Zulaikha Dituntut Hukuman Mati

DITUNTUT MATI: Suasana sidang kasus penggeranatan mobil dinas Anggota DPRK Bener Meriah di pengadilan Negeri Redelong, Selasa (28/2). MASHURI/RAKYAT ACEH

Sidang Pengranatan Mobil DPRK

REDELONG (RA) – Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kardono SH dan Ismail Syam SH, dalam sidang lanjutan kasus pengranatan mobil dinas anggota DPRK Bener Meriah menuntut terdakwa Siti Zulaikha dan Aidil Fitriadi hukuman mati, Selasa (28/2). Seperti diketahui, akibat perbuatannya menyebabkan istri dan dua anak Mansur meninggal.

Agenda pembacaan tuntutan tersebut dipimpin hakim ketua Azhari SH,MH didampingi oleh hakim anggota Yusrizal,SH dan Moratua Hasayangan RS berlangsung tertib. Ruang sidang dikawal ketat sejumlah polisi bersenjata lengkap.

Turut hadir dipersidangan keluarga Mansur Ismail dan keluarga Siti Zulaikha. Hakim ketua, mengawali persidangan dengan memberikan kesempatan pada Jaks
Hakim ketua Azhari, memberikan kesempatan kepada JPU untuk membacakan tuntutan sesuai dengan agenda nomor perkara 74/Pid.B/2016/PN Str dan 74/Pid.B/2016/PN Str atas terdakwa Siti Zulaikha dan Aidil Fitriadi.

JPU meminta majelis hakim negeri Simpang Tiga Redelong yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan, menyatakan terdakwa Siti Zulaikha terbukti secara sah dan meyakinkan, melakukan tindakan penyertaan dalam tindak pidana merampas nyawa orang lain.

Lebih lanjut Kardono menambahkan, lima dakwaan tersebut diantaranya yaitu melanggar pasal 30 jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana dan kedua, melanggar pasal1 Ke-1 UU darurat nomor 12 tahun 1951 tentang kepemilikan senjata api dan bahan peledak jo pasal 55 ayat 1 Ke-1KUH  Pidana.

Ketiga terdakwa juga melanggar pasal 80 ayat 3 jo pasal 76C UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Keempat, terdakwa melanggar pasal 353 ayat 2 KUHPidana jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHPidana dan kelima terdakwa melanggar pasal 30 ayat 2 jo pasal 76C UU RI Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak.

Usai persidangan, Railawati penasehat hukum terdakwa menyampaikan, menghargai hak-hak korban namun demikian, ia juga berharap keadilan seadil-adilnya. Menurutnya terdakwa juga merupakan sorang ibu muda dari anak-anak yang masih kecil, sehingga hal tersebut dapat menjadi pertimbangan hakim.

Selain itu, menurutnya, ancaman hukuman itu terlalu tinggi meskipun pembunuhan itu dilakukan secara berencana. “Hak-hak lainnya sudah dicabut termasuk tidak bisa bertemu dengan keluarga dan ini sangat tidak adil. Intinya, dalam peledoi nanti akan kita sampaikan, saya fikir, banyak keterlibatan orang lain termasuk suami terdakwa yang harus bertanggungjawab atas terjadinya kasus ini,” ujarnya. (mag-70/mai)