taloe”.

Tidak pernah mudah menjadi kribo dengan Fellaini sebagai sosoknya. Mungkin sudah lama ia  bernazar agak kiranya ia mendapatkan standing ovation dengan gagap gempita seluruh stadion sambil mengelu-elukan namanya: Fellaini.. Fellaini.. Fellaini! Namun, apa dinyana, harapannya seolah hanyalah hayalan bak punguk merindukan bulan. Malah, Fellaini lebih sering disumpah-serapahi dengan umpatan: fuck you bitch!

Nasib kadang seruwet rambut kribo yang disandang. Meubuliet-buiet meunan. Si kribo Fellaini seakan dikutuk bahwa ia adalah biang kerok dari segala kemalangan yang menimpa MU. Tak jarang pula nasibnya layaknya falsafah intelijen; berhasil tak dipuji, salah tak dihargai. Mungkin Fellaini butuh sampo agar rambutnya halus lantas manjur menghaluskan nasibnya. Bisa jadi!

Pun demikian, Fellaini tetaplah memiliki sisi lain yang sepatutnya diakui bahkan dipuji. Akhir-akhir ini, ia kerap memainkan peranan penting bagi kemenangan MU. Entah karena pergerakannya, pengawalannya, atau bahkan sebab gol-gol krusialnya. Bagi MoU, apapun alasan para fans mengkritik Fellaini dengan segala caci-maki yang ada, ia tak peduli. Fellaini adalah bentuk taktik tak jelas layaknya rambut kribo yang kerap tak diduga lagi misteri, yang kala ia dipercaya tak jarang membuahkan hasil sesuai apa yang diinginkan MoU.

Ketika Van Gaal hengkang, banyak yang memprediksi bahwa si kribo akan didepak dari skuat MoU. Namun, alih-alih didepak, Fellaini malah menjadi senjata ghaib MoU dalam perang taktiknya. Malah, frekuensi bermain si kribo harusnya membuat Asley Young insaf agar tak sering (lagi) melakukan diving. Mana tau, MoU berubah pikiran. Atau, Asley Young butuh wak doyok agak rambutnya tumbuh lalu dikriting-kribokan, dengan harapan nasib Fellaini yang kontroversi namun manjur, menular padanya.

Rambutnya boleh kribo, tapi kita tidak bisa menafikkan kinerja Fellaini di lapangan. Tentu selain hobinya membuat pelanggaran yang merugikan MU. Dilansir oleh Manchester Evening News, Fellaini adalah pemain yang paling sering memenangi duel udara dengan rataan 74% keberhasilan, melepaskan 2,8 tekel per laga terbanyak ketiga di antara pemain MU, bahkan akurasi umpannya mencapai 89%. Sebuah fakta statistik yang menegaskan bahwa Fellaini memainkan peran vital di MU, sekalipun memang kerap tak dipuji. Bahkan orang-orang lebih sibuk membahas rambut kribo yang dicat kuning dengan olok-olok: rambut kribo kuningnya sama ruwetnya dengan jumlah kartu yang ia peroleh.

Apapun itu, Fellaini adalah pesepakbola berambut kribo paling ikonik dewasa ini. Selain kontroversi plus jumlah hatters yang terus bertambah, ia pulalah yang kerap memberikan oase kemenangan di tengah rasa frustasi MU. Sekalipun tak jarang, gara-gara ia pula MU tertimpa malapetaka. Baginya, mungkin, menjadi kribo merupakan anugrah Tuhan yang harus ia syukuri, bukankah jumlah gol-golnya banyak lahir dari sundulan kepala berambut kribo tebal itu? Alahom!

***

 

Penulis merupakan mahasiswa Ekonomi Pembagunan, Unsyiah. Email: ichsanmaulana.icm@gmail.com. Twitter: @ichsanicm