BUMN Bantu Mantan Atlet Aceh

BUMN Bantu Mantan Atlet Aceh bersama pengurus Koni Aceh/Ra/Imran Joni

Banda Aceh (RA) –  Lima atlet Aceh yang berprestasi nasional mendapat pelatihan kewirausahaan sekaligus bantuan modal usaha dari tiga BUMN masing-masing, PT Pos Indonesia, PTPN1 dan PT Inalum.

Bantuan BUMN ini diberi nama ‘hadir untuk negeri’, kata Koordinator atlet mewakili PT Inalum, Nando usai pertemuan di gedung KONI Aceh, Kamis (30/3).

‘Kita merasa perlu memperhatikan mantan atlet yang sudah berprestasi khususnya yang tidak punya pekerjaan tetap’, ujarnya.

Untuk bantuan ini, kata Nando  pihaknya telah melakukan verifikasi data terhadap 15 mantan atlet sebagaimana usulan KONI Aceh dan akhirnya ditetapkan 5 orang yang memang layak dibantu. Mereka ini nantinya terus dipantau pembinaan selama enam bulan.

‘Kita harapkan dengan diberikan bantuan dana ini paling tidak dapat meringankan sedikit biaya hidup keluarga’, sebut Nando.

Program lain diantaranya jalan santai, membangun rumah veteran dan anak berprestasi ke Lombok, NTB dalam rangka pengenalan negeri nusantara.

Berharap PNS

Ketua KONI Aceh diwakili Wakil Ketua Rayuan Sukma mengatakan, pada umumnya atlet daerah berprestasi menggantungkan harapan menjadi PNS. Namun formasi yang sangat terbatas justru peluang sangat kecil.

Kenapa demikian, kata Rayuan
mereka berharap diangkat sebagai PNS sebagai penunjang hidup mantan atlet. Sebab, masa depan atlet suram, dimana setelah tidak lagi berprestasi justru tertinggal atau dilupakan.

Dulu ada program Menpora, ketika Adiyaksa Dault memperhatikan mantan atlet menjadi PNS. Kemudian ada program lain yakni memberi biaya hidup bagi peraih medali emas dengan dana Rp 1 – 2 milyar.

M Jam Harun (Silat), Irvan Kusnandar (angkat besi), Syahrial (atletik), Haspriadi (kempo), Tajuddin (anggar).

Mereka ini merupakan pejuang Aceh yang telah membawa nama daerah di kancah nasional.

Sedangkan Eriadi (Agam) meminta tidak hanya atlet yang dibantu tetapi pelatih juga kalau bisa diikutkan dalam program kewirausahaan ini. Karena atlet yang lahirkan adalah pelatih.

Sampai saat ini masih ada pelatih yang ‘mocok-mocok’ sehingga kehidupan sangat sedih kurang perhatian dari pemerintah. ‘Kami yang bina atlet sampai jadi maka tak ada salahnya kalau kita menyarankan pelatih juga diperhatikan’, kata Ketua IPO Aceh itu. (imj)