Biaya Perawatan Mahal

BESI TUA: Kapal kesehatan Klinik Terapung II yang kandas, kini jadi besi tua di Pelabuhan pendaratan ikan Kabupaten Simeulue, Rabu (1/3). AHMADI/RAKYAT ACEH

Kapal Klinik Terbengkalai

SIMEULUE (RA) – Kapal klinik terapung bantuan masyarakat yang disalurkan melalui Menko Kesra dan Pemerintah Aceh, untuk masyarakat Simeulue paska gempa dan tsunami 2004, terbengkalai di pelabuhan pendaratan ikan, Kecamatan Simeulue Timur. Diketahui, kapal tersebut telah diserahterimakan pada pemerintah setempat.

Akibat berlabuh terlalu lama tanpa perawatan, kapal itu kini rusak. Diperkirakan, kapal sudah tidak difungsikan sejak pemerintahan dua priode Bupati Drs Darmili, hingga priode pemerintahan Drs H Riswan NS.
Dinas Kesehatan Kabupaten Simeulue, beralasan terbengkalainya kapal karena biaya operasional sangat tinggi. Selain itu, sejumlah desa yang ada di pulau-pulau berpenghuni telah dilengkapi tenaga medis dan fasilitas kesehatan.

“Biaya operasional kapal kesehatan klinik terapung itu sangat tinggi, karena sesuai dengan spesifikasi kapalnya dan benar kapal itu merupakan bantuan pasca bencana alam 2004 lalu”, kata Safi’i, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Simeulue, kepada Rakyat Aceh, Rabu (1/3).

Ia juga mengaku tidak mengetahui secara terperinci persoalan kapal kesehatan klinik Terapung II, hingga menjadi besi tua. Pasalnya, ia baru menjabat menjadi Sekretaris Dinas Kesehatan, pada akhir tahun 2016 lalu.

“Jujur saya baru mengetahuinya, sebab selama ini tidak ada laporan kepada saya. Saya baru menjabat sebagai Sekdis, sehingga saya tidak dapat memberikan informasi secara terperinci tentang kapal untuk kebutuhan kesehatan itu,” imbuhnya.

LSM Lembaga Simeulue Center, yang menduga ada unsur kesengajaan Pemerintah Kabupaten Simeulue, tidak mengoperasikan dan tidak fungsikan fasilitas kesehatan itu.

“Itu fasilitas memiliki peranan penting di bidang kesehatan, karena sesuai dengan kondisi daerah kita yang geografisnya kepulauan. Patut kita duga ada unsur kesengajaan dari pemerintah Simeulue yang menelantarkan kapal itu hingga menjadi besi tua dan rusak berat”, kata Adhi Warsah, Ketum LSM LSC.
Ia mengaku telah turun langsung melakukan pengechekan kondisi kapal kesehatan klinik terapung itu, seluruh fasilitas untuk penanganan pasien telah hilang dan rusak, serta dua unit mesin tempel masing – masing bertenaga 200 PK, serta badan kapal telah bocor.

Adhi memperkirakan harga kapal dan lengkap fasilitas tersebut, ditaksir sekitar Rp3,5 miliar. Ia sayangkan terbuang sia-sia, tidak dipergunakan untuk kepentingan kesehatan dan menyelamatkan nyawa pasien yang membutuhkan perawatan medis secara cepat dan tepat di Kabupaten Simeulue.

Selain itu, ia juga menyebutkan legislatif tidak serius melakukan pengawasan dan kurang peduli hingga kapal klinik rusak berat. “Saya minta, dengan kondisi kapal kesehatan itu telah jadi besi tua dan rusak berat, nantinya pihak legislatif dan eksekutif jangan saling tuding, itu murni kelalaian mereka yang kurang peduli, aset sudah diberikan dengan cuma-cuma, tapi untuk merawat dan memanfaatkan saja tidak mampu,” tegasnya. (ahi/mai)