Ketika Buah Tin, Buah Surga Menjadi Pilihan

BERKHASIAT: Buah tin yang berada di kebun salah satu petani Trenggalek. (Radar Tulungagung/JPG)

MAHALNYA biaya perawatan menuntut masyarakat harus pandai-pandai menjaga kesehatan atau mencari obat-obatan alternatif. Khususnya memanfaatkan tanaman berkhasiat obat. Salah satu upaya tersebut bisa dilakukan dengan cara mengonsumsi buah tin.

Yusuf Mahar Dhika, salah seorang petani buah tin di Trenggalek, Jawa Timur, menyatakan, batang, daun, buah, akar, hingga getah tanaman tersebut bisa digunakan sebagai obat alternatif. Sebab, semua bagian tanaman itu dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita manusia.

”Dulu ada kerabat yang memiliki luka sulit sembuh karena kecing manis yang diderita. Namun, setelah diolesi getah dari buah ini, luka itu berangsur mengering dan penyakitnya berangsur sembuh,” terangnya.

Dia mengungkapkan, berdasar penelitian, setiap 100 gram buah tin mengandung berbagai zat yang baik bagi kesehatan. Misalnya, protein, vitamin B-6, magnesium, potasium, dan zink. Selain itu, buah tersebut tidak mengandung garam, lemak, dan kolesterol, tetapi mengandung lebih tinggi kalium, serat, dan zat besi.

Ditambahkan lagi, setiap 100 gram buah tin mengandung 20 persen keperluan zat serat harian untuk tubuh kita. Dari jumlah tersebut, lebih dari 28 persen adalah jenis serat terlarut. ”Dari penelitian itu, buah tin banyak manfaatnya bagi kesehatan dan beragam pula cara penyajiannya,” ujarnya.

Hal tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, pematangan buah tin yang hanya terjadi di pohon bisa langsung dimakan setelah dipetik. Jika tidak segera dimakan, buah tersebut bisa disajikan dalam bentuk kering bila tidak sampai membusuk, kecuali timbul kerutan di buah itu.

Daunnya pun bisa dikonsumsi. Salah satu caranya, menjemurnya untuk dijadikan teh. Dengan demikian, setiap bagian tanaman tersebut tidak akan terbuang percuma. Sebab, semua bisa dikonsumsi.

Diharapkan, cara merawatnya dilakukan dengan sistem organik. Untuk itu, dia tidak pernah merawat tanaman tersebut dengan pupuk kimia. Sebelum menanam, Yusuf membuat pupuk kompos yang terdiri atas dedauan kering, abu sisa pembakaran sampah, kulit padi (sekam), serta pupuk kandang sebagai media tanam.

Untuk pupuknya, dia biasa menggunakan fermentasi urine kelinci. Jika terserang hama, tanaman disemprot dengan air rendaman tembakau. Jadi, sebelum menanam, Yusuf selalu menyiapkan bahan-bahan itu. ”Banyak warga yang telah manfaatkannya karena sering disebut buah surga. Jadi, membuat saya kewalahan melayani setiap permintaan,” ungkap pemuda 23 tahun tersebut. (jaz/rka/c25/end)