Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

NASIONAL · 15 May 2017 07:26 WIB ·

Kepala BIN Bocorkan Asal Muasal Menyebarnya Virus Ransomware


 ilustrasi Perbesar

ilustrasi

Harianrakyataceh.com – Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan mengimbau seluruh instansi publik strategis meningkatkan kemampuan sistem pengamanan informasi, menyusul ancaman virus komputer jenis ransomware bernama Wanna Decryptor atau Wanna Cry.

“Serangan seperti itu merupakan bentuk ancaman baru berupa proxy war dan cyber war yang digunakan oleh berbagai pihak untuk melemahkan suatu negara,” tegas pria yang kerap disapa BG dalam keterangannya yang diterima JawaPos.com, Senin (15/5).

Untuk itu, dia meminta, negara dan seluruh instansi terkait pengamanan informasi, harus mulai merubah paradigma sistem pengamanan informasi. Yakni, dari pengamanan informasi  konvensional seperti Firewall dan Antivirus, menjadi ke arah sistem pengamanan terintegrasi.

Sebab, pengamanan jenis ini memiliki kemampuan deteksi serangan secara dini (intelligence system) ke seluruh komponen sistem informasi yang digunakan.

Namun tak kalah penting katanya, koordinasi dan konsolidasi harus dilakukan diantara instansi-instansi yang bergerak di bidang intelijen dan pengamanan informasi. “Mutlak dilakukan. Hal ini untuk mempercepat proses mitigasi jika terjadi serangan secara masif,” ujar BG.

Sehingga, lanjut dia, jika terjadi serangan cyber pada suatu instansi, maka dengan adanya konsolidasi, koordinasi dan pertukaran cyber intelligence, instansi lain yang belum terkena serangan dapat segera menentukan mitigasi dan tindakan preventif sebelum terjadi serangan.

BG menjelaskan, serangan terhadap sistem informasi intansi publik itu berawal dari bocornya tool yang digunakan oleh National Security Agency (NSA). Yaitu sebuah kode pemrograman (exploit) yang memanfaatkan kelemahan sistem dari Microsoft Windows.

Exploit itu digunakan sebagai suatu metode untuk menyebarkan secara cepat software perusak yang bernama WannaCry ke seluruh dunia. Group hacker yang menyebarkannya adalah Shadow Broker.

Motif serangan berubah dari yang dulunya dilakukan oleh negara dengan tingkat kerahasiaan operasi yang tinggi, menjadi serangan yang dilakukan oleh kelompok dengan motif komersial dan merugikan masyarakat banyak.

Jika dilihat dari exploit yang dibocorkan, kata BG, perlu kewaspadaan pula terhadap exploit lainnya yang digunakan oleh state atau non state hacker untuk melakukan penetrasi ke dalam sistem target yang memiliki kelemahan dan tidak sempat diantisipasi oleh pembuat sistem. (dna/JPG)

Artikel ini telah dibaca 9 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

AMANAH Adakan Carnival dan Kompetisi Model sebagai Wadah Generasi Muda Tampilkan Minat Bakat

21 June 2024 - 17:19 WIB

Kata Kakanwil Meurah Budiman Soal Audiensi Bawaslu dengan Kemenkumham Terkait Pembentukan 5 Panwaslih Kabupaten/Kota Aceh

21 June 2024 - 00:00 WIB

Jadi Perampok, Tiga Oknum Personel Polrestabes Medan Buron, 12 Langgar Kode Etik

20 June 2024 - 15:01 WIB

Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat, AMANAH Serahkan Sapi Kurban hingga Buka Kompetisi Model di Aceh

19 June 2024 - 11:04 WIB

Nikmati Syukur Anugrah Allah, Naik Sepmor Touring Ibadah 10 Ribu Km Aceh, Bali

14 June 2024 - 14:06 WIB

Mopen tabrak truk muatan kayu di Pidie, warga Aceh Barat meninggal dunia

13 June 2024 - 15:00 WIB

Trending di NANGGROE BARAT