Kaji Ulang Saham Persiraja

Rakyat Aceh

Harianrakyataceh.com – Kabar tentang penjualan saham Persiraja Banda Aceh sebesar 80% kepada salah satu pengusaha lokal, menghangatkan publik sepak bola Aceh. Sejumlah kalangan menilai, penjualan kepada satu pihak dapat menghilangkan aset Kota Banda Aceh.

Selain itu, banyak peminat lain belum mengajukan tawarannya kepada tim formatur karena Persiraja belum dibentuk Perseroan Terbatas (PT). Sebagaimana diketahui, satu lembar saham Persiraja dilepas Rp250 ribu. Sementara bagi pihak yang berminat untuk memilikinya, harus membeli 1.000 lembar; Rp250.000.000.

Seorang pecinta sepak bola di Banda Aceh, Teuku Mufri pada Rakyat Aceh kemarin menyampaikan kekhawatirannya dengan nasib klub berjuluk Laskar Rencong itu. Menurutnya, saham Persiraja boleh dijual, tapi 49% saja, selebihnya milik pemerintah kota bersama masyarakat.

“Saham yang dijual 80% untuk Dek Gam, tidak ada jaminan Persiraja akan sukses. Sebaiknya, saham yang dijual itu 49% saja. Selebihnya, 51% milik pemko,” kata Mufri. “Sesuai janji pak Amin (ketua tim formatur dan walikota terpilih) dalam kampanyenya, beliau akan mengurusi Persiraja, bukan menjual,” tambahnya.

Mufri menilai, bila pengurus beralasan tidak punya dana untuk mengurus Persiraja. Angka 49% disebutnya sudah cukup untuk mengikuti kompetisi. Karena dana dari 49% saham itu, nyaris mencapai angka 2 miliar. “Selanjutnya untuk memenuhi kekurangan, itu tugas pengurus melobi sponsor.”

Sejumlah pecinta Persiraja, buka suara dan menyayangkan bila ke depan Persiraja yang sahamnya tidak lagi dipegang oleh Pemko akan mudah berpindah home base dan tidak lagi bermarkas di Banda Aceh. Dan kemungkinan terburuk lainnya adalah bisa dijual kepada pihak lain, bila pemegang saat ini tidak punya biaya lagi untuk mengurus tim.

“Minat pendukung yang mengerti tata kelola klub profesional pada tim juga bisa hilang. Contohnya klub Asahan yang dibeli pihak lain dan kini berganti nama jadi Kepri FC,” tandasnya.

Diketahui, dari yang sudah ditawarkan pada publik, untuk saham pengendali, pemilik modal hanya boleh membeli 51 persen. Dengan kata lain pemilik saham mayoritas harus memiliki 12.750 lembar saham atau setara Rp3.187.500.000.

Pemerhati sepak bola, Edi Darman, mengaku wajar bila saham Persiraja tidak ada peminat. Menurutnya, seharusnya harus ada duek pakat pengurus dan klub terlebih dahulu, serta tokoh, pemerhati, pengusaha, hingga suporter untuk membentuk PT.

“Setelah PT terbentuk, maka serahkan ke PT atau badan usaha yang mengelola Persiraja untuk membentuk tim. Dari memilih manajer, pelatih hingga pemain dan siapa yang ditunjuk sebagai panitia penyelenggara pertandingan,” kata Edi.

Edi menyarankan, formatur untuk membentuk badan usaha dulu. “Bentuk badan usaha dulu dong, baru tawarkan saham. Kalau seperti ini tidak jelas, terkesan pengurus tak ada niat,” tambahnya. Beberapa hari sebelum Dek Gam (Nazaruddin), ingin membeli 80% saham Persiraja, eks bendahara dan manager Persiraja musim lalu, T. Nurmiadi Boy juga sempat mengungkapkan minatnya untuk memiliki 90% saham.

SKULL Minta Formatur Transparan

Suporter setia Persiraja Banda Aceh, SKULL memiliki pandangan tersendiri terhadap masa depan Persiraja. Ketua Suporter Kutaraja Untuk Lantak Laju (SKULL), T Iqbal Djohan yang dihubungi Rakyat Aceh kemarin, berharap tim formatur lebih transparan dalam hal penjualan saham.

Iqbal menyebut, Persiraja sebagai tim yang memiliki sejarah panjang, membuat semua orang ingin memiliki tim ini. Meski tidak dengan nominal yang besar, ia berharap tim formatur membuka peluang bagi siapa saja yang ingin memiliki. “Saat ini, sosialisasinya sangat kurang, bagaimana prosedur penjualan saham juga tidak pernah secara jelas disampaikan ke publik,” kata Iqbal, Ahad (9/4).

Tim formatur yang terkesan ekslusif membuat masyarakat tidak paham tentang penjualan saham. “Waktu yang diberikan juga sangat mepet untuk masyarakat berpikir. Apalagi di media juga tidak dijelaskan bagaimana prosedurnya,” kata Iqbal. Menurutnya, akan lebih baik bila saham Persiraja dipegang oleh beberapa pihak dengan pembagian 30%. Karena, pihaknya khawatir jika hanya satu orang pemegang saham, akan mengakibatkan hal yang tak diinginkan kemudian hari.

Dirinya mencontohkan beberapa tim luar Aceh yang dengan mudah berganti pemilik dalam waktu singkat karena pemilik lama rugi dalam memegang tim dan klub dijual keluar daerah untuk mendapat keuntungan. “Ini yang tidak kita inginkan terjadi di klub kebanggaan kita, apalagi kalau Persiraja berganti nama dan berpindah home base,” tandasnya.

Iqbal menyarankan, agar siapapun pemegang saham Persiraja nantinya agar oleh formatur membuatkan klausul dan syaratnya agar nama Persiraja tak diganti dan tidak boleh menjual Persiraja keluar Aceh. “Termasuk gaji pemain juga dibayarkan, agar tidak menjadi masalah ke depan,” pungkasnya.

Persiraja Aset Warga

Sementara itu, manager tim Persiraja Banda Aceh, Zaini Yusuf mengatakan bahwa pembentukan PT bukanlah sesuatu yang urgent. Namun kalau pun tetap didirikan, maka Pemko harus mengambil bagian dengan membeli 51% saham.

“Sisanya dilepas kepada klub-klub yang bernaung di bawah Persiraja dan masyarakat Kota Banda Aceh. Ini perlu dilakukan Pemko karena Persiraja aset warga Kota Banda Aceh, agar tetap terjaga keberadaannya di Kota Banda Aceh,” kata Zaini Yusuf.

Terkait pembahasan saham yang mulai hangat didiskusikan masyarakat saat ini, Zaini Yusuf sebagai manager yang ditunjuk oleh tim formatur sudah menginstruksikan kepada tim pelatih dan pemain untuk tidak terpengaruh dengan proses penjualan saham Persiraja.

“Bahwa akan terjadi perubahan manajemen setelah pemilik klub diserahkan kepada pembeli saham. Saya sendiri juga belum tentu dipercayakan untuk menjabat posisi manager. Semua tergantung keijakan pemilik Persiraja nantinya,” jelasnya.

Zaini membenarkan bahwa tidak ada akibat buruk terhadap pemain. Walaupun kontrak pemain tertunda akibat belum jelasnya pendirian PT atau kembali ke kepengurusan. (rif)