Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

INTERNASIONAL · 5 May 2017 10:40 WIB ·

Kami Menuntut Facebook, Google, dan Twitter!


 MILITAN: Tashfeen Malik dan Syed Farook. (UTERS/US Customs and Border Protection/Handout/File Photo via REUTERS) Perbesar

MILITAN: Tashfeen Malik dan Syed Farook. (UTERS/US Customs and Border Protection/Handout/File Photo via REUTERS)

Harianrakyataceh.com – Para anggota dari tiga korban penembakkan di San Bernardino, California, Desember 2015 menuntut Facebook, Google, dan Twitter. Mereka mengklaim, ketiga perusahaan itu sudah mengizinkan ISIS untuk berkembang pesat di media sosial.

”Selama bertahun-tahun, para tersangka sudah mengetahui dan secara gegabah menyediakan akun untuk grup teror ISIS di media sosial sebagai alat menyebarkan propaganda ekstrimis, menggalang dana, dan menarik anggota baru,” kata juru bicara dari Sierra Clayborn, Tin Nguyen, dan Nicholas Thalasinos dalam tuntutan sebanyak 32 halaman.

”Tanpa akun Twitter, Facebook, dan Google YouTube, perkembangan ISIS selama beberapa tahun terakhir menjadi grup teror paling menakutkan di dunia tidak akan terjadi,” sambung mereka dalam tuntutan yang dilayangkan di Pengadilan Distrik Los Angeles, AS, Jumat (5/5).

Juru bicara Twitter dan Google belum memberikan pernyataannya atas tuntutan hukum ini. Sementara perwakilan Fecebook belum bisa dimintai keterangan.

Penembakan di San Bernardino melibatkan Syed Rizwan Farook dan Tashfeen Malik. Suami istri itu menembaki gathering liburan teman-teman Farook di gedung pemerintahan di San Bernardino pada 2 Desember 2015. Dalam insiden itu, 14 orang tewas dan 22 lainnya terluka.

Farook, lelaki berusia 28 tahun kelahiran AS dari imigran Pakistan dan Malik, 29, warga asli Pakistan juga tewas setelah ditembak mati polisi usai pembunuhan itu.

Otoritas menyebutkan kalau pasangan itu terinspirasi militan Islam. Dan kejadian mematikan tersebut dinobatkan sebagai serangan mematikan oleh Islam radikal di tanah AS sejak serangan 11 September 2001.

Pada Juni 2016, serangan serupa yang dilakukan warga kelahiran AS mematikan 49 orang di salah satu klub malam di Orlando, Florida. Pelaku kemudian ditembak juga oleh polisi. Pada Desember 2016, keluarga dari tiga orang yang terbunuh di klub malam itu juga menuntut Twitter, Google, dan Facebook. (reuters/tia)

Artikel ini telah dibaca 2 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Kadisdik Tekankan Pesan Mulia Himne Aceh pada Pembukaan Rakor DAK Fisik SMA dan SLB

22 June 2024 - 14:13 WIB

7 Jemaah Haji Asal Provinsi Aceh Meninggal Dunia di Arab Saudi

21 June 2024 - 15:19 WIB

Lionel Messi Pecahkan Rekor Penampilan Terbanyak pada Ajang Copa America

21 June 2024 - 15:11 WIB

Jadi Perampok, Tiga Oknum Personel Polrestabes Medan Buron, 12 Langgar Kode Etik

20 June 2024 - 15:01 WIB

80 Ribu Anak-anak Di Bawah Usia 10 Tahun Tercatat Memainkan Judi Online

20 June 2024 - 14:58 WIB

Beneran Nih??? 15 Oknum Anggota Polrestabes Medan Jadi Buron Kasus Perampokan

19 June 2024 - 15:48 WIB

Trending di UTAMA