Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

INTERNASIONAL · 23 Mar 2017 08:49 WIB ·

Twitter Blokir 376 Ribu Akun Penyebar Kebencian


 Ilustrasi (Bloomberg) Perbesar

Ilustrasi (Bloomberg)

Harianrakyataceh.com – Ribuan akun diblokir Twitter. Penyebabnya, akun-akun tersebut dinilai menyerukan aksi terorisme. Pada Selasa (21/3), perusahaan yang berbasis di San Francisco, California, Amerika Serikat (AS), itu menjelaskan, sepanjang semester terakhir 2016, total 376.890 akun ditutup. Jika dirata-rata, setiap bulan ada 63 ribu akun. Jumlah tersebut naik 60 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Yakni, 24 ribu akun per bulan.

Sikap itu diambil setelah perusahaan teknologi yang berdiri sejak 21 Maret 2006 tersebut mendapatkan tekanan dari berbagai negara. Twitter dituntut lebih agresif mencegah ekstremis dan pihak-pihak tertentu yang menggunakan jejaring sosial tersebut untuk merekrut pendukung dan melakukan penyerangan. Baik itu yang berbau politik maupun keagamaan. Termasuk seruan-seruan bernada kebencian.

Perusahaan yang didirikan Jack Dorsey, Noah Glass, Evan Williams, dan Biz Stone itu menghapus akun-akun berbau ekstremisme sejak Agustus 2015. Hingga akhir 2016, total ada 636.248 akun yang sudah diblokir.

Twitter tidak lagi menunggu laporan dari pengguna lain maupun pemerintah sebelum memblokir akun tersebut. Mereka punya software untuk mendeteksi adanya ajakan yang mengarah ke terorisme dan ekstremisme. Sebanyak 74 persen akun yang diblokir sejak pertengahan tahun lalu tadi diidentifikasi software tersebut.

’’Kurang dari 2 persen lainnya ditutup setelah pihak yang berwenang mengajukan komplain jika pengguna yang bersangkutan melanggar syarat dan ketentuan Twitter,’’ ujar pihak Twitter dalam laporan transparansi yang dirilis.

Jejaring sosial berlogo burung berkicau itu juga mengungkapkan adanya kenaikan permintaan dari pemerintah untuk menurunkan pesan ataupun konten tertentu yang diunggah jurnalis maupun media. Yang paling banyak mengajukan adalah Turki. Sebanyak 77 di antara 88 permintaan resmi dan perintah pengadilan yang masuk sepanjang semester kedua 2016 berasal dari Istanbul.

’’Mengingat tren global pemerintah berbagai negara yang mengancam kebebasan pers, kami ingin menggarisbawahi permintaan tersebut,’’ kata pihak Twitter. Mereka mengajukan keberatan secara resmi pada sebagian besar perintah pengadilan. Namun, di Turki, tidak ada satu pun keberatan dari pihak Twitter yang diterima. Mereka akhirnya menarik 15 cuitan dan menutup 14 akun sebagai bentuk respons terhadap perintah pengadilan di Turki.

Sejak 2010, Twitter bekerja sama dengan pihak ketiga yang bernama Lumen. Informasi apa pun yang dihapus Twitter diinformasikan ke Lumen. Mereka lantas menyusunnya menjadi katalog. Dari katalog tersebut bisa diketahui konten tertentu ditarik karena apa dan siapa yang memintanya. (Reuters/AFP/sha/c14/any)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Israel Serang Yaman Lewat Udara 2 Tewas dan 80 Terluka

21 July 2024 - 14:50 WIB

WHO : Bencana Kemanusiaan di Sudan Semakin Memburuk, Harus Segera Diatasi

17 July 2024 - 15:11 WIB

Dua Dosen UIN Ar Raniry Diundang Seminar di Thammasat University Bangkok, Thailand

12 July 2024 - 17:45 WIB

Israel Bikin Murka PBB dan Kelompok Kemanusiaan Setelah Menghancurkan Terowongan Gaza

12 July 2024 - 16:03 WIB

Tega! Israel Buang Limbah ke Aliran Mata Air yang Digunakan Warga Palestina untui Minum

2 July 2024 - 15:57 WIB

Rumah Sakit di Gaza Tutup Akibat Krisis Bahan Bakar

1 July 2024 - 14:45 WIB

Trending di INTERNASIONAL