Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

Uncategorized · 14 Feb 2017 02:54 WIB ·

Pakistan Minta RI Buka Keran Impor Lebih Besar


 Ilustrasi Perbesar

Ilustrasi

KARACHI (RA)- Pakistan sebagai salah satu pasar minyak sawit terbesar, berharap Indonesia membuka keran yang lebih besar bagi masuknya produk-produk dari negara di Asia Selatan tersebut. Ini untuk mencapai keseimbangan neraca perdagangan bilateral antar kedua negara.

Saat ini, Pakistan masih mencatat defisit neraca perdagangan yang besar dengan Indonesia.

“Selain dengan Indonesia, kami juga ingin mencapai keseimbangan neraca perdagangan dengan Malaysia,” kata Zubair Tufail, ketua Kamar Dagang dan Industri Pakistan, dalam konferensi satu Hari Pakistan Edible Oil Conference (PEOC) di Karachi, akhir pekan lalu.

Kata Tufail, Pakistan adalah salah satu pasar minyak nabati terbesar di dunia. Selain minyak sawit yang diimpor dari Indonesia dan Malaysia, Pakistan juga membeli minyak kedelai dari Amerika Utara dan Brazil.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik, tahun 2016, nilai ekspor Indonesia ke Pakistan mencapai USD 2,2 miliar di mana USD 1,8 miliar di antaranya  adalah ekspor minyak sawit. Sementara itu, Indonesia hanya membeli produk-produk dari Pakistan senilai USD 140 juta.

Tufail juga mengajak para pengusaha Indonesia untuk berinvestasi membangun industri pengolahan minyak sawit di Pakistan. Ini karena kebutuhan akan minyak sawit untuk makanan yang terus meningkat di negara berpenduduk 182 juta jiwa tersebut.

Joko Supriyono, Ketua Umum GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) berharap, pemerintah memperhatikan keinginan Pakistan untuk menjual lebih banyak produk ke Indonesia. Selain terkait aspek fairness dalam perdagangan bilateral kedua negara, juga untuk menjaga pasar minyak sawit Indonesia di Pakistan.

“Jangan sampai Pakistan mengurangi konsumsi minyak sawit dan turunannya dari Indonesia, karena akan membuka peluang bagi Malaysia untuk menjual minyak sawit yang lebih besar ke sana,” kata Joko yang menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam PEOC.

Menjawab berbagai hambatan perdagangan Indonesia-Pakistan tersebut, pemerintah dan sejumlah pelaku usaha kedua negara berinisiatif membentuk Indonesia Pakistan Palm Oil Council (IPPOC). Dari Indonesia, ikut bergabung dalam forum tersebut antara lain BPDP Sawit, GAPKI, GIMNI, AIMI, dan Sucofindo. Sedangkan Pakistan diwakili oleh sejumlah organisasi dunia usaha antara lain PVMA (Pakistan Vanaspati Manufacturer’s Association) dan PEORA (Pakistan Edible Oil Refiners Association).

Sementara itu, CEO PEOC Abdul Rashed Jan Muhammad, mengatakan Pakistan tetap akan menjadi pasar minyak nabati terbesar dunia. “Kenaikan impor minyak sawit baik mentah maupun olahan (olein) mencapai 2,6 juta ton tiap tahun,” katanya.(*)

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Empat Putra Terbaik Pidie Mendaftar ke GERINDRA Menjadi Cagub Aceh, Muhammad Nazar Tampil Cermelang dalam Presentasi Visi-Misi

13 June 2024 - 20:06 WIB

Pj Ketua PKK Aceh Belanja Sajian Dapur di Pasar Tani

13 June 2024 - 19:17 WIB

Peringati Milad ke 55, IAIN Lhokseumawe Gelar Rangkaian Kegiatan

12 June 2024 - 10:26 WIB

Pj Bupati Iswanto Dampingi Pj Gubernur Aceh Tinjau Venue PON Paralayang di Sibreh

7 June 2024 - 20:07 WIB

Warga Krueng Raya Nikmati Pasar Khusus Jelang Idul Adha, 400 Kupon Laris Manis

6 June 2024 - 19:22 WIB

29 May 2024 - 20:10 WIB

Trending di Uncategorized