Terungkap, Meriam yang Tewaskan 4 Prajurit TNI Buatan Tiongkok, Kondisinya…

MEMATIKAN: Giant Bow tipe 80 seperti inilah yang mengalami insiden di Natuna kemarin. Senjata bikinan Tiongkok ini bisa memuntahkan 2.000 peluru dalam semenit. (Fery Pradolo/JawaPos.com)

JAKARTA (RA) – Senjata jenis meriam milik TNI yang diduga meledak di Tanjung Datuk, Natuna, Kepulauan Riau, Rabu (17/5) pukul 11.00 WIB, disebut-sebut dalam keadaan laik. Insiden tersebut terjadi saat gladi bersih Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC).

Latihan yang seharusnya menjadi tahap akhir persiapan menyambut kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) berakhir tragis. Akibat meriam Giant Bow, senjata untuk menangkal serangan udara, mengalami gangguan.

Moncong meriam dengan peluru kaliber 23 mm itu tiba-tiba berubah arah tak terkendali ketika ditembakkan. Akibatnya, 12 prajurit TNI yang sedang mengikuti latihan terkena peluru nyasar. Empat meninggal dunia. Sisanya mendapatkan perawatan intensif karena mengalami luka parah.

Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan, meriam buatan China merek Chang Chong itu masuk ke Indonesia pada 2008. “Jadi kalau disebut usang memang belum lah. Masih laik kalau menurut hemat saya, sangat laik untuk ukuran baru tujuh tahun,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (18/5).

Senjata itu dibeli oleh TNI dan ditempatkan di batalyon artileri pertahanan udara kostrad. “Misal batalyon Arhanud I Kostrad Divisi Infanteri I yang berkedudukan di Tangerang,” tutur pria yang akrab disapa Kang TB itu.

Karena itu, komisi I DPR, katanya, sudah meminta dengan hormat kepada TNI untuk melaporkan hasil investigasi penyebab mengapa meriam tersebut bisa meledak. “Kita akan meminta untuk menjelaskannya di komisi I, kepada TNI khususnya TNI AD. Mengapa sebab sebab itu, nanti hasilnya seperti apa, ya kita lakukan sebuah keputusan yang terbaik,” tutur politikus PDIP itu.

Sebelumnya, Kepala Dinas Penerangan TNI- AD (Kadispenad) Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh menjelaskan, 12 korban peluru nyasar itu berasal dari satuan Batalyon Artileri Pertahanan Udara Ringan 1/Di- visi Infanteri 1 Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Yon Arhanud 1/Divisi Infanteri 1 Kostrad). Insiden terjadi pada pukul 11.21 WIB. Pembatas elevasi moncong meriam tidak berfungsi dengan baik. ”Sehingga tidak dapat dikendalikan dan mengakibatkan empat orang meninggal dunia,” kata Denny kemarin.

Berdasar data yang dihimpun Dispenad, empat prajurit yang gugur adalah Komandan Baterai (Danrai) Kapten Arh Heru Bayu, Pratu Ibnu Hidayat, Pratu Marwan, dan Praka Edy. Keempatnya meninggal dunia setelah dievakuasi dari lokasi kejadian ke RSUD Natuna. ”Delapan prajurit lainnya mengalami luka-luka,” ucapnya.

Denny menjelaskan, delapan prajurit yang terluka dirawat di rumah sakit di Pontianak dan RSUD Natuna. Mereka harus mendapatkan perawatan intensif karena luka yang dialami cukup parah.

Guna menggali data mengenai insiden tersebut, TNI langsung melakukan investigasi. Proses dan tragedi itu, menurut Denny, tidak mengganggu jalannya latihan. Persiapan harus tetap berjalan karena kunjungan Presiden Jokowi bersama Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo tetap seperti jadwal semula, yaitu Jumat hari ini (19/5). ”Latihan puncaknya rencananya dilaksanakan Jumat,” ujar Denny.

Berkaitan dengan kabar meriam Giant Bow mengalami gangguan ketika digunakan dalam latihan menembak sasaran di udara (drone), Denny membantah informasi tersebut. ”Kejadian itu tidak ada kaitannya dengan drone,” tegas dia.

Informasi yang diterima dari lokasi kejadian, meriam tersebut mengalami gangguan ketika digunakan dalam latihan PPRC TNI. Pasukan itu adalah pasukan gabungan dari unsur TNI-AD, AL, serta AU. (byu/syn/arn/c9/ang/jpnn)