SUBULUSSALAM (RA) – Pemerintah Kota Subulussalam melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, revisi pembangunan patung tari dampeng di Ruang Taman Hijau (RTH), Jalan Malikulsaleh, Simpang Kiri.

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Pertamanan, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Atang Sukendra saat ditemui Rakyat Aceh di ruang kerjanya, Senin (29/5).

Atang mengaku belum mengetahui secara pasti bentuk yang akan direvisi, karena gambar terbaru belum diterimanya dan masih dalam proses. Namun, Atang mengatakan revisi tersebut tak jauh beda dengan ukiran ditembok sebelah kanan masuk ke pendopo Walikota yaitu seni lukisan timbul sebelah badan.
“Saya mengetahui adanya revisi pembangunan patung itu dari atasan. Tapi saat ini gambar belum turun karena masih dalam proses, sehingga di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) belum kita tayangkan,“ aku Atang.

Sementara, Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Kota Subulussalam, Ust. Mansyur didampingi Wakil Ketua I Tgk. Maksum Ls mengatakan bahwa seni ukir dan lukis yang tidak berbentuk utuh sempurna menyerupai ciptaan Allah yang bernyawa sebagian ulama masih ikhtilaf ( perbedaan pendapat ).
Artinya, kata Mansyur, sebagian ulama berpendapat bahwa seni lukis dan ukir dengan tujuan pendidikan tidak dipermasalahkan dan sebagian ulama mengatakan hal itu juga termasuk haram.

Pun demikian, sambung Maksum pihaknya terlebih dahulu melihat gambar setelah direvisi dan nantinya akan menyampaikan pandangan secara agama kepada masyarakat “Kita lihat dulu bentuk gambarnya setelah direvisi. Kalau gambar sebelumnya patung utuh secara jelas haram mutlak hukumnya dalam ajaran islam dan hal itu sudah kita sampaikan kepada Walikota melalui tulisan “ kata Mansyur.

Terpisah, Koordinator Gerakan Kawal Fatwa Majelis Permusyawaratan Ulama (GKF – MPU) Aceh Kota Subulussalam Edi Sahputra Bako, S. Sos menilai perubahan grand disain tugu patung menari yang direvisi kebijakan sangat dipaksakan. walaupun dalam fatwa MPU Aceh tidak jelas melarang seni ukir dua dimensi, namun dalam hal ini para ulama masih berbeda pendapat, dan jelas banyak hadist yang melarang tentang gambar dua dimensi tersebut.

“Kami melihat tendensius yang begitu besar Walikota Subulussalam untuk tetap membangun budaya jahiliyah itu, kami masih berharap agar revisinya tetap tidak mendekati hal-hal yang diharamkan dalam agama Islam. Masih ada kok pilihan lain seperti benda budaya Singkil “ kata Edi. (lim/min)