Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

INTERNASIONAL · 13 Apr 2017 11:40 WIB ·

Putin Menolak Menuruti Amerika Rusia Undang Syria dan Iran


 KUKUH: Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum jumpa pers bersama Presiden Italia Sergio Mattarella di Moskow, Rusia, Selasa (11/4). (REUTERS/Sergei Chirikov/Pool) Perbesar

KUKUH: Presiden Rusia Vladimir Putin sebelum jumpa pers bersama Presiden Italia Sergio Mattarella di Moskow, Rusia, Selasa (11/4). (REUTERS/Sergei Chirikov/Pool)

Harianrakyataceh.com  – Rusia tidak akan begitu saja menuruti Amerika Serikat (AS) dan negara-negara barat lainnya untuk menghentikan dukungan ke Syria. Alih-alih mengiyakan, Kremlin malah mengundang Menteri Luar Negeri Syria Walid Al Moualem. Dia berada di Moskow mulai hari ini hingga Sabtu (15/4). Rusia juga mengundang sekutu Syria lainnya, yaitu Iran.

’Pembicaraan tiga arah antara menteri luar negeri Rusia, Iran, dan Syria berlangsung pada 14 April di Moskow,’’ ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova kemarin (12/4). Kremlin menegaskan, jika mereka berhenti mendukung Presiden Syria Bashar Al Assad, hal itu sama saja dengan membuat para teroris bebas.

Mereka juga menuding negara-negara barat saat ini bersatu untuk menghancurkan kemajuan pembicaraan damai yang diprakarsai Rusia dan Turki. Dalam pembicaraan damai tersebut, AS tak dilibatkan. Pembicaraan damai itu berbeda dengan yang digagas PBB. Rusia dan Turki melibatkan seluruh faksi oposisi bersenjata, tidak hanya diwakili pihak tertentu seperti pembicaraan serupa yang diprakarsai PBB.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga buka suara. Menurut dia, hubungan dengan Paman Sam mengalami kemunduran sejak masa kepemimpinan Donald Trump. ’’Bisa dibilang level kepercayaan pada urusan kerja sama, khususnya di bidang militer, tidak meningkat, tapi malah memburuk,’’ bunyi transkrip wawancara Putin dengan televisi Mir yang dirilis Kremlin. Itu adalah kali pertama Putin bicara. Sebelumnya, hanya juru bicaranya yang berkomentar.

Pemimpin 64 tahun tersebut menuding pihak-pihak yang menentang Assad sengaja membuat serangan senjata kimia di Kota Khan Sheikhun dan menyalahkan Damaskus. Tujuannya, menarik AS lebih dalam ke konflik yang sudah berjalan selama tujuh tahun itu. ’’Mana buktinya jika pasukan Syria menggunakan senjata kimia? Tidak ada,’’ tegasnya.

Di waktu yang hampir bersamaan dengan keluarnya pernyataan Putin tersebut, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bertemu. Mereka membahas serangan senjata kimia dan misil AS di Syria. Tillerson menyatakan, dirinya ingin pembicaraan berlangsung sangat terbuka, jujur, dan terang-terangan.

Di lain pihak, Lavrov menegaskan, dirinya berharap bisa memahami tujuan Washington yang sebenarnya selama kunjungannya. Dia menambahkan, pertemuan itu sangat penting untuk mencegah serangan melanggar hukum yang dilakukan AS ke Syria. ’’Saya tidak akan menyembunyikan fakta bahwa kami memiliki banyak pertanyaan,’’ ujar Lavrov.

Hingga berita ini diturunkan, pembicaraan masih berlangsung. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menjelaskan, Tillerson mungkin diundang untuk bertemu Putin setelah melakukan pembahasan dengan Lavrov.

Secara terpisah, Menteri Pertahanan AS James Mattis menuturkan, Washington tidak memiliki keraguan sama sekali jika Assad adalah dalang di balik serangan senjata kimia yang merenggut 86 nyawa tersebut. Dia menambahkan, pasukan Rusia seharusnya sudah tahu tentang serangan itu. ’’Jika menggunakan senjata kimia lagi, mereka akan membayar sangat mahal,’’ tegasnya kepada para jurnalis.

Sementara itu, Dewan Keamanan (DK) PBB berencana melakukan pengambilan suara untuk menentukan resolusi bagi Syria. Tujuannya, mengajak pemerintah Syria bekerja sama menyelidiki serangan senjata kimia di Khan Seikhun. Namun, beberapa diplomat yakin Rusia bakal memveto resolusi tersebut. Negeri Beruang Merah itu selalu menggunakan hak vetonya untuk melindungi sekutu-sekutunya.(Reuters/AFP/sha/c22/any)

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Danrem Lilawangsa Intruksikan Kodim Aceh Utara Bangun Dapur Umum 

20 July 2024 - 20:30 WIB

Wakaf Uang Sumber Dana yang Stabil

20 July 2024 - 19:05 WIB

Waqeefa Menyuplai Air Bersih Gelombang Kedua 169.000 Liter di Kecamatan Lhoknga

20 July 2024 - 14:31 WIB

Kapolda Aceh Launching Layanan Penerbitan SIM C1 di Satpas Prototype Polres Pidie Jaya

20 July 2024 - 09:54 WIB

Said Mulyadi Terima SK Sebagai Cabup Dari NasDem

20 July 2024 - 06:08 WIB

Tiga Pelaku Perdagangan Satwa Dilindungi Ditangkap

19 July 2024 - 21:34 WIB

Trending di UTAMA