Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

METROPOLIS · 4 May 2017 04:27 WIB ·

Korban Tsunami Minta Suntik Mati


 SUNTUK MATI: Ratna Wati (kanan), istri permohon hukuman suntik mati didampingi kuasa hukum saat mengajukan permohonan di PN Banda Aceh, Rabu (3/5).
HENDRI/RAKYAT ACEH Perbesar

SUNTUK MATI: Ratna Wati (kanan), istri permohon hukuman suntik mati didampingi kuasa hukum saat mengajukan permohonan di PN Banda Aceh, Rabu (3/5). HENDRI/RAKYAT ACEH

BANDA ACEH (RA) –Tak miliki tempat tinggal lagi setelah barak pengungsi di Bakoy, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar dirobohkan, Berlin Silalahi (46) korban pengusuran mengajukan permohonan hukuman euthanasia (suntik mati). Permohonan itu disampaikan Ratna Wati, istri pemohon ke Pengadilan Negeri (PN) Banda Aceh dengan didampingi Kuasa Hukumnya, Safaruddin yang juga ketua Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA).

Ratna Wati mengatakan ia mengajukan permohonan itu atas permintaan dari suaminya, karena saat ini menderita berbagai penyakit kronis. Selain itu, tidak memiliki biaya untuk berobat dan tidak tahu tinggal dimana.

“Kami tidak tahu lagi tinggal dimana, lalu suami saya sakit, makanya mengajukan permohonan ini,” sebutnya, Rabu (3/5).
Ia mengaku iklas atas kepergian suamianya bila PN memutuskan suntik mati terhadap suaminya.

“Suami saya sudah mengalami penyakit sejak tahun 2013, pertama menderita penyakit asam urat, lalu dibawa ke rumah sakit Meuraxa, rumah sakit Zainoel Abidin, bahkan ke pengobatan kampung juga belum ada perubahan. Saat ini kami tak ada lagi tempat tinggal makanya putuskan untuk ajukan permohonan ini,” katanya.

Saat barak belum digusur, suaminya hanya terbaring dalam hunian sementara tersebut. Ia juga mengaku keputusan memohon suntik mati merupakan niat sendiri.
Sementara Safaruddin, menyebutkan pihaknya akan menjelaskan semua yang dialami kliennya di pengadilan. “Kita tunggu di persidangan di sana kita akan paparkan semua persoalan yang dihadapi, hingga ia mengajukan permohonan ini,” sebutnya.
Sementara Humas PN Banda Aceh,Eddy SH mengatakan di Indonesia tidak dikenal dengan euthanasia. Pihaknya hanya dapat menerima permohonan, sementara keputusannya ada di hakim.
“Silahkan ajukan, atas dasar hukum kami tidak boleh tolak. Nanti kita proses kalau sudah ada dasarnya. Tapi yang pasti euthanasia tidak ada dalam hukum positif Indonesia, itu yang ada di Belanda,” sebutnya. (ibi/mai)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Yayasan Pendidikan Hafizh Cendekia Luluskan 19 Santri Penghafal Al-Quran dengan Satu Orang Hafizh

13 June 2024 - 23:20 WIB

Dua Pekerja Asal Aceh Dipulangkan dari Malaysia Karena Sakit, Haji Uma Turut Bantu Biaya

13 June 2024 - 22:23 WIB

Dr. Muslem MA Bahas Toleransi Beragama di Aceh dalam Forum Diskusi CSCR UIN Jakarta

13 June 2024 - 22:13 WIB

Perjuangan Ayat Suci Mengikuti Tes Tamtama Polri Memakai Sepatu Koyak

13 June 2024 - 19:33 WIB

Cair, Gaji ke-13 dan Tunjangan Tambahan Penghasilan Pegawai ASN Aceh Besar

13 June 2024 - 14:56 WIB

Alhamdulillah, Guru Aceh Besar Terima Sertifikasi dan Honor Jelang Idul Adha

13 June 2024 - 13:11 WIB

Trending di METROPOLIS