GARIS POLISI: Rumah Juman dan Misno masih diterdapat garis polisi pasca penembakan terjadi beberapa waktu lalu, Aceh Timur, Rabu 22/3. MAULANA/RAKYAT ACEH

Aceh Timur ( RA)-Penaron Baru menjadi buah bibir sejak pekan pertama Maret. Desa pedalaman Aceh Timur itu, menjadi pembicaraan usai kelompok bersenjata menyiram timah panas ke rumah warga. Rakyat Aceh bertandang ke lokasi, melihat langsung kondisi terkini, mengumpulkan harapan warga.

Rumah Juman dan Misno, korban penembakan di Desa Peunaron Baru, Kecamatan Peunaron, Kabupaten Aceh Timur, hingga kemarin masih dilingkari garis polisi. Kedua rumah itu, terpantau masih sepi hingga kemarin.

Sementara kedua korban dikabarkan masih dirawat di Banda Aceh, sementara polisi masih bekerja keras mengejar dan mengungkap pelaku teror. Kendati polisi berseragam tak terlihat di lokasi, namun rumah tersebut masih mendapat pengamanan pihak kepolisian.

“Setelah kedua korban dirujuk ke Banda Aceh tidak satupun keluarga korban yang terlihat di rumah,” ujar Yetno, seorang warga, Rabu (22/3).

Selain itu, gudang sawit milik Juman juga terlihat belum beroperasi seperti biasa. “Mudah-mudahan kedua korban cepat pulih bisa beraktivitas seperti biasa,” harap Yetno.

Membutuhkan waktu dua jam, jika ditempuh lewat Simpang Gampong Beusa, Kota Peureulak. Mayoritas penduduk di sana berprofesi sebagai petani. Sawit, karet, kakau, padi dan tanaman palawija lainnya merupakan hasil bumi yang didapatkan dari daerah pedalaman itu. Tak cukup itu, minyak bumi dan gas juga disebut-sebut sangat potensial di sana.

Namun ekonomi warga tak berjalan lancar, bila suasana mencekam. Hal itu terjadi sejak peristiwa penembakan beberapa waktu lalu. Walau dilaporkan telah kondusif, tapi warga masih takut beraktifitas.
“Suasana yang saat ini dipertontonkan oleh oknum sangat merugikan kita rakyat kecil. Alasan ini sangat logika, jika Aceh Timur terus digempur dengan rasa tidak nyaman tentu korbannya adalah rakyat kecil seperti kami,” ujar Muhammad Saleh, seorang warga.

Menurutnya, warga masih takut konflik berulang. “Letusan senjata, razia besar-besaran membuat rasa takut itu kembali kita alami. Maka dalam hal ini sangat berharap kepada siapapun untuk menjaga masyarakat agar masyarakat tak menjadi korban,” katanya.

Harapan serupa disampaikan, Abdullah, pedagang klontong di Idi Cut. Ia juga meminta polisi agar sukses mengusut tuntas kasus penembakan tersebut.

“Biarlah semua itu tugas polisi. Kita masyarakat cukup di tengah saja jangan memihak kemana pun. Selaku rakyat kita tidak ada kepentingan di situ. Kita hanya butuh keamanan agar bisa menghidupi keluarga di rumah. Yang intinya kita harapkan adalah keamanan, supaya masyarakat berdagang lancar, bertani aman, kelaut aman, semua aman,” ujar Abdullah.

Sementara itu, Tengku Sanusi, tokoh agama di Aceh Timur berpendapat bahwa segala sesuatu yang sedang menimpa Aceh Timur merupakan sebuah cobaan yang sedang diuji oleh Allah.“Mari kita berpegang kepada ketentuan Allah. Secara hakikat kita sedang di uji. Maka berpandai- pandailah kita menilai ujian Allah supaya kita mendapat lindunganNya. Kita sangat berharap Aceh Timur menjadi baldatunthaibatun warabbul ghafur,” sebutnya Tengku Sanusi. (mai)