Menu

Mode Gelap
Korban Erupsi Gunung Marapi Ditemukan 1,5 Km dari Kawah Cak Imin Resmikan Posko Pemenangan Musannif bin Sanusi (MBS) Perangkat Desa Sekitar Tambang Tantang Asisten Pemerintahan dan Dewan Lihat Objektif Rekrutmen Pekerja PT AMM Golkar Aceh Peringati Maulid Nabi dan Gelar TOT bagi Saksi Pemilu Ratusan Masyarakat Gurah Peukan Bada Juga Rasakan Manfaat Pasar Murah

METROPOLIS · 23 May 2017 10:27 WIB ·

Fauzan Santa: Harusnya Ada Workshop Membaca


 Rakyat Aceh Perbesar

Rakyat Aceh

BANDA ACEH (RA) – Puluhan mahasiswa duduk sambil membaca novel di sebuah warung kopi. Mereka sedang fokus mempraktekkan cara membaca cepat yang diajarkan seorang pemateri dalam Workshop Membaca Efektif. Tak hanya membaca satu buku, mereka juga diajarkan bagaimana cara membaca banyak buku dalam satu waktu.

“Harusnya ada workshop membaca, supaya gerakan membaca tak jadi kepentingan orang yang sekolah saja,” ujar Rektor Sekolah Menulis Dokarim, Fauzan Santa. Angan-angan yang diceritakannya di atas, adalah harapan untuk menciptakan sebuah gerakan literasi untuk generasi muda Aceh.

Ia sering sekali diundang menjadi pemateri pelatihan menulis. Namun tak pernah sekalipun ia diajak berbagi bagaimana cara membaca efektif. “Saya pikir, kurangnya minat baca disebabkan, tak ada yang pernah mengajarkan pada anak muda bagaimana cara membaca yang baik,” kata Fauzan Santa.
“Semua terfokus pada menulis,” katanya seraya melempar pandangan ke arah mahasiswa yang baru saja mendengarkan petuahnya soal menghasilkan tulisan bertema “Yuk, Menulis. Agar Dunia Tahu, Anda Pernah Ada” yang diikuti sekitar 25 peserta dari Dema Fisip UIN Ar-Raniry.

Ia teringat saat masih kuliah, ketika resensi buku menjadi sumber pendataan untuk biaya sekolah. “Dulu saya melakoni penulisan resensi buku. Saya membaca, kemudian menuliskan hasil bacaan saya, lalu mengirimkan ke salah satu surat kabar,” katanya.

Dari koran dia mendapatkan upah menulis resensi. Kemudian kliping koran itu ia kirimkan ke pernerbit. Oleh penerbit pun, ia kembali mendapatkan uang dan banyak buku sebagai hadiah. “Sampai akhirnya buku saya sudah banyak sekali, dan saya berhenti menulis resensi,” katanya tertawa. Terangnya, ia berhenti, karena buku yang dikirimkan penerbit bukan lagi sebagai hadiah, melainkan orderan resensi.

Kini, kata Fauzan, menulis resensi buku hampir tidak ada.peminatnya. Sebab, sudah tak ada lagi yang suka membaca resensi itu. “Tak ada yang mengatur soal adap membaca di sekolah hingga tradisi membaca pun tidak ada. Padahal, pengetahuan itu lahir dari membaca dan banyak mendengarkan. Bukan dari menulis,” ujarnya. Begitulah ia melihat pelatihan menulis yang selama ini digemparkan.

Ia menekankan agar peserta workshop banyak membaca contoh catatan harian sederhana yang menjadi sebuah bacaan sangat fenomenal dan mendunia. “Seperti Diary Of Anne Frank. Itu murni tulisan harian seorang anak SMA yang bersembunyi di atap loteng rumahnya yang bercerita soal perang,” kata Fauzan. Memulai dari buku harian, lanjutnya, juga akan memudahkan para peserta menulis banyak hal.

Ia berharap, peserta seminar memfokuskan diri untuk membaca agar tulisan yang disajikan dapat menjadi umur kedua setelah mereka tiada. “Paling tidak, tulisan kita bisa jadi penggerak sebuah peradaban,” harapnya. (mag-77/rif)

Artikel ini telah dibaca 10 kali

badge-check

Penulis

Comments are closed.

Baca Lainnya

Kakorlantas Survei Pamwal Rolakir PON XXI Aceh-Sumut 2024

18 July 2024 - 23:10 WIB

Abu Athaillah Ulee Titi dan 9 Alumni Terima Anugerah BUDI 1446 Hijriyyah

18 July 2024 - 20:48 WIB

Pengurus PMI Kota Banda Aceh Silaturrahmi dengan Pimpinan FKG USK

18 July 2024 - 20:12 WIB

PB HUDA Keluarkan Rekomendasi, Mengajak Masyarakat Memilih Pemimpin yang Berakhlakuk Karimah

18 July 2024 - 20:02 WIB

Mantapkan Persiapan PON, Abu Razak Temui Kapolda

18 July 2024 - 20:00 WIB

Dilantik sebagai Ketua Umum PB HUDA, Tu Sop : Kita Harus Hadir Memberi Solusi bagi Ummat

18 July 2024 - 19:55 WIB

Trending di UTAMA