Harapan Aliya dan Najwa di Ruang Baca Anak

Itu foto Najwa Putri Azzahra (kiri) dan Nur Aliya (kanan) Memamerkan buku bacaan yg akan mereka baca, di Ruang Anak, Perpustakaan Wilayah Aceh.Rabu (10/5). Dhesy Badrina /RAKYAT ACEH

Pagi itu dengan menumpang Transkuta Raja, Najwa Putri Azzahra dan Nur Aliya berhenti di halte Lamnyong, Banda Aceh. Keduanya masih mengenakan seragam sekolah batik dongker lengkap dengan perlengkapan sekolah.Tujuan dua perempuan usia 11 tahun itu, Ruang Baca Anak, Pustaka Wilayah Aceh.

Laporan: Desi Badrina-Banda Aceh

Biasanya, anak seumuran mereka, berkunjung ke Pustaka Wilayah bila ada event tertentu yang diselenggarakan Perpustakaan Aceh. Namun ternyata, keduanya sering mengunjungi Ruang Baca Anak tersebut, minimal satu bulan sekali.

Ini kunjungan pertama Najwa dan Aliya di bulan Mei. Kunjungan pada pukul 09.10 WIB, Rabu lalu, bentuk refresing dua sahabat kecil itu, usai mengikuti Ujian Sekolah SD/MI sederajat, sekota Banda Aceh. Mereka berdua yang bersekolah di MIN Rukoh, Darussalam, sengaja menyempatkan ke Perpustakaan Aceh, sebab sudah tak banyak lagi waktu yang bisa mereka habis bersama, setelah Ujian Nasional yang akan berlangsung, Senin 15 Mei mendatang.

“Nanti aku akan melanjutkan sekolah ke Samalanga,” ujar Aliya disela kegiatannya membaca buku cerita bergambar di Ruang Baca Anak. Saat itu, hanya mereka berdua anak usia SD yang mengunjungi tempat itu.

Sempat seorang gadis kecil menegur Aliya dan Najwa saat masuk ke ruangan khusus anak tersebut. Dua sejoli itu diprotes, sebab dianggap bukan anak-anak lagi. Namun keduanya tidak peduli. Mereka seolah tidak mendengar sapaan bernada protes itu. Mereka mengangga, ruang yang memiliki lima rak buku ukuran lima meter yang berisi penuh buku cerita bergambar bisa dinikmati siapapun.

Aliya yang hobi membaca dan menulis ternyata sering mengajak serta teman-teman sekelasnya lain. Akan tetapi, hanya Najwa yang cukup berani mengunjungi Perpustakaan Aceh bersamanya.

“Biasanya, setelah membaca, kami singgah ke KFC di sebelah, untuk beli burger,” kata Aliya yang lebih sering membuka-buka Atlas jika berada di ruang anak itu. Alasannya, ia ingin tahu tentang dunia.

Selain kebersamaan yang coba dijalin kedua sahabat itu, motivasi lainnya datang datang dari dari Najwa. Meski ia hobi menggambar dan berenang, ternyata gadis kelahiran Maret 2005 silam ternyata ingin menjadi seorang penulis.

“Aku suka baca novel dan majalah Bobo. Aku sudah punya beberapa halaman tulisan di rumah. Dan aku mau buat buku cerita,” akunya malu-malu. Hampir semua buku cerita di perpustakaan sekolahnya sudah di lahap Najwa. Namun itu semua belum cukup. Sebab, enam tahun bersekolah di sana, koleksi perpustakaan sekolah itu, rasanya tidak pernah bertambah koleksi buku cerita.

Najwa dan Aliya berharap, teman-temanya tetap dapat menikmati buku walaupun tak sempat berkunjung ke ruang baca anak itu. “Karena membaca bisa menambah wawasan, dan semoga mereka ada belajar di rumah,” kata Najwa.

Selain suka membaca, ternyata dua sahabat itu juga memiliki dua kesamaan. Mereka sama-sama anak ke dua dari dua bersaudara. Meski hanya bisa bermain dan belajar di sekolah, sebab alamat rumah yang tidak berdekatan, namun kesempatan sebelum pulang ke rumah setelah jam belajar berakhir selalu mereka manfaatkan.
“Kami cuma bertemu di sekolah. Jadi, pas pergi kemari saja kami yang jalurnya sama, nanti waktu pulang, aku balik ke rukoh, dan Aliya pulang ke Beurawe,” jelas anak dari pasangan Rahmad Sahputra dan Radiani itu.

Membaca di Pustaka Wilayah Aceh, bagi dua calon remaja itu ibarat refresing sebelum menghadapi UN. Minat membaca membuat mereka bisa menjalin pertemanan hingga menjelang akhir sekolah. Harapan yang mereka ucapkan sebelum berpisah, semoga tiap kali liburan nanti, masih bisa membaca bersama mungkin bukan di ruang anak lagi, tapi di ruang remaja gedung Perpustakaan Wilayah Aceh.