Akhyar Ilyas Foto: ARIFUL USMAN/RAKYAT ACEH

Harianrakyataceh.com,Banda Aceh – Kompetisi Liga 2 Indonesia 2017 segera bergulir awal April mendatang. Namun, hingga kemarin Persiraja yang sudah melakukan seleksi pemain, belum memiliki seorang pelatih. Karena tim formatur belum menunjuk.

Terakhir dalam perjalanan Persiraja di Indonesia Soccer Championship (ISC) B 2016 lalu. Akhyar Ilyas menjadi pelatih kepala di klub berjuluk Laskar Rencong -Persiraja. Prestasinya, terbilang sukses, karena diluar dugaan Persiraja melambung ke 16 besar ISC B. Lagi-lagi financial jadi hambatan.

Namun, bagi Akhyar Ilyas hal itu tidak menjadi masalah, di awal karirnya sebagai pelatih Persiraja pada musim 2014. Dari delapan bulan kerja, pemain hanya digaji satu bulan. Tentu butuh ketabahan untuk menghadapi kondisi finansial itu.

Meski berada di posisi ke-enam perolehan klasemen, namun, Persiraja Banda Aceh telah memastikan diri bertahan di kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia (Rakyat Aceh, 30 Agustus 2014).

Di tengah keterbatasan finansial, tim Persiraja tampil sangat mengejutkan. Apalagi, setelah berhasil menghindari zona degradasi ke Liga Nusantara pasca mengalahkan PS Bintang Jaya dengan skor 3-1 di stadion Haji Dimurthala, Lampineung, Banda Aceh.

Keberhasilan tim Persiraja tersebut tentunya tidak lepas dari peran penting sang pelatih yang dikenal akrab dengan pemain. Akhyar dinilai sebagai sosok penting yang membuat Persiraja tampil gemilang saat itu.

Akhyar mengawali debutnya sebagai pelatih kepala Persiraja dengan manis. Dimana, pada pertandingan pertama Persiraja di Divisi Utama Liga Indonesia 2014, berhasil menekuk PSMS Medan 1-0 di depan masyarakat Aceh, Stadion Haji Dimurthala.

Musim terakhir, juga hal serupa masih menyelimuti kubu Lantak Laju. Di tengah berbagai masalah tersebut, Akhyar Ilyas bersama dua asistennya Wahyu AW dan Purwanto, tetap bekerja dengan semangat dan loyalitas tinggi demi satu misi, yakni membawa nama harum Persiraja Banda Aceh di kancah sepak bola nasional.

Tak ayal, sentuhan dingin eks Persija Jakarta kelahiran Banda Aceh 1 Desember 1983 ini, membuat Persiraja tidak tinggal nama. Sentuhannya sangat dirindukan, termasuk musim lalu saat Akhyar mampu membekuk tim-tim kuat Sumatra, seperti PSPS Pekanbaru, dan PSMS Medan. Persiraja pun dikenal tidak hanya jago kandang, poin penuh dari kandang tim kuat PSPS Pekanbaru menjadi bukti, saat Fahrizal Dillah dan Fadhil Ibrahim mencetak dua gol di kandang lawan untuk kesudahan skor 1-2.

Akhyar Ilyas merupakan pelatih yang sudah merasakan pahit manis bersama klub Ibukota Provinsi Aceh, Persiraja Banda Aceh. Manisnya janji, dan pahitnya kenyataan sudah menjadi santapan pemegang Lisensi B AFC ini tiga tahun terakhir pengabdiannya untuk Persiraja.

Salah satu anak asuhnya yang kini sudah berseragam Persijap Jepara, mengakui hal tersebut. “Saya sangat berharap bang Akhyar kembali melatih Persiraja. Saya yakin ia mampu berbuat lebih kali ini untuk Persiraja kalau manajemen sudah lebih baik. Dengan kondisi musim lalu aja, coach Akhyar bisa bawa tim hingga 16 besar,” kata Faumi Syahreza yang bermain untuk Persiraja tiga musim terakhir.

Alumni Paraguay ini menilai, mantan pelatihnya di Persiraja itu merupakan sosok yang mampu membangun karakter tim dan mengoreksi pemain secara individu.

Musim ini, jika kembali menjadi arsitek Persiraja, tentu tantangan akan lebih besar. Setidaknya finish di peringkat tiga klasemen akhir. Karena Liga 2 musim 2018, hanya akan menyisakan 24 tim dan persaingan akan lebih ketat. (rad/rif)