Essien dan Filosofi Botol Kecap

Oleh: Ichsan Maulana

Di tengah nuansa berkabung yang menyelimuti Persib Bandung lantaran gagal mempertahankan gelar juara Piala Presiden, kabar bahagia malah datang sekaligus mengejutkan. Ya, Persib berhasil mendatangkan pemain kaliber dunia yang telah malang melintang di liga maupun klub-klub besar eropa, dialah Micheal Essien.

Berlabuhnya Essien di dunia persepakbolaan tanah air sontak membuat banyak orang terkejut, deretan prestasi yang telah ia peroleh, meski kini ia sudah mendekati senja kalanya, nama Essien rasa-rasanya cukup laris untuk memilih beberapa klub yang lebih besar, kaya, dan liga yang wah. Namun, entah apa yang merasuki benak Essien sampai-sampai ia menambatkan hatinya di kota Bandung, mungkin, anggap saja ia, meminjam headline dari Daily Mail; Essien mencari tantangan baru. Atau, saya jadi curiga, siapa tau, pernah ada gossip bahwa Bandung, surganya neng gelis. Duh!

Kita patut mengapresiasi langkah Persib atas keberhasilan mendatangkan Essien, sekaligus juga bertanya apa dampak dari bergabungnya Essien baik untuk Persib secara khusus, dan sepakbola Indonesia secara umum. Hemat saya, merekrut Essien di tengah ancaman cedera yang sangat rentan menimpanya. Essien, bagi Persib bukan hanya sekedar untuk memperkuat kedalaman skuad ‘Maung Bandung’. Sebab, jika hanya karena alasan itu, rasa-rasanya Persib tidak perlu jor-joran dalam mengelontorkan uangnya demi satu pemain yang beresiko tinggi.

Persib dengan segala pengalaman yang dimilikinya, kalkulasi rinci, serta target market yang ada, mengerti betul, bahwa  perpaduan antara Essien dengan nama besar, deretan prestasi, hingga diaspora karirnya dari satu klub besar ke klub (lebih) besar lainnya, merupakan sebentuk magnet untuk menarik perhatian dunia. Minimal, Asia. Ditambah lagi, Persib dikenal dengan jumlah fans  yang terbilang salah satu terbesar di Indonesia, dengan sejarah serta tradisi yang kuat, sudah lebih dari cukup untuk menujukkan daya tawarnya dalam mengoalkan target marketnya.

Apa yang tertera di bagian atas merupakan sebuah keniscayaan dalam mendongkrak kapital sebuah klub, sekaligus merebut market industri sepakbola. Perpaduan antara nama besar Essien, klub Persib dengan fans yang militant dan banyak, secara geografis berada di kota besar, adalah sebentuk gula yang akan dihinggapi semut-semut investor yang mau berinvestasi di ranah olahraga: sepakbola. Dengan kata lain, jika Persib adalah sebentuk wajah, militansi juga antusiasme bobotoh sebagai pancaran aura,  maka, Essien ialah susuk pemikatnya! Tentu, dalam term market sepakbola.

Tentu kita paham bahwa dalam hal bisnis, terlebih bisnis di ranah sepakbola, selalu menyisakan resiko yang terbilang tinggi.  Salah resiko yang menghantui Persib adalah persoalan cedera yang akrab dengan Essien. Sebagaimana dilansi oleh situs Transfermarkt, sejak musim 2008-2009 telah tujuh kali Essien mengalami cedera sekaligus memaksanya untuk melewati 37 laga bersama Chelsea. Di tahun 2010 ia mengalami cederabantalan sendi lutut, ia pun absen sebanyak 24 laga. Cedera pun kembali menaungi Essien di  tahun 2011-2012. Setelah lama tak cedera, baru di tahun 2015-2016 Essien kembali cedera.

Aspek cederalah yang menyeret Persib dalam sebuah perjudian. Sederhanya, jika cedera tidak menghampiri Essien kala mengarungi Liga 1 yang akan berlangsung 15 April ini, maka, Persib jelas sangat untung. Sekali dayung dua pulau terlampaui: market sukses, dan kedalam skuatpun matang. Namun, jika Essien tiba-tiba cedera, Persib rugi secara kedalaman skuat serta menguras kas Persib, baik untuk pengobatan maupun pengeluran gajinya yang di atas rata-rata pemain yang bermain di klub Indonesia. Hanya satu yang tidak bisa dipungkiri, Persib dibicarakan dan dipertimbangkan untuk berinvestasi didalamnya.

Nah, disinilah filosofi botol kecap memainkan andilnya. Biasanya, kita lebih sering mengenal istilah ‘jual kecap’ yang identik dengan retorika politis dalam menjual, mengolah, ataupun lips service. Hanya saja, penggunaan kata botol (kaca), dikarenakan penyesuaian dengan Essien yang sering cedera. Pemain yang sering cedera diistilahkan dengan pemain kaca. Sedangkan frasa kecap merupakan bentuk promosi diri, baik Persib maupun sepakbola Indonesia secara menyeluruh.

 Kita berharap, kehadiran Essien di kancah sepakbola Indonesia menjadi pintu gerbang untuk merangsang pemain dunia lainnya. Di tengah sindrom Liga Tiongkok megejala dan memusingkan sepakbola eropa, di tambah lagi dengan adanya spirit perubahan di rezim PSSI yang baru, rasa-rasanya momentum ini layak untuk dioptimalkan sekaligus terus berupaya untuk memperbaiki kualitas, meningkatkan citra, hingga tak pernah lelah belajar.

Kita layak optimis bahwa ketika kompas sepakbola sedang (akan) mengarah ke Asia, Indonesia harus cekatan dalam mengambil posisi. Sebab, jika momentum ini tidak dipergunakan sebaik mungkin, jangan pernah menyalahkan keadaan jika kita terus saja marginal dan tak lebih sebagai penonton dan konsumen dalam aquarium industri sepakbola dunia. Karena baik Asia dan Indonesia, tidak boleh lagi hanya dipandang sebagai konsumen sepakbola yang dikeruk keuntungannya kala tour pra musim tiba. Sudah saatnya, Asia dan Indonesia menjadi produsen, minimal, produsen kaki lima.

Apa yang telah dimulai Persib, kehadiran Essien, efek manuver Liga Tiongkok, semangat (angin) perubahan dalam kepengurusan PSSI yang sekarang. Adalah sebentuk modal untuk kemudian menyiasati taktik dalam memenangkan percaturan industri sepakbola dunia.(*)

Penulis merupakan mahasiswa Ekonomi Pembagunan, Unsyiah. Email: ichsanmaulana.icm@gmail.com. Twitter: @ichsanicm