Sepakbola Lampoh Soh

 

Oleh: Ichsan Maulana

Sepakbola masih menjadi permainan yang paling fleksibel, bisa dimainkan kapan dan dimana saja. Bahkan menggunakan instrument apapun. Sepakbola, sebagaimana namanya, dengan penggabungan dua kata; ‘sepak’ dan ‘bola’. Sepak bermakna gerakan, sederhananya, menedang. Selain itu, tentu, membutuhkan bola sebagai objek utama. Namun, bola disini tidak serta merta berarti bundar nan bulat. Bisa saja, objeknya berbetuk lain yang masik bisa disepak dan ditendang. Entah itu kertas yang dilipat, botol bekas, bahkan tak jarang ketika iseng kita sering melihat anak-anak menendang batu kecil, juga boh leuping.

Sedangkan arena permainannya tidak melulu menuntut sebuah stadion megah dengan standar internasional. Sepakbola, selalu menyediakan ruang lain bagi para penggilanya untuk memanfaatkan setiap arena yang ada, misal di Aceh: Lampoh Soh.

Lampoh soh pada dasarnya berarti sebuah area atau lahan kosong. Cuman, kosong disini bukan berarti tidak adanya tumbuhan apapun di lahan tersebut, tidak serta merta pula tanpa kepemilikan. Hanya saja, lampoh soh, tersedianya area kosong di badan tanah tersebut. Kadang, dikelilingi ilalang, tak jarang pula disekitarannya ditumbuhi pohon kelapa atau juga pohon pinang.

Bagi anak-anak Aceh, lampoh soh memiliki ikatan emosional kuat atas nama sepakbola. Hampir saban senja, lepas beraktifitas, lampoh soh menjadi titik kumpul untuk memainkan sepakbola. Tidak ada yang lebih romantis selain masa kecil yang sore harinya dihabiskan dengan memainkan sepakbola. Ada ragam kisah yang kerap megetuk-getuk kerinduan, betapa menakjubkan masa kecil dengan romansa bola dalam lampoh soh.

Semasa kecil, penulis kerap menghabiskan waktu dengan bermain bola di lampoh soh bersama teman sejawat. Ada Bang Jo, penggila berat Inter Milan. Ada Ikhwan dengan julukan Si Bodrex, sekalipun bukan penggila sepakbola tulen, namun ia menyatakan diri bagian dari pengagum timnas Jerman. Ada Masykur dengan perawakan tak ubahnya Yaya Toure KW super. Ada Fuadi alias Popo, penyuka siapa saja yang tengah tenar, seingat saya, kemarin waktu setelah tumbuh dewasa ia sedang jatuh cinta kepada Neymar JR. Ada Komo, penyuka Iker Casillas serta Ronaldo, ketika menjadi penjaga gawang, ia menggunakan baju bola dengan nama punggung Casillas, sedangkan kala ia ingin menjadi penyerang, hampir selalu ia mengenakan baju bernama punggung Ronaldo. Dan teman-teman lainnya.

Tak berlebihan bila lampoh soh adalah akademi alam yang pernah menempa anak-anak gampong. Jikapun di masa remaja-dewasanya tidak meneruskan impian sebagai pemain bola professional, minimal, lampoh soh pernah menjadi stadion yang paling bebas dengan semangat masa kanak-kanak yang imut lagi mendebarkan.

Di lampoh soh, permainan sepakbola seolah sedang menertawakan sepakbola itu sendiri. Peraturan yang telah disusun FIFA tidak berlaku di sana, tiang gawang hanya bermodal ranting kayu, bambu, atau peuleupeuk meuria. Memulai pertandingan di sore hari, dan mengakhirnya ketika di meunasah atau mesjid gampong, para bilal sudah menghidupkan kaset dengan lantunan suara merdu para qori.

Tak jarang, sangking semangatnya, anak-anak gampong yang sedang khusyuknya berlaga, baru mengakhiri permainan kala azan berkumandang. Bahkan, pernah beberapa kali orang tua menjemput paksa anak-anaknya untuk segera pulang. Tentu, dengan jurus seribu langkah anak-anak bergegas pulang. Sebuah adegan ke-apa-ada-nya yang senantiasa memenuhi memori kenangan masa lalu. Bahwa sepakbola pernah sesederhana itu! Dengan kelezatan yang aduhai.

Segala memori yang ada dengan sepakbola dan lampoh soh sebagai tokoh utama, agaknya, tidak bisa dipandang sebelah mata. Nun jauh di belahan bumi yang lain, Amerika Latin dengan Brazil didalamnya, adalah potret sepakbola yang mampu menembus sekat dengan memanfaatkan ruang yang ada sebagai arena bermain bola. Kita paham, sepakbola ‘jalanan’ telah melahirkan seniman sepakbola kaliber dunia yang melagenda, bahkan, belum ada penggati yang sepadan. Dengan bangga dan penuh kerinduan kita menyebutkan namanya: Ronaldinho.

Jika Brazil memanfaatkan jalanan sebagai arena lain untuk berlatih dan menikmati sepakbola dengan segala kegembiraan dan motivasi yang ada. Maka Aceh, memiliki lampoh soh, yang sumbangsihnya kerap melahirkan bibit-bibit unggul sebagai pemain bola handal.

Dari lampoh soh lah, di Aceh, seorang pemain meniti tangga. Mula-mula bermain untuk gampong dengan pertandingan persahabatan melawan gampong lainnya. Lalu, beranjak ke kompetisi lebih serius; turnamen 17 Agustus. Lepas dari itu, pemain Aceh yang bermain cemerlang di turnamen 17-an biasanya akan dilirik oleh gampong lain dan diajak bermain membela sebuah kesebelasan. Dalam istilah kami, sering dikenal dengan istilah ‘pemain bond’, pemain sewaan. Dari sanalah, pemain gampong terus tumbuh dan berkembang melewati tangga-tangga karir berikutnya.

Kita tidak pernah tau bagaimana rahasia Tuhan mengenai masa depan dan karir seorang pemain bola. Terlebih, bagi mereka yang berasal dari pelosok gampong. Ada yang beruntung, juga lebih banyak tak beruntung. Kegemilangannya, kerap tak terendus oleh pencari bakat handal.

Di atas segalanya, dalam entitas sepakbola Aceh, lampoh soh telah memberikan dampak positif dalam tumbuh kembangnya bakat-bakat alam. Lampoh soh, telah menjadi lapangan bola tak resmi yang non standar, di saat banyak lahan-lahan luas dialih sulapkan menjadi kebun sawit dan aneka keperluan lainnya. Lampoh soh juga telah menjadi pahlawan, bagi anak-anak yang lapangan bola gampongya kerap dimonopoli oleh orang dewasa yang tak pernah terketuk hatinya; bahwa regenerasi merupakan sebuah keniscayaan.

Lampoh soh, lebih jauh, adalah tanah dasar tempat anak-anak gampong menyemai mimpinya menjadi seorang pesepakbola di masa hadapan. Bagi mereka, sederhana saja, jikapun tidak beruntung menjadi pemain internasional mengenakan jersey klub-klub dunia, setidaknya, mereka harus bisa berseragam klub daerah tingkat kabupaten/kota. Andaipun itu tak tercapai, sesederhananya harapan, mereka harus layak membela kesebelasan gampong yang ia banggakan.

Terima kasih lampoh soh, jasamu akan selalu kami kenang. Setidaknya, sepakbola telah mejadi perekat emosional antara kita. Kalaupun kini kami yang sudah beranjak dewasa tidak menjadi pemain bola handal, minimal, hadirmu sudah menggurat kisah dan romansa masa lalu yang terus kami kenang. Dan itu, sungguh mahal!

 

Penulis merupakan mahasiswa Ekonomi Pembagunan, Unsyiah. Email: ichsanmaulana.icm@gmail.com. Twitter: @ichsanicm