Quick Count Hanya Acuan Paslon

Rakyat Aceh

BANDA ACEH (RA) – Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh menegaskan yang menjadi pegangan hasil perolehan suara atau pemenang Gubernur-Wakil Gubernur Aceh pada Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) serentak 2017 ialah real count yang nantinya disampaikan pada rapat pleno terbuka. Saat ini seluruh penyelenggara di setiap daerah tengah melakukan proses rekapitulasi semua tingkatan.

“Mari kita tunggu hasil rakapitulasi di tingat PPK, hasil ini akan disampaikan kepada KIP kabupaten/kota dan juga akan melaksanakan rekapitulasi penghitungan suara. Selanjutnya hasil tersebut akan disampaikan ke KIP Aceh. Insya Allah pleno rekapitulasi terbuka akan kita selenggarakan sesuai jadwal,” kata Ketua KIP Aceh, Ridwan Hadi, saat konferensi pers di Media Center KIP Aceh, Banda Aceh, Kamis (16/2).

Ridwan menjelaskan, KIP Aceh tidak mempermasalahkan hasil perhitungan cepat atau quick count yang dilakukan dan dikeluarkan masing-masing pasangan calon (Paslon). Meskipun dari mereka ada yang mengklaim unggul atau menang dalam perolehan suara. Menurutnya hal itu menjadi acuan masing-masing Paslon saja.

“Silakan saja dengan data-data yang diperoleh. Tetapi, bagi penyelenggara punya mekanisme dan taat kepada aturan yang ada (untuk menentukan itu). Jadi, yang menjadi pegangan kita adalah sertifikat hasil perhitungan suara di tingkat TPS, lalu sertifikat itu akan direkap di PPK. itulah yang menjadi pegangan dan acuan untuk menentukan siapa calon Gubernur-Wakil Gubernur Aceh yang terpilih,” ujarnya.

Oleh karena itu, katanya, quick count lembaga atau dari siapapun itu hanya menjadi pedoman awal saja dan itu tidak bisa dijadikan sebagai bukti dan pembenaran bahwa salah satu pasangan menang atau kalah.
Ridwan menambahkan, jika terjadi perimbangan perolehan jumlah suara antara pasangan calon, berdasarkan ketentuan undang-undang maka KIP akan melihat dan menghitung sebaran perolehan suara masing-masing Paslon di setiap daerah untuk menentukan siapa yang unggul.

Kalau itu terjadi, kita akan hitung sebaran suara siapa yang paling banyak di kabupaten/kota. Kalau masih sama, akan dihitung tingkat kecamatan, dan jika masih sama juga akan dihitung di tingkat gampong atau desa (untuk menentukan pemenangnya),” terangnya.

Ia menjelaskan penentuan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih pada Pilkada serantak 2017 ini tidak sama dengan DKI Jakarta yang memiliki aturan tersendiri yang mengenal dua kali putaran pemilihan. Aceh dan daerah-daerah lain memiliki aturan tersendiri, yakni pasangan yang memperoleh suara terbanyak ialah yang menang atau terpilih. Oleh sebab itu ia berharap semua tahapan proses penghitungan dan rekapitulasi perolehan suara dapat berjalan lancar.

“Tahapan-tahapan yang krusial ini, di tingkatan kecamatan sampai ke KIP Aceh bisa berlangsung lancar, aman dan dalam situasi kondusif,” imbuhnya.

Ridwan menyebutkan, secara keseluruhan pelaksaan Pilkada tahun ini di 23 kabupaten/kota dapat berlangsung dengan aman dan kondusif, mulai dari tahapan pemungutan hingga penghitungan suara. Sebelum hari H Pilkada, ia bersama Kapolda Aceh, Irjen Pol Rio Septianda Djambak, Pangdam Iskandar Muda, Tatang Sulaima dan Gubernur Aceh, Zaini Abdullah telah meminjau persiapan pelaksanaannya di Aceh Timur, Aceh Utara dan Pidie.

Oleh karena itu kami dari penyelenggara mengapresiasi dan berterimakasih kepada pihak Polda Aceh, Kodam Iskandar Muda, para pasangan calon dan seluruh masyarakat Aceh yang telah mendukung pelaksanaan Pilkada dapat berlangsung aman dan damai,” tuturnya.(mag-68/mai)