Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

INTERNASIONAL · 25 Apr 2017 07:52 WIB ·

Satukan Barisan demi Menjegal Donald Trump-nya Prancis


 Kandidat Presiden Prancis Marine Le Pen. Foto: CNN Perbesar

Kandidat Presiden Prancis Marine Le Pen. Foto: CNN

Harianrakyataceh.com – Prediksi berbagai lembaga survei menjadi kenyataan. Kandidat presiden Prancis Emmanuel Macron dan Marine Le Pen masuk ke putaran kedua.

Macron, kandidat presiden termuda, memperoleh 23,86 persen suara, sedangkan pemimpin Partai National Front (FN) Le Pen mendapat 21,43 persen suara.

Mereka akan bertarung lagi untuk menjadi presiden ke-25 Prancis pada 7 Mei mendatang.

Kemenangan Macron dan Le Pen menjadi pukulan telak bagi kelompok centre-right dan centre-left yang selama 60 tahun mendominasi politik di Prancis. Salah satu kelompok centre-left adalah partai Socialist dan Republican kelompok centre-right.

’’Dalam waktu setahun kita telah mengubah wajah politik Prancis,’’ ujar Macron dalam pidato kemenangannya kemarin. Partai En Marche yang didirikan memang baru berusia setahun.

’’Tantangannya mengubah seluruh sistem yang tidak mampu memberikan solusi untuk masalah di negara kita selama lebih dari 30 tahun,’’ tambahnya.

Macron lebih difavoritkan dibandingkan Le Pen. Beberapa kandidat yang kalah langsung menyerukan dukungannya untuk Macron.

Dua di antaranya kandidat presiden dari partai Socialist, yaitu Benoit Hamon, dan Francois Fillon dari partai Republican.

Hamon yang hanya mendapatkan 6,35 persen suara meminta para pendukungnya untuk sebisanya menghalangi kemenangan Le Pen pada putaran kedua.

Hal senada diungkapkan Fillon. ’’Tidak ada pilihan lain selain memberikan suara untuk menentang kandidat ultranasionalis. Saya akan memilih Emmanuel Macron,’’ tegas Fillon sekitar 40 menit setelah pengumuman hasil pilpres putaran pertama. Dia hanya mendapat 19,9 persen suara.

Mantan Perdana Menteri (PM) dari partai Socialist Manuel Valls pun ikut mendukung Macron. ’’Kita harus membantunya semaksimal mungkin untuk memastikan Le Pen mendapat dukungan serendah mungkin,’’ ujarnya pada radio France Inter.

Hasil survei berbagai lembaga polling juga menunjukkan bahwa yang bakal menang adalah Macron. Mantan menteri perekonomian tersebut bakal mengalahkan Le Pen dengan perolehan suara sekitar 20 persen lebih tinggi.

Jika benar itu terjadi, Macron bakal menjadi presiden termuda di Prancis. Usianya baru 39 tahun. Politikus yang melabeli dirinya sendiri sebagai orang luar di dunia perpolitikan itu menjanjikan banyak perubahan untuk Prancis.

Negara-negara Uni Eropa (UE) juga berharap Macron menang. Sebab, suami Brigitte itu pro terhadap UE. Menurut Macron, menjadi anggota UE adalah zona nyaman bagi perekonomian Prancis. Jika terpilih nanti, mantan banker itu malah mempererat hubungan dengan UE.

Sementara itu, Le Pen justru berseberangan dengan Macron. Politikus yang lahir pada 5 Agustus 1968 tersebut anti-UE. Jika menang nanti, Le Pen malah berjanji menggelar referendum France Exit (Frexit) pada tahun pertama kepemimpinannya.

Dia juga menjanjikan penanganan yang lebih serius terhadap masalah terorisme, penjagaan perbatasan, dan berbagai kebijakan lainnya yang menyerupai pernyataan-pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump saat kampanye pilpres tahun lalu. Karena itu, dia dijuluki Donald Trump-nya Prancis.

Isu-isu terorisme menjadi ’’jualan’’ Le Pen untuk mendongkrak dukungan. Termasuk serangan terhadap mobil polisi di Champs Elysees Kamis (20/4) yang merenggut satu nyawa petugas.

Serangan tersebut terjadi tiga hari sebelum pemungutan suara. Le Pen menjadikan serangan itu sebagai contoh bahwa kebijakan yang dikampanyekan soal imigrasi dan Islam benar-benar perlu diterapkan.

Pakar ultranasionalis dari Science Po University Nonna Mayer mengungkapkan bahwa kemenangan Le Pen bukan sesuatu yang tidak mungkin.

Meski begitu, peluangnya untuk meraup suara lebih besar dibandingkan Macron pada putaran kedua nanti sangat kecil.

’’Jika dia menang, tentu saja itu bakal menjadi kemenangan kelompok yang anti-Eropa, proteksionis, eksklusif, dan itu bakal menimbulkan konsekuensi yang mengganggu hubungan Eropa dan Prancis,’’ tegas Mayer.

Kemenangan Le Pen pada putaran pertama ditanggapi dengan panas oleh Daniel Delomez, wali kota Annezin, commune (setara county) Pas-de-Calais.

Dia menyebut hasil pemungutan suara di Pas-de-Calais adalah bencana. Sebab, Le Pen mendapatkan 38 persen suara. Delomez yang berasal dari partai Socialist mengancam mengundurkan diri.

’’Mungkin saya akan mundur karena saya tidak ingin mengabdikan hidup saya pada seorang bajingan,’’ ucap wali kota yang menjabat sejak 2008 itu saat diwawancarai media lokal L’Avenir de l’Artois.

Pernyataan Delomez tersebut diunggah di akun Twitter L’Avenir de l’Artois. Dalam kurun waktu 24 jam, kalimat Delomez sudah di-retweeted 7.500 kali dan disukai 6.100 kali. (Reuters/AFP/RT/sha/c15/any)

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Bukan Cuma Gula! Kelebihan Garam Juga Mengakibakan 6 Risiko Kesehatan hingga Fatal

21 July 2024 - 14:59 WIB

Israel Serang Yaman Lewat Udara 2 Tewas dan 80 Terluka

21 July 2024 - 14:50 WIB

Danrem Lilawangsa Intruksikan Kodim Aceh Utara Bangun Dapur Umum 

20 July 2024 - 20:30 WIB

Wakaf Uang Sumber Dana yang Stabil

20 July 2024 - 19:05 WIB

Waqeefa Menyuplai Air Bersih Gelombang Kedua 169.000 Liter di Kecamatan Lhoknga

20 July 2024 - 14:31 WIB

Kapolda Aceh Launching Layanan Penerbitan SIM C1 di Satpas Prototype Polres Pidie Jaya

20 July 2024 - 09:54 WIB

Trending di UTAMA