PENA RENCONG: Formasi Ala-Ala Pilgub Aceh

Oleh: Ichsan Maulana*

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) baru saja usai. Dalam kontestasi pilkada kali ini, selain memilih calon kepala daerah untuk kabupaten/kota, yang tak kalah menyita perhatian adalah pemilihan calon gubernur (Pilgub). Pilgub Aceh cukup meriah, puncaknya adalah kala debat cagub yang difasilitasi oleh KIP sebanyak tiga kali. Sepanjang perjalanan debat berlangsung, semua mata tertuju ke layar televisi untuk menyaksikan calon pemimpin Aceh kelak. Media sosial pun tak kalah hebohnya, analisa, apresiasi bermunculan, hingga meme kocak bertebaran. Salah satu meme yang paling menyita perhatian ialah ilustrasi dalam desain karton yang menampilkan para cagub dan cawagub dalam sebuah formasi ala-ala sepakbola.

Ketika politik terasa begitu berat dan meyesakkan dada, meme-meme kreatif acapkali muncul sebagai penyejuk. Mengulas politik dengan term pilkada, rasa-rasanya sudah banyak yang memulai. Namun, belum ada yang menulis dengan pendekatan sepakbola. Kekosongan itulah menjadi alasan bagi penulis untuk mengulas pilgub Aceh dengan segala figur dan tokoh yang ada untuk disajikan dalam esai sepakbola.

Adalah Zen R.S, dalam bukunya Simulakra Sepakbola, pernah mengulas sebuah tulisan mengenai sepakbola dengan formasi para tokoh bangsa. Di dalam formasinya, Zen R.S memasukka nama-nama seperti; Soekarno, Tjokroaminoto, Tan Malaka, hingga Agus Salim. Apa yang pernah diulas oleh Zen, agaknya menarik untuk dijadikan rujukan dengan menulis formasi ala-ala cagub Aceh. Kontestasi cagub Aceh yang dikuti sebayak 6 pasangan calon gubernur (Paslongub), dengan total 12 orang (enam cagub dan enam cawagub) cukup cocok untuk diformulasikan dengan format formasi 11 pemain dan 1 orang pelatih. Setelah melalui perenungan sedikit lama, penulis memutuskan untuk menerapkan formasi 4-4-2.

Pilihan saya untuk posisi pelatih kepala jatuh kepada Zakaria Saman (Apa Karya), mengingat ia adalah tokoh GAM yang paling disegani dengan jabatan sebagai Menteri Pertahanan (Menhan). Sebagai menhan, tentu dibekali strategi dan taktik segudang. Kelebihan inilah yang menghantarkannya layak untuk mengemban tugas sebagai juru taktik; pelatih.

Posisi penjaga gawang (kiper) diisi oleh Zaini Abdullah (Abu Doto), sebagai seorang yang sudah sepuh, dengan pengalaman hidup yang matang, ditopang oleh pribadi teduh nan tenang, adalah modal penting bagi seorang kiper dalam menghadapi lawan yang trengginas.

Untuk posisi bek tengah diisi oleh TA Khalid, postur jangkungnya berguna untuk memenangkan duel-duel udara, sekaligus dapat mengantisipasi umpan crossing sayap-sayap lawan. Bek tengah lainnya layak diisi oleh Tarmizi Karim, ketenangan serta kecerdasannya merupakan modal penting untuk melengkapi TA Khalid. Tarmizi Karim yang dikenal pintar, diharapkan mampu mengorganisir pertahanan dengan baik, sembari membagun serangan dari bawah. Tarmizi karim yang juga paham konsep pembagunan dengan visi dan misi yang cemerlang, adalah alasan bahwa ia adalah elemen vital di jantung pertahanan dengan dwi fungsi; menggalang dan mengorganisir pertahanan, serta membangun serangan dari bawah.

Bek kanan dan bek kiri diisi oleh dua putra terbaik Gayo. Nova Iriansyah sebelah kanan dan Nazaruddin di sebelah kiri. Sebagai seseorang yang tumbuh besar di dataran tinggi, memiliki pandangan luas, tidak gampang meledak-ledak, geografis Gayo yang terkenal dingin nan sejuk, cukup baik untuk meredam serangan sayap lawan yang punya kecepatan. Dingin dalam menghadapi provokasi sayap lawan adalah modal baik dalam meminimalisir blunder non tehnis, seperti; gampang terpancing emosi yang resikonya dapat diganjar kartu merah.

Posisi paling sentral dalam sebuah keseblasan adalah gelandang. Di posisi ini, T. Alaindinsyah dengan latar belakang seorang arsitek, lebih dari cukup untuk mengemban tugas sebagai arsitek permainan kesebelasan Pilgub Aceh. Sedang gelandang bertahan, diisi oleh Abdullah Puteh. Postur tubuh agak tegap dengan pengalamannya memimpin Aceh dimasa konflik, cukup mengerti bagimana menghadapi serangan lawan serta menjadi penyeimbang tim. Di masa kepemimpinannya dahulu, ia kerap menjadi katalisator antara pihak TNI-GAM. Gelandang bertahan yang notabene dituntut menjadi penghubung antara lini pertahanan dan lini serang, agaknya, cocok dengan pengalamannya memimpin Aceh di masa konflik.

Sedangkan posisi winger atau sayap, diisi oleh dua putra terbaik barat-selatan; Machsalmina Ali (sayap kanan) dan Sayed Mustafa Usab (sayap kiri). Keduanya memiliki latar belakang menawan, yang satu pernah menjabat lama sebagai Bupati Aceh Selatan, yang satunya lagi adalah koordinator GAM barat selatan dan pernah menjabat sebagai DPR menggantikan Azwar Abubakar yang kala itu diangkat menjadi mentri di era SBY. Keduanya harus mampu mengobrak-abrik pertahanan lawan dengan umpan yang memanjakan penyerang.

Nah, untuk posisi stiker atau penyerang, tentu amat layak diisi oleh dua tokoh GAM kaliber; Irwandi Yusuf dan Muzakkir Manaf. Di era kejayaan, dua tokoh ini memiliki peran krusial. Yang satunya adalah juru propaganda GAM, dan satunya lagi adalah panglimanya GAM. Secara posisi kemenangan pun, keduanya menempati urutan pertama dan kedua dalam kontestasi pilgub kali ini. Kolaborasi sang propaganda dengan panglima perang, adalah kolaborasi paling ‘mengerikan’ untuk menporak-porandakan pertahanan lawan, yang pada giliranya akan terciptanya gol-gol idaman. Gol-gol yang diharapkan untuk konteks kekinian ialah gol-gol pembagunan dengan harapan terciptanya kesejahteraan yang adil bagi segenap rakyat Aceh. Bukan Cuma untuk satu dua kelompok.

Formasi imajiner dengan kombinasi politik-pilkada-ketokohan yang diramu dengan pendekatan pisau bedah olahraga, yang sepakbola adalah hidangan utamanya, cukup mampu membuat kita rileks untuk melihat politik juga proses demokrasi dalam term pilkada dalam lintas perspektif. Sebagaimana sepakbola, tidak sekedar skor akhir dan menang kalah. Namun, ada banyak muatan lain yang kaya senantiasa mengiringi. Pun, demikian halnya pilkada, tidak hanya tentang angka statistik, quick count, apalagi menang-kalah. Lebih jauh, pikada adalah pesta rakyat dengan ragam dinamika, yang layak dinikmati serta disajikan dengan kepatutan, benar dan bermartabat.

Kita kadang acap terbuai dengan ketokohan dengan sorotan figur-figur pilihan, hingga lupa instrumen lain, yang padahal tak kalah penting. Sama halnya dengan betapa bebalnya fans fanatik yang hanya tau mengkultuskan Ronaldo dan Messi, mereka silau akan kebesaran sebuah klub, pemain lainnya, hingga sumbangsih taktik seorang pelatih.

Dalam sebuah formasi, idealnya, setiap tatanan maupun elemen memiliki dak keawajiban serta harus dimaknai dan dihargai sama pentingnya. Sebab, jika salah satunya saja yang mendapatkan perhatian, hanya akan menimbulkan ketidakharmonisan dalam sebuah kesebelasan. Di Aceh, kontestasi pilgub kali ini ini, sudah menampilkan anak-anak bangsa Aceh terbaik. Harusnya, setelah pilkada ini berlalu, mereka kembali bersatu sebagai sebuah kesebelan, sebagai Aceh. Karena Aceh merupakan entitas yang perlu terus diupaya menangkan. Terutama dari pihak-pihak yang hendak merong-rong ke-Aceh-an kita.

 

*Mahasiswa Ekonomi Pembagunan, Unsyiah. Email: ichsanmaulana.icm@gmail.com. Twitter: @ichsanicm